Oleh : Amir Faisal
Wakil Ketua Umum Asprindo
Trainer Marketing Politik
Jika ARB dikriminalisasi oleh KPK, berarti tidak didukung oleh Amerika, sebagaimana analisa para pengamat, karena ARB yang jebolan Maryland dan Illionis University Amerika, dan bahkan pengangkatan ARB jadi anggota Dewan Oxford University dikaitkan-kaitkan sebagai bagian dari skenario dukungan tersebut.
MNC group yang merupakan mitra bisnis para kapitalis Amerika juga tidak berada di gerbong ARB
Pertanyaannya, lalu siapa lagi yang didukung oleh Amerika, dari ketiga kandidat yang elektabilitasnya tertinggi selain ARB?
Prabowo tidak mungkin lah, karena Amerika tidak suka pada mantan komandan pasukan yang oleh Amerika dianggap menginvasi Timor Timur itu.
Ganjar Pranowo apalagi. Karena GP masih kader PDIP yang menurut pengakuan ketua umumnya sendiri bersahabat dengan Xi Jin Ping, musuh Amerika.
Selain itu dari analisis geopolitik, terkait Laut Cina Selatan, Amrik membutuhkan mitra strategis yang benar-benar antikomunis, yang notabene berada di kubu ARB.
Hal ini pula yang membedakan strategi geopolitik Amerika di Timur Tengah dengan di Asia Tenggara. Amerika sama sekali tidak khawatir terhadap isu-isu yang digembar-gemborkan oleh para Ganjarist, tentang akan bangkitnya Islam garis keras jika terpilihnya ARB jadi presiden. Selain Amerika punya banyak intel di negeri ini untuk menyimpulkan situasi, juga bukankah mereka sendiri yang menciptakan isu terorisme?
Pernyataan Sydney John bahwa FPI termasuk Aswaja, dan bukan Wahabi ataupun terkait terorisme, serta kehadiran Agen Jerman Eropa ke rumah HRS paska pembantaian 6 pengawal HRS, tentunya menjadi pertimbangan tersendiri bagi Amerika.
Analisis Bisnis Oligarki
Selain Paman Sam, Oligarki juga sangat menentukan dukungan terhadap kandidat presiden di Indonesia
Posisi ARB merupakan buah simalakama bagi oligarki, apalagi pengusung utamanya adalah Nasdem, dan sambutan massa di berbagai daerah begitu membludak dan massive. Sementara kandidat dari status quo masih confius, tidak jelas siapa Capresnya. Bahkan rezim yang kemarin didukung pada pilpres 2019 sudah pecah.
Secara hitungan bisnis, bagi oligarki antara tetap mendukung statusquo atau ARB masing-masing ada plus minusnya.
Jika ARB yang terpilih, jelas mereka perlu bargaining ulang, mengingat gagalnya proyek reklamasi mereka. Tetapi terus terang proyek IKN juga menjadi kendala yang menyebabkan para Taipan berhitung-hitung, jika statusquo yang menang, mengingat Softbank yang menjanjikan investasi Rp 1200 triliun, dan investor KA cepat dari Rusia hengkang.
Hingga saat ini belum ada yang mau menggantikan para investor itu, baik seperti yang digembar-gemborkan oleh LBP, maupun para Taipan oligarki.
Karena mereka berkesimpulan IKN adalah “proyek rugi”, sangat rugi, mungkin BEP nya bisa ratusan tahun.
Kenapa demikian?
Sekarang kita lihat dari sisi marketing properti.
Dalam bisnis itu ada 3 jenis strategi marketing. Pertama didisplay secara online, kedua didisplay secara offline dan ketiga dipasarkan secara jemput bola.
Untuk produk yang didisplay secara online tidak memerlukan properti perkantoran ataupun mall, karena barang-barangnya tersedia melimpah di market place. Di era digital ini, dimana pengguna HP lebih dari 70 persen, maka pasar akan dikuasai oleh segmen ini, sehingga sekarang mall mall jadi sepi pengunjung.
Kedua, produk-produk yang didisplay secara offline, seperti show room mobil, sepeda motor dan satu line product lainnya. Fashion butik dan segala properti mewah satu line product. Hotel, tempat hiburan, salon, panti pijat dan yang satu line product. Produk-produk inilah yang berpotensi membeli ataupun menyewa properti.
Masalahnya berapa besar market share user dari investasi properti di IKN yang konon dirancang sangat mewah dan sophisticated, yang tentunya hanya pengusaha tertentu yang sangat terbatas sekali yang berani membeli atau menyewa, karena harganya pasti selangit.
Sementara konsumennya belum ada, karena sesuai laporan pemerintah, jumlah warga IKN tahap pertama berjumlah 2 juta ASN. Sementara di Jakarta dengan jumlah penduduk 10 jutaan dan notabene banyak pengusaha kaya raya, nasib bisnis yang disebutkan diatas saja pada sepi.
So, apakah ada user yang mau membeli atau menyewa properti-properti supermewah di IKN tersebut, jika tidak ada konsumennya?
Jika tidak ada pembeli dan penyewanya, buat apa para taipan oligarki berinvestasi membangun properti di IKN yang nilainya bisa ratusan triliun?
Mereka sudah menelan pil pahit berinvestasi di Meikarta. Kota yang dirancang supermodern, mungkin seperti IKN sekarang jadi kota hantu. Padahal berada di kawasan Jawa Barat yang penduduknya padat, dan berada di lintasan Jakarta Bandung, serta difasilitasi dengan KA cepat.
Jenis produk yang ketiga adalah yang dipasarkan secara jemput bola. Jenis produk ini mendekati konsumennya, yang notabene berada di Jabotabek. Jadi hanya pengusaha yang mendapat proyek pemerintah pusatlah yang akan menyewa perkantoran di IKN.
Post Views: 162






