Pembunuh paling Kejam adalah Ekonomi

Opini, Politik, Sosial1407 Views

Di sebuah gedung kaca yang menembus awan, seorang pria menyesap kopi seharga upah harian buruh tani, sambil tertawa melihat grafik saham yang menghijau. Di saat yang sama, hanya beberapa kilometer di bawahnya, seorang ibu menatap sisa beras di karung dengan tatapan kosong, menghitung apakah cukup untuk menipu lambung anak-anaknya hingga esok pagi.

​Darah tidak harus tumpah untuk menyebut sebuah kejadian sebagai pembunuhan. Kadang, pelatuknya bukan pistol, melainkan tagihan listrik yang menunggak dan harga cabai yang tak masuk akal.

Ketika Angka Menjadi Algojo

​Kita sering menganggap ekonomi sebagai angka-angka membosankan di layar televisi atau kolom opini pakar berbaju rapi. Namun bagi rakyat jelata, ekonomi adalah penentu takdir. Ia adalah hakim yang memutuskan siapa yang berhak mendapatkan perawatan rumah sakit terbaik, dan siapa yang harus dipulangkan untuk “berpasrah” pada doa.

​Ekonomi bukan sekadar statistik; ia adalah rantai yang menentukan panjang pendeknya napas seseorang.

Cara Ekonomi Menghabisi Kita Perlahan

​Ekonomi tidak menyerang jantung secara langsung, ia menggerogoti kita melalui tiga cara yang sangat sistematis:

​Ia Membunuh Waktu: Banyak dari kita tidak lagi “hidup”, kita hanya “bertahan hidup”. Bekerja 14 jam sehari, berangkat saat gelap dan pulang saat pekat, hanya agar dapur tetap mengepul. Kita menukar seluruh masa muda kita hanya untuk membayar cicilan dan biaya dasar.

​Ia Membunuh Hubungan: Berapa banyak meja makan yang berubah menjadi medan perang karena uang?

Angka perceraian melonjak bukan karena hilangnya cinta, tapi karena tekanan finansial yang mencekik waras. Saat perut lapar, romansa adalah kemewahan yang tak terbeli.

​Ia Membunuh Masa Depan: Ekonomi adalah pencuri mimpi. Ia mewujud dalam bentuk stunting pada balita karena susu mahal, anak-anak cerdas yang putus sekolah karena biaya UKT yang mencekik, dan hilangnya harapan sebelum seseorang sempat mencoba.

Kesenjangan: Yang Kenyang Menasihati Yang Lapar

​Kritik paling pahit hari ini adalah melihat bagaimana mereka yang berada di puncak piramida menyuruh masyarakat bawah untuk “bekerja lebih keras” atau “berhemat”.

​Bagaimana mungkin seseorang bisa berhemat jika pendapatannya habis hanya untuk transportasi menuju tempat kerja? Kesenjangan ini bukan lagi soal perbedaan gaya hidup, tapi soal ketidakadilan sistemik. Si kaya membeli umur dengan teknologi medis terbaru, sementara si miskin menukar umur mereka dengan polusi dan stres demi upah minimum.

​”Sistem ini tidak sedang rusak. Ia justru sedang bekerja tepat seperti yang dirancang: Menggemukkan yang sudah makmur, dan memeras yang hampir hancur.”

Refleksi: Kita Bukan Sekadar Angka

​Sudah saatnya kita berhenti melihat manusia sebagai unit produksi atau angka statistik pertumbuhan nasional. Saat ekonomi tumbuh 5%, namun angka bunuh diri karena jeratan pinjol meningkat, maka pertumbuhan itu adalah sebuah kebohongan besar.

​Kita butuh sistem yang memanusiakan manusia, bukan sistem yang memuja akumulasi modal di atas nyawa. Jika hari ini Anda masih bisa membaca tulisan ini dengan tenang, ingatlah bahwa di luar sana, ada jutaan orang yang sedang “dibunuh” secara perlahan oleh sistem yang kita sebut normal ini.

​Sebab pada akhirnya, kemiskinan bukan sekadar nasib buruk, melainkan kejahatan yang dibiarkan oleh sistem yang mati rasa.

Publish oleh : Beaby Hendry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *