Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik
Betapa mulianya dirimu wahai tukang bakso, mengais rezeki halal untuk menghidupi keluarga, tidak berbuat zalim kepada sesama. Engkau melayani pelanggan dengan hati lapang dan gembira.
Engkau tidak pernah jual Sipadan atau Ligitan, apalagi memamah saham indosat. Rezekimu juga halal, tak tercampur dengan uang E KTP. Namamu harum, tidak anyir seperti yang disebut terima duit E KTP.
Tukang bakso, engkau punya otoritas atas baksomu, dengan senyum ramah tanpa marah-marah. Tidak seperti profesor itu….
Merasa paling punya otoritas, marah-marah, tapi dikhianati tak bernyali untuk berikan sanksi. Cuma berkoar-koar, mundur, mundur. Lah, kalau punya kuasa, kenapa tidak pecat saja ?
Itu profesor tukon, sebenarnya tak punya legacy apapun. Selain menumpang nama nasab dari pendahulunya. Usia sudah diambang senja, tapi tetap saja tak bisa memiliki sifat perwira.
Tukang Bakso, biar saja dia bicara. Toh, nanti ada waktunya mulutnya terkunci. Seluruh anggota tubuhnya yang akan bicara.
Matanya, akan bersaksi pernah menitikan air mata buaya, saat BBM naik tapi dia tak punya kuasa. Setelah berkuasa ? harga BBM lebih kejam dari apa yang dia tangisi.
Catatan sejarah, akan kembali muncul ke permukaan. Siapa yang punya peran, telah merusak negeri ini, menyerahkan negeri ini pada cengkeraman penjajah, asing dan aseng.
Profesor itu, hanya berbangga pada gelar tapi tak sedikitpun memiliki nilai. Padahal, nilai itulah yang membuat manusia berharga, bukan gelar.
Profesor itu tak percaya hari akhirat, padahal hayatnya sebentar lagi akan berakhir. Seperti keladi, makin tua makin menjadi.
Profesor itu cuma gila menjadi pesohor. Padahal, sejatinya dia tidak mengerti sedang berbangga untuk sesuatu yang sia-sia.
Tukang Bakso, aku lebih menaruh hormat kepadamu, ketimbang pada profesor itu.






