Jakarta – Resesi tahun 2023 kini tengah mengancam dunia tidak terkecuali Indonesia.
Untuk itu masyarakat seyogyanya meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan pengelolaan keuangan yang benar.
Perencana Keuangan, Himawan Adhi berbagi tips mengelola keuangan saat resesi.
Secara makro, kata Himawan, situasi yang diproyeksi terjadi ke depannya adalah pengetatan moneter.
“Seiring dengan perkembangan global, Bank Indonesia (BI) juga akan menuju ke arah tersebut, melalui kenaikan suku bunga acuan,” ujarnya seperti dilansir CNBCIndonesia, Selasa (18/10/22).
Kata dia, dampak yang akan dirasakan paling dekat dengan masyarakat adalah semakin besarnya cicilan, seperti kredit perumahan rakyat (KPR).
“Hal ini bisa disikapi dengan menyiapkan dana darurat sesuai kebutuhan ke depan,” ujarnya lagi.
Sementara itu untuk dana yang tersisa, misalnya ada uang yang menganggur di tabungan kata dia, maka langkah investasi bisa ditempuh.
Himawan mengatakan bila memiliki tabungan sekira 20 juta rupiah maka ia menyarankan agar investasi diarahkan ke beberapa instrumen, antara lain logam mulia sebanyak 40%, valuta asing seperti dolar AS 30% dan rupiah 15% serta sisanya uang tunai.
Akan tetapi jelas dia, pilihan investasi ini berbeda apabila dana nganggur yang dimiliki jauh lebih besar.
Himawan mengambil contoh dana sebesar Rp 10 miliar. Maka pilihannya bisa ditujukan salah satunya ke properti.
“40% persen properti, 25% investasi, 20% logam mulia, 15% uang tunai,” ujarnya
“Nggak sampai di sini, 15% uang tunai itu dibuat hedging, supaya tidak tergerogoti oleh inflasi, dengan emas karena emas anti inflasi yang bagus dan mata uang bisa 15% di pecah setengah rupiah setengahnya ke dolar. Nah kalau kita gabung jadi 1 maka nilai uang rupiah kita akan sama lagi, fungsinya untuk melindungi nilai,” jelas Himawan.
Himawan menambahkan, keberadaan uang tunai sangat penting ketika terjadi resesi. Ada kemungkinan aset dijual murah oleh orang lain, sehingga memberikan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan.
“Ada hal yang bagus yang bisa kita pelajari dari perencanaan keuangan, ekonomi memburuk uang tunai itu lebih penting dari aset, contohnya yang tadi jual asetnya separuh harga. Banyak orang yang enggak membelanjakan uang tunainya untuk konsumsi karena itu tadi,” pungkasnya.
(Red/Sumber)








