TERKAIT TIKET CAPRES PDIP, RR YAKIN MEGA TIDAK TERKECOH DENGAN HASIL SURVEI

Politik179 Views

Jakarta – Ekonom Senior Rizal Ramli mengatakan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri tidak akan terpengaruh untuk mencapreskan nama-nama yang memiliki elektabilitas tinggi menurut hasil survei lembaga polling.

Pasalnya menurut dia, Megawati merupakan sosok pemimpin yang selalu belajar dari pengalaman.

Salah satu pengalaman itu sebut dia, Ketum PDIP itu pernah terkecoh dengan hasil survei yang mempresentasikan Jokowi effect pada Pilpres 2014 secara signifikan akan meningkatkan elektabilitas PDIP.

Padahal, kata RR sapaan akrabnya, hasil survei itu telah diatur oleh oligarki di belakang Jokowi yang membayar sembilan lembaga polling.

“Mbak Mega waktu itu sebenarnya masih mau maju Pilpres sampai last minute. Kemudian datanglah sembilan perusahaan polling yang sudah dibayar oligarki. Yang pertama bilang sama Mega dan Taufiq, ‘Mbak Mega, mohon maaf, kalau Mbak Mega yang maju, kalah. Tapi kalau PDIP dukung Jokowi pasti menang jadi presiden. Yang kedua ada bonus ‘Jokowi effect’, elektabilitas PDIP akan nambah ke 33 persen’,” ungkap RR seperti dikutip kedaipena.com, Sabtu (18/3/23).

RR menambahkan, bujuk rayu tersebut tidak hanya datang dari satu lembaga survei saja.

“Lama-lama Mbak Mega dan Bang Taufiq mulai goyang dan memberikan tiket capres ke Jokowi setelah mendengarkan presentasi sembilan perusahaan polling tersebut,” tutur RR.

“2014 Jokowi betul terpilih sebagai Presiden. Tapi, elektabilitas PDIP hanya naik dari 16,5 persen ke 18,5 persen, artinya hanya naik 2 persen, bukan 16 persen seperti yang digembar-gemborkan lembaga survei. Kagak ada Jokowi effect dan lain-lain,” ungkapnya

Lebih jauh RR mencontohkan hasil survei Gubernur DKI Jakarta 2017 yang menyebut elektabilitas Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengalahkan Anies Baswedan.

Ternyata, sambung RR polesan hasil survei lembaga polling yang telah dibayar pihak di belakang Jokowi, termasuk Luhut Binsar Panjaitan meleset semua.

“Perusahaan polling yang naikin nama Ahok, Abang (Luhut Binsar Panjaitan) yang bayar semua? Terus Abang percaya hasilnya? Mohon maaf Bang, Ahok kalah,” kata RR mengisahkan ketika ia berkomunikasi dengan Luhut yang disebut memobilisasi orang-orang di sekitarnya untuk mengampanyekan Ahok.

Alhasil, prediksi RR terbukti, sebab nyatanya Ahok kalah dari Anies Baswedan. Menurut RR pola memoles elektabilitas dan popularitas dengan perusahaan polling berbayar ini kembali diulangi oligarki untuk menyokong Ganjar Pranowo di Pilpres 2024.

“Nah ini diulangi lagi sama Ganjar, dia sewa lagi perusahaan polling berbayar, sewa lagi media, kelihatannya hebat banget,” terang RR.

“Tapi masalah Indonesia ini kan terlalu kompleks, kita butuh orang-orang yang mengerti masalah, amanah, punya integritas buat nyelesaikan masalah, bukan Pangeran TikTok,” tandasnya.

(Red/Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *