Jakarta, PBSN – Disclaimer: Ini hanya fiksi, tidak ada di dunia nyata. Kalau ada kesamaan, hanya kebetulan saja. Simak cerpen absurd ini sambil seruput kopi tanpa gula, wak! Awas tersedak ya.
Ruang rapat KPU negara sebelah, malam itu tegang. AC menderu dingin, tapi wajah para komisioner basah keringat. Mereka duduk melingkar, mata saling pandang, mirip mahasiswa mau presentasi tapi flashdisk ketinggalan di warnet.
“Pak Ketua,” bisik seorang anggota, “Keputusan 731 itu… netizen ngamuk. Katanya KPU kayak tukang parkir, baru kasih karcis, lima menit langsung ditarik lagi.”
Ketua KPU, Mochammad Aliuddin menghela napas berat. “Tenang… kita lembaga negara, bukan lembaga ecek-ecek. Harus wibawa.”
Belum sempat lanjut, seorang anggota lain angkat tangan. “Pak! Anak saya barusan WA: ‘Ayah trending di TikTok. Muka ayah jadi stiker dengan caption, cabut lagi, cabut lagi.’ Saya tak kuat, Pak. Anak saya sendiri ngakak!”
Suasana makin riuh. Ada yang garuk kepala, ada yang bolpoinnya patah diputer-puter.
Tiba-tiba pintu terbuka. Satpam masuk dengan muka panik. “Pak, ada emak-emak di luar pagar bilang, ‘KPU ini kayak mantan pacar. Baru jadian dua jam, eh ghosting.’ Saya bingung jawabnya, Pak.”
Belum reda, staf fotokopi nyelonong sambil bawa kertas beleber tinta. “Pak… mesin fotokopi mogok. Katanya capek bikin salinan aturan yang sebentar lagi dicabut lagi.”
Gedebuk! Satu anggota hampir jatuh dari kursi karena ngakak.
“Diam semua!” bentak Ketua KPU, tapi bibirnya sendiri bergetar nahan tawa.
Mereka coba simulasi. “Bayangkan konferensi pers besok. Saya bilang, aturan ini kami batalkan demi transparansi.” Seorang anggota langsung nyeletuk, “Itu kayak bilang, maaf ya, kemarin saya selingkuh. Demi keutuhan rumah tangga, sekarang saya batalkan perselingkuhan itu.”
Ruang rapat pun pecah. Tawa campur stres, mirip lomba ketawa darurat.
Tiba-tiba, pintu kembali berderit. Seorang tukang kopi masuk, masih pakai sarung dan kaos oblong. “Maaf, Pak. Ada yang pesan kopi tadi?”
Semua komisioner melongo. Ketua KPU refleks jawab, “Saya pesan, tapi bukan buat rapat penting…”
Tukang kopi santai meletakkan termos. “Saya bawa kopi hitam tanpa gula. Cocok buat situasi pahit kayak sekarang.”
Para anggota bengong. Tukang kopi lanjut. “Pak, kopi itu ada dua: manis atau pahit. Kalau terlalu manis, orang muak. Kalau pahit, orang kuat. Nah, keputusan bapak-bapak ini kayak kopi basi. Mau diminum pahit, nggak enak. Mau ditambah gula, tetap bikin perut mules.”
Semua hening. Lalu salah satu anggota berbisik, “Dia lebih filosofis dari kita semua, Pak…”
Ketua KPU pegang kepala. “Baiklah… saya pasrah. Kita cabut aturan itu.”
Tukang kopi nyengir, “Bagus, Pak. Kalau keputusan bisa dicabut, artinya demokrasi masih hidup. Tapi hati-hati, jangan sampai besok bapak-bapak dicabut juga dari kursi ini.”
Semua mendadak pucat.
Akhirnya, keputusan resmi dibatalkan. Di luar gedung, rakyat bersorak. Meme bertebaran, foto kucing duduk di kursi rapat dengan caption “KPU mode on, keluarin aturan, cabut aturan, keluarin lagi, cabut lagi.”
Indonesia pun ngakak berjamaah. Demokrasi berubah jadi panggung stand-up comedy, tiketnya gratis, dibayar pajak rakyat.
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar






