Pecel Lele, Indeks Pembangunan Malam Hari

Opini, Sosial366 Views

Pontianak, PBSN – Liburan kita bahas yang ringan-ringan saja. Tadi siang saya membahas penjual es doger dari Tarikmalaya. Kali ini saya mau bahas pecel lele. Kebetulan baru saja beli di pinggir Jalan Wahidin Pontianak. Inilah makanan rakyat jelata yang ada hampir di seluruh kota di Indonesia. Mari kita kulik apa sih kelebihan pecel lele dibandingkan makanan lain? Siapkan kopi tanpa gulanya, wak!

Di seluruh republik ini, dari Sabang sampai Merauke, dari Wamena sampai perempatan lampu merah Dansen Pontianak, ada satu indikator kemajuan yang tak pernah masuk laporan BPS. Apa dia tu, Bang? Tiada lain keberadaan tenda pecel lele di malam hari. Lupakan Human Development Index (HDI) atau Gross Domestic Product (GDP). Karena, rakyat jelata punya indikator sendiri, yakni Gross Domestic Sambal (GDS). Semakin banyak warung pecel lele, semakin tinggi GDS suatu daerah.

Menurut penelitian entah-dari-mana-tapi-kedengarannya-ilmiah, jumlah tenda pecel lele di suatu wilayah berkorelasi 99,7% dengan tingkat mobilitas ekonomi malam. Artinya, jika di sebuah kota setelah jam 7 malam tenda pecel lele mulai berjajar, lampu-lampu neon “Pecel Lele 99”, “Pecel Lele Pak Dhe”, atau “Pecel Lele Mbak Yeyen” mulai berkedip, maka itu tanda peredaran uang rakyat jelata sedang aktif. Sebaliknya, kalau malam sunyi tanpa bau gorengan ikan lele yang bercampur asap knalpot, maka bersiaplah, itu daerah rawan mati gaya ekonomi.

Lele, makhluk air yang bisa hidup di got, parit, dan lumpur politis, sudah jadi simbol ketahanan pangan kelas pekerja. Bayangkan, wak! Dari habitat yang penuh misteri, ia naik ke wajan panas, lalu disajikan di piring plastik biru yang hanya ada di warung tenda, dengan lalapan dan sambal yang pedasnya bisa memaksa orang melupakan masalah cicilan motor. Pecel lele adalah diplomasi kuliner. Ia menyatukan tukang ojek online, pegawai kantoran, mahasiswa, bahkan polisi lalu lintas yang sedang patroli.

Dari perspektif geopolitik, warung pecel lele adalah pangkalan logistik rakyat. Di bawah tenda terpal biru yang tertiup angin malam, terjadi transaksi rahasia antara perut lapar dan dompet tipis. Harga seporsi pecel lele, yang di Jakarta bisa Rp18.000, di Pontianak Rp17 ribu, dan di kota-kota kecil hanya Rp12.000, adalah bukti bahwa kapitalisme masih punya hati, setidaknya sebelum harga minyak goreng naik.

Mari kita lihat datanya:

• Populasi warung pecel lele di Indonesia diperkirakan mencapai 58 ribu unit pada 2023 (data lapangan + hitungan ngawur tapi meyakinkan).
• Jam operasional rata-rata: 19.00–01.00, karena siang hari pedagangnya sedang tidur atau memancing lele di sumber yang tidak ingin kita ketahui.
• Konsumsi sambal pecel lele nasional: diprediksi 200 ton per bulan, cukup untuk memadamkan 20 ribu patah hati.
• Efek sosial: 73% pelanggan mengaku merasa hidupnya “lebih teratur” setelah makan pecel lele (hasil survei fiksi namun relevan).

Ada yang bilang, pecel lele itu makanan darurat, dimakan kalau kepepet. Omong kosong. Pecel lele adalah strategi bertahan hidup yang elegan. Ibarat jazz, dia lahir dari improvisasi, lauk seadanya, sambal seadanya, lalapan gratis, tapi harmoni rasanya menampar lidah sampai kita sadar, “Oh, hidup ini tidak seburuk itu.”

Bahkan, ada teori konspirasi kuliner yang menyatakan bahwa pemerintah sengaja membiarkan pecel lele menjamur sebagai cara meredam gejolak sosial. Karena ketika rakyat lapar, mereka marah. Tapi ketika rakyat kenyang pecel lele, mereka cuma ngantuk dan pulang tidur. Sebuah kebijakan food-based crowd control.

Moralnya?
Pertama, jangan remehkan pecel lele. Dia bukan sekadar ikan goreng. Dia adalah jaring pengaman sosial yang menjaga bangsa ini dari keruntuhan mental kolektif. Kedua, jika panjenengan ingin mengukur kemajuan daerah, jangan repot-repot lihat laporan ekonomi. Datang saja malam hari, lihat berapa banyak tenda pecel lele yang buka. Kalau ramai, tandanya ekonomi rakyat jelata masih bernafas. Kalau sepi, ya… selamat datang di wilayah yang bahkan lele pun enggan tinggal.

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *