Krisis Iptek: Mati Meninggalkan Utang.
Oleh : Sri-Bintang Pamungkas
Prof. Oetaryo Diran sempat memarahiku pada 1964, ketika aku masuk di ITB, dan menjawab pertanyaannya, bahwa nanti mau merancang roket yang bisa terbang mencapai Malaysia. Waktu itu ganyang Malaysia memang sedang seru-serunya. Aku dianggap punya nafsu perang… bukan damai.
Skripsiku kemudian adalah tentang Sistim Kendali Proyektil, dg Pembimbing Prof Dr. Hariono Djojodihardjo, lulusan MIT. Tentang Skripsiku itu, tidak pada materinya, kemudian menjadi kontroversi ketika terjadi pro dan kontra di antara para Dosen Teknik Mesin ITB. Di situ muncul dua tokoh Ahli Teknik Penerbangan yang berseberangan: Pembimbingku dan Prof Dr. Filino Harahap, lulusan Iowa State University.
Keduanya saya kagumi. Mereka ikut mengujiku dalam Ujian Akhir. Aku sempat gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, sekalipun nilai-nilai kuliahku mestinya mayoritas A. Waktu itu memang belum ada nilai dengan Huruf, melainkan masih dengan Angka. Aku pun akhirnya lulus Insinyur Teknik Mesin yang pertama di antara Angkatanku dan 2 (dua) Angkatan sebelumnya. Rentetan peristiwa termasuk kejadian di Ruang Ujian itulah yang membawa seluruh hidupku berubah menjadi Dosen. Di FTUI, bukan di ITB…
Pada 1972 aku mulai mengajar sebagai Calon PNS; 1973 aku menjadi Sekretaris Jurusan Teknik Mesin; 1974 aku bikin Simposium Teknik Mesin. Di Simposium itu aku mengusulkan perubahan Kurilulum Teknik Mesin, yang menurutku sudah tidak cocok. Menurutku sudah harus ada konsentrasi pada Pembuatan Barang Industri. Setelah 50 tahun ternyata usulan kurikulum tadi tidak terwujud… Bagi saya, itu karena tidak ada kemauan “politik”… Kata yang sangat ditakuti oleh kalangan Kampus Indonesia…
Beberapa tahun Praktikum Teknologi Mekanik Membuat Barang _(manufacturing processes)_ terpaksa dilakukan di ITB. Tahun 1975 aku terpilih menjadi Ketua Jurusan Teknik Mesin, termuda di seluruh Indonesia. Bersama beberapa Dosen Senior saya merancang pembelian Mesin-mesin Perkakas yang cukup lengkap untuk Praktek Teknologi Mekanik. Kebetulan tahun 1976 Ir. Sutami menjadi Dekan FTUI. Dan aku diangkatnya menjadi Pembantu Dekan Urusan Administrasi dan Keuangan. Aku ditunjuk pula menjadi Ketua Panitia Pemberian Jabatan Guru Besar untuk Menteri Pekerjaan Umum tersebut.
Maka usulanku membeli Mesin-mesin Perkakas untuk Laboratorium Teknologi Mekanik segera saja disetujui Rektorat. Dipl. Ing Nakula Soenarto sebagai Ketua Tim dan Ir. Soelarso berangkat ke Inggris untuk mbuat kontrak pembelian Mesin-mesin tersebut.
Aku sendiri pada 1977 berangkat ke AS untuk mengambil S2 dan S3. Dr.Ing. Poernomosidi Hadjisaroso, Ahli Metalurgi, Sekjen Kementerian PU, sekaligus sebagai Pelaksana Dekan FTUI, memberi pengarahan kepadaku tentang apa yang perlu saya pelajari di AS, yaitu Ilmu Ekonomi. Prof. Dr. Matthias Aroef dari Teknik Industri ITB ikut mempengaruhiku dalam memilih Departenen Teknik Industri dan Teknik Sistim di Univ. of Southern California di Los Angeles. Sedang Ilmu Ekonomi akhirnya aku ambil di Iowa State University… tempat Prof. Dr. Mubyarto, Ahli Ekonomi Pertanian UGM menimba Ilmunya.
Pulang dari AS, aku membawa Ilmu Teknik Industri dan sekaligus Ilmu Ekonomi. Aku sampaikan kritik-kritikku atas kebijakan pembangunan Soeharto yang dimodeli oleh Prof. Dr. Widjojo Nitisastro dan kawan-kawanya Ekonom Univ. California Berkeley… Ternyata Program Pembangunan Widjojo gagal mengangkat orang-orang miskin menjadi kaya lewat trickle-down effect-nya. Yang terjadi justru hasil pembangunan itu trickling-up…membuat para konglomerat semakin kaya…
Kritik-kritikku pun membuat diriku menjadi target “Gebukan” Rezim Soeharto. Aku masuk penjara atas sesuatu yang tidak kuperbuat, baik itu Makar maupun Menghina. Kurang dari separoh dari hukuman yang harus aku jalani, Soeharto pun jatuh, dan aku kembali bebas pada Mei 1998. Aku pun segera mengunjungi Texmaco yang aku dengar berhasil membuat truk (Perkasa), bus dan sedan (Carnesia), Hampir 100% komponen-komponennya dibuat oleh tenaga Indonesia… Konon hanya carburettor yang masih harus diimpor.
Aku sempat mencoba sendiri mengendari Truk Perkasa. Pabrik Texmaco penuh dengan Mesin-mesin Perkakas pembuat komponen-komponen otomotif dan produk apa saja. Sungguh luar biasa! Itulah yang menjadi harapan saya dengan Kurikulum Baru Insinyur Teknik Mesin, tentu dengan skala yang lebih tinggi daripada Pabrik Texmaco. Texmaco mendidik sendiri karyawan-karyawannya di Sekolah Tinggi Teknik Texmaco. Itu pula harapan saya dengan Laboratorium Mesin Perkakas di lingkungan Departemen Teknik Mesin.
Di dalam sejarah Departemen Teknik Industri FTUI, hanya aku satu-satunya dosen yang membawa para mahasiswanya untuk Factory Visit ke Texmaco… juga Krakatau Steel, Astra dan lain-lain, bahkan tidak hanya sekali-dua…. Departemen Teknik Industri mempunyai kepentingan yang sama atas Mesin-mesin Perkakas ini… Tentu tidak hanya di FTUI, tetapi harusnya ada di seluruh Indonesia…
Karena urusan politik, Texmaco ditutup oleh Laksamana Sukardi atas permintaan Megawati. Juga atas perintah IMF gara-gara Texmaco mampu menyelesaikan order dari General Dynamics untuk membikin betul Komponen Turbin Angkasa Luar. PTDI hasil rekonstruksi Lipnur/IPTN oleh Dr.Ing. BJ Habibie, yang bisa menghasilkan Pesawat CN-235 dan CN-250 juga dihentikan IMF. Akibatnya Industri Pesawat Terbang itu tidak bisa melanjutkan pembuatan CN 2310; dan mem-PHK ribuan karyawannya tanpa pesangon memadai. Seharusnya Habibie membuat pesawat militer untuk kebutuhan dalam negeri daripada pesawat komersial yang sulit laku… Dan masih banyak lagi yang dirusak IMF bersama pengkhianat-pengkhianatnya di dalam negeri pasca Krisis Moneter 97/98…
Sekarang semua sudah tiada… Oetaryo Diran sudah tiada… Semaun Samadikun juga sudah tiada… Iskandar Alisyahbana pun tiada lagi. Juga Matthias Aroef. Aku sempat bermimpi ketemu Filino Harahap sehari sebelum dia meninggal. Hariono masih segar-bugar dengan buku ilmiahnya yang dihadiahkan kepadaku… Padahal ilmu Penerbanganku pun sudah tidak melekat lagi di kepalaku… Bukuku tentang Ganti Rezim Ganti Sistim pun sempat aku kirim untuk mantan Pembimbingku itu…
Dan 50 tahun lebih sejak Pabrik Mobil didirikan di Indonesia, kita belum bisa mendirikan pabrik made in Indonesia selain Texmaco yang juga sudah dibikin bubar. Pabrik-pabrik semacam Texmaco yang bisa bikin segala macam Barang Industri harus didirikan di seluruh Negeri. Hanya dengan begitu Indonesia bisa memulai menjadi Negara Industri.
Konon Harimau mati meninggalkan Belang…. Gajah mati meninggalkan Gading. Lalu apa yang sudah ditinggalkan para Ahli Iptek kita itu?! Tentu ada juga… Para Dosen meninggalkan ribuan mahasiswanya. Tetapi menjadi Dosen yang mengajar ke sana dan ke sini sekedar untuk bisa hidup lumayan, punya rumah dan mobil, tentulah bukan upaya pemanfaatan optimal dari para Ahli tersebut. Mereka pulang dari menuntut Ilmu di LN bukanlah semata-mata untuk bisa hidup, melainkan penuh dengan cita-cita memanfaatkan ilmunya untuk mewujudkan Kesejahteraan dan Kemakmuran bagi bangsanya.
Ternyata mereka “ditorpedo” oleh para politisi dan penguasa konyol… Maka hilanglah harapan bisa mengabdi lebih besar kepada Rakyat, Bangsa dan Negara. Hilang pula harapan menjadikan RI maju, sejajar dan terhormat di antara Bangsa-bangsa di Dunia. Kekayaan berupa sumberdaya alam menjadi terbengkalai dan dijual murah kepada Bangsa Asing… Sekali lagi ini soal Politik…
Mungkin salut harus kita berikan dengan hormat kepada kelompok Prof. Ir. Sutami (juga Rooseno dan lain-lain) yang meninggalkan Gelora Bung Karno, Gedung MPR RI, Monumen Nasional dan Semanggi… dan Hardjuna Sasrabahu… dan Bendungan-bendungan serta Pembangkit-pembangkit Listrik… Apa yang ditinggalkan oleh para Teknokrat seperti Prof. Dr. Widjojo, Aliwardhana, Sadli, Sumarlin, dan lain-lain selain Utang Luar Negeri…?! Tentu ada! Setelah Prof. Dr. Subroto kemarin mangkat, maka tinggal Prof. Dr. Emil Salim yang masih ada… Beliau bisa ditanya!
Menghadapi masa depan RI, kita harus mulai berpikir, bahwa sebenarnya Rakyat ini sedang dijajah oleh para Rezim Penguasa/Oligarki dan para Pengkhianat… Bahkan dengan mendatangkan Tentara Asing Cina… Mereka harus dilawan, dijatuhkan dan dihukum gantung. Kita harus Merdeka untuk ke dua kali… Dulu bisa, sekarang pun harus bisa…






