Italia Juara, Brazil Merana Kempat Kalinya

Olahraga, Opini300 Views

Pontianak, PBSN – Kasihan Brazil, empat kali tembus final, empat kalinya juga terpental. Mirip Timnas sepakbola di Piala AFF, dijuluki specialist runner up. Perlu dirukyat ini negeri Samba. Siapa juaranya? Italia. Negeri menara miring ini sangat superior. Satu saja pemain vol putri Indonesia kayak Paola Egonu, tak ada apa-apanya tu Thailand. “Maaf, wak jadi ngelantur.”

Yang jelas Italia layak juara voli putri dunia. Sayang jagoan saya, Turki keok di perempat final. Mari kita ulas laga final voli impian, negeri Pizza vs Sambas, eh salah, Samba maksudnya, tadi malam. Siapkan kopi tanpa gulanya, wak!

Di atas tanah Polandia yang dingin, di dalam stadion yang bernama terlalu sulit untuk diucapkan orang awam, tersaji kisah epik yang membuat para dewa Olimpus berdiri dari singgasananya, bersorak, lalu menari poco-poco. Italia, negeri pizza dan puisi, mengalahkan Brasil, negeri samba dan sakit hati, dalam final Women’s Volleyball Nations League (VNL) 2025 dengan skor 3–1 yang tak cuma telak, tapi juga mengandung unsur pengkhianatan terhadap harapan tropis.

Set pertama dibuka seperti pesta. Brasil unggul 25–22. Para pendukung Brasil sudah mulai menyanyikan lagu kebangsaan mereka dengan nada penuh percaya diri. Para fans Italia tampak gelisah, seperti orang Italia yang tahu espressonya dibuat dari kopi sachet. Tapi seperti dalam semua film mafia, Italia tidak langsung menang, mereka diam dulu, mengamati, lalu membalas dengan gaya yang membuat lawan merasa bukan sedang kalah, tapi sedang dilucuti martabatnya.

Set kedua? Italia bangkit seperti Firaun bangun dari kubur. Skor 25–18. Blok demi blok ditempatkan dengan akurasi surgawi. Antropova dan Danesi berubah jadi tembok-tembok tembaga dari mitologi. Egonu? Ia bukan manusia, dia adalah senjata pemusnah massal berkedok atlet. Spike-nya meluncur seperti roket NASA yang diberi perasaan. Bola itu tidak sekadar jatuh ke lantai, dia menghantam bumi dengan suara, “Brasil, pulanglah.”

Set ketiga lebih menegangkan dari nonton sinetron di tengah mati lampu. Skor 25–22. Brasil melawan, tapi servis mereka seperti janji kampanye, indah di awal, tapi gagal menyentuh target. Italia tampil seperti pemain catur yang tahu lawannya akan salah langkah bahkan sebelum bidaknya digerakkan. Pelatih Julio Velasco tak hanya merotasi pemain, dia merotasi takdir. Ketika Stella Nervini, pemain 21 tahun yang masih bau harum shampoo, masuk menggantikan Degradi yang cedera, semua orang tahu, ini bukan cuma pertandingan. Ini panggilan takdir.

Set keempat, Brasil sempat memimpin. Para fansnya berdoa, berteriak, bahkan ada yang mencoba barter doa dengan semesta. Tapi semesta tampaknya sedang berbicara bahasa Italia. Skor 25–22 menutup kisah ini. Saat Sylla menjatuhkan spike terakhir, langit Łódź seakan terbakar, bukan karena suhu, tapi karena air mata Brasil yang menguap jadi awan kekecewaan.

Brasil lagi-lagi runner-up. Empat kali masuk final VNL, empat kali gagal. Kalau ini bukan karma, mungkin ini stand-up comedy Dewa. Gabi dan Rosamaria bermain bagus, tapi bagus tidak cukup jika Italia sedang kerasukan roh Paola Egonu. Semua strategi Brasil rontok seperti WiFi di tengah hujan.

Italia juara. Lagi. Gelar ketiga dalam empat tahun. Rekor 29 kemenangan internasional. Tidak hanya menang, mereka membuat seluruh dunia menonton dan berkata: mamma mia, ini bukan tim, ini seni pertunjukan.

Brasil? Mereka pulang dengan medali perak, kisah luka baru, dan mimpi yang entah kenapa selalu berhenti di depan podium tertinggi. Tapi tak apa. Dalam olahraga, seperti cinta, kadang yang berjuang paling keras justru yang paling sering patah hati. Seperti biasa, Italia pulang ke Roma dengan piala di tangan, dan Brasil pulang ke Rio dengan harapan yang tinggal recehan.

“Timnas voli kita gimana, bang?”
“Baru saja dikalahkan juniornya. Tapi, tenang, anak muda ngalah dulu.”

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *