Doha, PBSN – Dari pedalaman Kalbar, Putussibau, sekarang kita terbang ke Arab. Negara-negara Teluk sedang ketakutan akibat serangan Israel ke Doha Qatar. Mari simak narasinya sambil seruput kopi tanoa gula, wak!
Selama ini Palestina dibombardir kayak panggung gladi resik kiamat. Negara-negara Arab Teluk tetap adem ayem. Mereka sibuk bikin mall lebih besar dari kota tetangga, bikin pulau buatan berbentuk pohon kurma, dan ngitung sisa-sisa duit petrodollar yang tak ada habisnya. Palestina? Ah, itu tetangga yang ribut tiap hari, kayak gang sebelah yang selalu pasang sound system hajatan seminggu penuh, ngeganggu, tapi dibiarkan aja.
Tapi lihatlah betapa getirnya takdir. Giliran Doha, Qatar, diguyur rudal Israel, barulah semua pangeran Arab mendadak sadar, “Waduh, ternyata bom bisa sampai ke sini juga, wak!” Seketika, semua wajah mewah dan jubah putih itu berubah jadi cermin ketakutan. Filosofi sederhana, nyamuk baru dianggap mengganggu ketika hinggap di pipi sendiri, bukan ketika menghisap darah tetangga.
Pada Juni lalu, Iran sudah kasih teaser dengan menyerang pangkalan AS di Qatar. Lalu Israel datang kasih sekuel blockbuster, bom jatuh di ibu kota Doha dengan dalih mencari Hamas. Dunia pun tercengang. Dua musuh bebuyutan, Iran dan Israel, ternyata bisa kompak main bola rudal di halaman yang sama. Ironisnya, Teluk yang katanya stabil itu tiba-tiba berubah jadi panggung gladi bersih Perang Dunia versi Timur Tengah.
UEA yang biasanya jalan mesra bareng Israel lewat Perjanjian Abraham, kini mendadak jadi “mantan yang sakit hati.” Mereka panggil diplomat Israel, marah-marah, bilang serangan ini pengecut. Padahal, baru kemarin mereka selfie bareng di Tel Aviv sambil ngobrol bisnis startup. Dunia pun ketawa getir. Hubungan internasional ternyata kayak pacaran toxic, mesra di depan, bacok-bacokan di belakang.
Qatar sibuk lari ke PBB minta tolong, berharap Dewan Keamanan bisa jadi superhero. Tapi kita semua tahu, PBB itu lebih sering jadi stand-up comedy show. Sementara itu, negara-negara Teluk mulai bahas soal Perisai Semenanjung. Ya, kayak klub superhero era 1980-an yang sebenarnya hanya ada di brosur, bukan di dunia nyata. Bayangkan Iron Man tanpa armor, Batman tanpa duit, dan Hulk tanpa marah, itulah kira-kira gambaran pasukan Teluk kalau beneran dipanggil perang.
Nah, biar makin dramatis, para pemimpin Arab-Islam pun dijadwalkan hadir di KTT darurat di Doha, Senin (15/9/2025). Katanya sih, bentuk dukungan bagi Qatar usai serangan Israel. Dalam rancangan resolusi yang bocor ke media. Isinya bikin kening berkerut sekaligus ngakak getir. Serangan Israel disebut mengancam perdamaian kawasan, bahkan menghancurkan “prospek hidup berdampingan.” Bahasa diplomasi yang terdengar mulia. Padahal, bunyinya kayak dosen memberi nasihat mahasiswa yang ketahuan nyontek.
Lebih jauh, resolusi itu menuduh Israel melakukan genosida, pembersihan etnis, kelaparan, pengepungan, sampai kolonisasi. Semua kata-kata mengerikan dimasukkan, biar lengkap seperti daftar menu restoran Timur Tengah. Masalahnya, Israel santai saja, tetap dengan template jawaban klasik. “Kami cuma bela diri, bro. Jangan baper.” Netanyahu bahkan menekan Qatar, usir Hamas, atau kami yang akan melakukannya. Sekali lagi, bahasa mafia dibungkus dengan dasi perdana menteri.
KTT ini juga disebut bisa mengancam jalur normalisasi Arab-Israel. Bayangkan, perjanjian Abraham yang penuh senyum-senyum di foto resmi, tiba-tiba dipertaruhkan hanya karena rudal nyasar ke Doha. Lagi-lagi, hubungan internasional tak lebih dari drama cinta segitiga. Ada yang bilang cinta, tapi diam-diam selingkuh.
Sementara itu, korban nyata tetap berjatuhan. Serangan Israel di Doha menewaskan lima anggota Hamas dan seorang pejabat keamanan Qatar. Dunia Arab pun meratap, tapi dengan gaya rapat mewah di hotel bintang lima, bukan di tenda pengungsian.
Konspirasi pun tumbuh subur. Apakah semua ini skenario agar Teluk membeli lebih banyak senjata dari Amerika? Apakah rudal itu pesan sponsor? Atau, ancaman jangan kerja sama dengan Rusia atau China. Filosofinya begini, rasa takut adalah bisnis paling menguntungkan, dan Timur Tengah adalah pasar paling setia.
Akhirnya, rakyat dunia hanya bisa tertawa getir. Palestina sudah lama jadi korban. Kini Teluk mulai mencicipi ketakutan yang sama. Mungkin inilah filsafat paling menakutkan, kita baru benar-benar takut, bukan ketika bom jatuh di televisi, tapi ketika jatuh di halaman parkir mall tempat kita beli kopi tanpa gula seharga 20 dolar.
Foto Ai, hanya ilustrasi.
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar






