Hari Kebangkitan Ditandai dengan Tentara Menjadi Petani

Hankam318 Views

Jakarta, PBSN – Hari Kebangkitan Nasional tahun ini benar-benar terasa berbeda. Sangat berbeda. Terlalu berbeda malah. Tentara berubah fungsi menjadi petani. Kok, bisa! Simak narasinya.

Biasanya setiap 20 Mei rakyat mendengar pidato penuh semangat tentang persatuan, perjuangan, nasionalisme, dan cita-cita para pendiri bangsa. Lagu perjuangan diputar. Bendera berkibar. Kata “bangkit” diucapkan berkali-kali sampai sound system kecapekan. Tapi tahun ini, kebangkitan nasional terasa naik level. Bangkit bukan lagi sekadar melawan penjajah. Bangkit sekarang berarti, tentara ikut nanam jagung.

Itu bukan lelucon warung kopi

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dengan wajah serius mengumumkan di depan Komisi I DPR bahwa TNI Angkatan Darat ikut fokus mengurus padi dan jagung. Sementara TNI Angkatan Laut kebagian kedelai demi memperkuat ketahanan pangan nasional. Di titik inilah rakyat mulai bingung. Ini rapat pertahanan negara atau briefing kelompok tani se-Kecamatan?

Hari Kebangkitan Nasional mendadak berubah aura. Dulu Bung Tomo teriak “Merdeka atau mati!” Sekarang semangatnya perlahan bergeser jadi “Merdeka atau panen dulu!” Dulu bambu runcing melawan penjajah. Kini cangkul loreng melawan inflasi pangan.

Indonesia memang tidak pernah gagal menciptakan plot twist.

Nuan bayangkan suasananya. Prajurit yang dulu latihan perang di hutan kini mungkin latihan membedakan pupuk organik dan pupuk subsidi. Tank Leopard pelan-pelan terasa lebih cocok parkir di sawah ketimbang di lapangan tempur. Senapan laras panjang mungkin sebentar lagi punya fungsi tambahan untuk ngusir burung pipit. Kalau ada musuh datang menyerang, bisa-bisa mereka disambut tulisan besar di gerbang markas, “Mohon tenang. Prajurit sedang panen raya.”

Yang lebih luar biasa lagi adalah suasana DPR. Biasanya ruang sidang itu ribut seperti pasar cabai menjelang Lebaran. Sedikit-sedikit interupsi. Sedikit-sedikit gebrak meja. Tapi saat mendengar tentara ikut bertani, semua justru tenang. Hening. Damai. Mengangguk perlahan seperti baru mendapat pencerahan dari dewa ketahanan pangan Nusantara.

Mungkin dalam hati mereka berkata, “Tidak apa-apa. Negara lain punya misil hipersonik. Kita punya jagung strategis nasional.”

Pemerintan menjelaskan, TNI tidak menggantikan petani. Katanya membantu membuka lahan tidur, membangun irigasi, menyediakan bibit unggul, dan memperkuat produksi pangan. Secara resmi memang terdengar heroik. Tetapi otak rakyat Indonesia terlalu liar untuk tetap serius.

Kita langsung membayangkan seorang kolonel loreng berdiri di tengah sawah sambil meniup peluit.

“Kompi Padi! Siap tanam!”

“Siap!”

“Gerakan tanam cepat! Yang padinya miring push-up dua puluh kali!”

Petani kampung yang biasanya santai sambil ngopi mendadak hidup dalam nuansa barak militer. Burung pipit dianggap mata-mata asing. Wereng naik status jadi ancaman pertahanan negara.

Lucunya lagi, Indonesia ternyata tidak sendirian. Nigeria punya Nigerian Army Farms. Mesir lebih ganas lagi, militernya mengelola ribuan hektar kebun dan peternakan sampai menopang sebagian besar pangan nasional. China punya sejarah Tuntian sejak ratusan tahun lalu, tentara sambil bertani demi logistik negara. Korea Utara rutin mengerahkan pasukan untuk tanam dan panen karena ancaman kelaparan kronis.

Artinya dunia memang mulai berubah. Tentara modern bukan cuma bisa perang. Mereka juga bisa panen.

Di Hari Kebangkitan Nasional ini, Indonesia seperti sedang mendeklarasikan babak baru kebangkitan bangsa, kebangkitan jagung, kebangkitan kedelai, kebangkitan padi nasional ala loreng.

Entah beberapa tahun lagi apa yang terjadi. Bisa saja upacara militer digelar di tengah sawah. Kapal perang berlayar sambil membawa bibit unggul. Marinir patroli sambil cek irigasi. Bahkan bukan mustahil mars TNI suatu hari diremix dengan suara mesin traktor.

Inilah Indonesia. Negeri yang membuat dunia geleng-geleng kepala sambil tertawa bingung.

Karena di republik ini, Hari Kebangkitan Nasional bukan cuma tentang bangkit melawan musuh. Tapi juga bangkit sebelum subuh… demi panen jagung.

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *