SP POLITISI ULUNG DI SAMPING PENGUSAHA

Opini226 Views

Oleh: Moh. Naufal Dunggio
Aktivis dan Ustadz Kampung

Putra Aceh ini sangat dekat dengan Jokowi. Bahkan beliau juga termasuk salah satu tokoh yang mengantar Jokowi dari Solo semasa menjadi walikota sampai jadi presiden dua priode. Tapi saat-saat di penghujung priode kedua Jokowi berkuasa beliau berputar haluan memilih calon presiden yang sangat tidak disukai oleh Jokowi yakni Anies Rasyid Baswedan.

Pilihan Surya Paloh (SP) bukan hanya didasari oleh kepentingan politik dan kekuasaan belaka. Tapi ini lebih dari itu dari lubuk hati yang paling dalam yang sangat asasi yakni keberpihakan kepada agama yang diyakininya yakni Islam. SP walau putra SERAMBI MEKAH tapi ke Islaman beliau sama dengan istilah orang jawa yakni Islam Abangan. Cuma boleh jadi dia udah punya segala-galanya dalam bentuk keduniaan. Melihat dan merasa umurnya makin tua dan udah bau tanah maka beliau mencoba berbuat sesuatu untuk Islam yakni MEMILIH PEMIMPIN YANG BENAR-BENAR ISTIQOMAH DALAM ISLAM UNTUK JADI PRESIDEN. Beliaulah pertama kali mencalonkan figur seperti ini. Partai yang mayoritas Islam aja belum berani tapi akhirnya mau tidak mau mengikuti NASDEM. Begitu juga partai Nasional lain seperti Demokrat. Cuma memang nawaitu partai yang bergabung dengan NASDEM berbeda-beda nawaitunya. Ada PKS ada DEMOKRAT. PKS walaupun banyak kader yang mumpuni dan berakhlaqul karimah tidak terlalu menonjol memajukan kadernya untuk jadi cawapres Anies. Namun Demokrat lain halnya. Sangat ngotot mengajukan ketua umumnya untuk mendampingi Anies sebagai cawapresnya. Bahkan udah memaki-maki Anies sebagai pengkhianat.

Melihat situasi tidak mengenakan ini maka SP bermanuver mendekati PKB sambil menawarkan Muhaimin Iskandar sebagai cawapres Anies. Dengan serta merta Cak Imin langsung SAMI’NA WATO’NA dari pada di kubu sebelah dicuekin mendingan di sini di koalisi perubahan. Bahkan kans menang lebih besar.
SP gak peduli Cak imin dengan kasus kardus duriannya karena duriannya udah diganti dengan kardus nangka. Sama tajamnya tapi nangka gak berbahaya.
SP udah berhitung kalau hanya dua NASDEM dan PKB Anies lolos 20%. Apalagi PKS tetap dalam koalisi maka ini koalisi paling kuat. Biar aja Demokrat pergi merantau gak balik-balik koalisi gak butuh. Yah itu karena nawaitu bergabung di koalisi untuk kekuasaan. Memang ujung dari politik itu kekuasaan tapi jangan serakah donk.

Walaupun belum pasti betul akan Cak Imin jadi cawapresnya Anies tapi paling tidak usah menggoncang perpolitikan tanah air sekaligus bisa melihat mana yang mendukung Anies karena ingin merubah bangsa ini mana yang hanya ingin kekuasaan kayak yang di pertontonkan Partai Demokrat saat ini. Mereka langsung intruksikan kader-kader di daerah untuk mencabut BALIHO Demokrat yang ada lambang Aniesnya. Memang nafsu berkuasa tidak di topang dengan power yang kuat hanya menjadi bahan cibiran belaka. Kalau benar Demokrat keluar dari koalisi maka silahkan cari koalisi yang lain atau bentuk koalisi baru baru tàruh AHY jadi capres pengen tahu menang apa gak.

Ditulis sebelum shalat Jumat.
Wallahu A’lam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed