Madrid – Konferensi Episkopal Spanyol (CEE), lembaga tertinggi Gereja Katolik di Spanyol, mengumumkan bahwa pihaknya telah menerima total 927 pengaduan terhadap 728 pejabat agama sejak tahun 1940-an terkait insiden pelecehan seksual terhadap anak.
Hal itu disampaikan CEE melalui siaran pers berjudul “Ayo lindungi anak-anak: kita terus maju” yang menyelidiki kasus pelecehan seksual anak di dalam Gereja Katolik di Spanyol.
Mengutip Anadolu Agency, Kamis (1/6/23), disebutkan bahwa CEE telah menerima pengaduan tentang 927 anak yang terkena pelecehan seksual di dalam Gereja Katolik di Spanyol sejak 1940.
CEE menyatakan bahwa 82,62 persen korban adalah laki-laki dan 17,38 persen adalah perempuan.
Dalam informasi yang diberikan juga disebutkan bahwa 75 persen kejadian pelecehan seksual terjadi sebelum tahun 1990 dan sebagian besar kasus ini terdeteksi pada tahun 1960-1980.
Disebutkan, 52 persen dari 728 pemuka agama yang sebagian besar dituduh melakukan pelecehan seksual yang dilakukan di lingkungan sekolah adalah rohaniwan, 208 bukan pendeta, dan 63 persen pelakunya sudah lama meninggal.
CEE, yang pertama menerbitkan dokumen tentang kasus pelecehan seksual di gereja, mencatat bahwa mereka “belajar dari peristiwa menyakitkan di masa lalu dan meminta maaf”.
CEE, yang menyediakan pelatihan di dalam Gereja untuk mengakhiri pelecehan seksual, melaporkan bahwa hampir 150.000 orang, kebanyakan anak-anak, mengikuti kursus yang relevan.
Beberapa organisasi non-pemerintah mengklaim bahwa, mengingat periode kediktatoran (1936-1974) kasus pelecehan seksual di dalam Gereja Katolik, yang telah menjadi agenda sejak akhir tahun 2021 di Spanyol, sebenarnya bisa mencapai 100 ribu, tapi itu penelitian yang memadai belum dilakukan dan kepercayaan serta jaminan belum diberikan kepada para korban.
(Red/Sumber)






