Luar Biasa Maroko Lolos ke Perempat Final Usai Hancurkan Kanada 3-0

News, Olahraga35 Views

Houston, PBSN – Maroko benar-benar berkelas. Luar biasa. Kanada dihancurkan sampai habis. Perempat final sudah diraih.

Di NRG Stadium, Houston, Amerika Serikat, dengan wasit Michael Oliver dari Inggris, Maroko kembali membuktikan, mereka bukan sekadar kuda hitam. Mereka sekarang sudah berubah menjadi singa Atlas yang kalau mengaum, satu stadion lupa cara berkedip.

Maroko, peringkat tujuh FIFA, diasuh Mohamed Ouahbi, pelatih asli Maroko. Bukan impor. Bukan beli lisensi. Bukan hasil flash sale. Sementara Kanada, peringkat 30 FIFA, ditangani Jesse Marsch yang malam itu mungkin berharap pertandingan cuma berlangsung lima menit.

Peluit pertama berbunyi. Baru menit pertama, para pendukung Maroko di Indonesia sudah sibuk mengibarkan bendera. Tetangga bingung. “Ada apa?” Dijawab singkat, “Latihan histeris dulu. Gol tinggal menunggu waktu.”

Menit ke-10 Kanada sempat mengancam. Tanitoluwa Oluwaseyi melepaskan tembakan berbahaya. Namun Bono menangkap bola dengan santai, seolah menerima paket COD yang memang sudah dia tunggu dari pagi.

Menit ke-20 Redouane Halhal mendapat kartu kuning karena tekel keras. Dua menit kemudian Ismael Saibari cedera dan digantikan Soufiane Rahimi. Pergantian ini kelihatannya biasa saja. Padahal semesta sedang mengaduk naskah yang nantinya membuat Kanada pusing tujuh keliling.

Menit ke-40 suasana mulai panas. Richard Laryea dan Achraf Hakimi sama-sama diganjar kartu kuning. Tiga menit kemudian Jonathan David ikut menyusul. Menit ke-45 Azzedine Ounahi juga dikuningi, disusul Bilal El Khannouss pada masa tambahan waktu. Michael Oliver malam itu seperti sedang mengikuti program “Beli Empat Kartu Kuning Gratis Satu.”

Babak pertama selesai tanpa gol. Masuk ruang ganti, Mohamed Ouahbi berdiri di depan pemainnya lalu memberi tausiyah. “Wahai anak-anakku, jangan bermain seperti politikus yang jago pidato tapi lupa janji. Bermainlah seperti rakyat yang bayar pajak, kerja keras, tapi jarang masuk berita. Gol itu ibadah. Operan yang tepat adalah sedekah. Kemenangan adalah zakat untuk para pendukung.”

Di ruang ganti Kanada, Jesse Marsch juga memberi wejangan. “Saudara-saudara, jangan seperti pejabat yang kalau ada masalah langsung bikin tim kajian. Kita sudah tertinggal penguasaan permainan, jangan nanti tertinggal alasan juga. Turunlah dengan keberanian. Jangan pulang membawa meme.”

Babak kedua dimulai. Baru empat menit berjalan…gooollll!!!

Menit ke-50, Achraf Hakimi mengirim assist kepada Azzedine Ounahi. Dari luar kotak penalti, Ounahi menghajar bola ke sudut kanan bawah gawang. Stadion meledak.

Pendukung Maroko di Indonesia langsung kehilangan gravitasi. Ada yang meloncat sampai sandal kirinya mendarat di halaman RT sebelah. Ada yang memeluk tiang listrik sambil berteriak, “Atlas Lions memang bukan kaleng-kaleng!” Bahkan kucing kompleks ikut kabur karena mengira kiamat datang lebih cepat.

Skor 1-0. Kanada mencoba bangkit. Pergantian pemain dilakukan. Cyle Larin masuk. Jacob Shaffelburg masuk. Harapan juga masuk.

Sayangnya…yang keluar justru rasa percaya diri. Menit ke-82…gooollll lagiii!!!

Brahim Diaz menyodorkan bola manis kepada Ounahi. Dengan ketenangan seorang kasir yang menghitung kembalian tanpa kalkulator, Ounahi menembak ke sudut kanan atas. Dua kosong!

Pendukung Maroko di Indonesia kini benar-benar seperti kesurupan massal. Grup WA keluarga berubah menjadi grup analisis taktik. Penjual kopi dadakan berubah menjadi komentator. Ada sujud syukur di ruang tamu. Ada memeluk televisi sampai layarnya berkabut. Bahkan sinyal internet konon sempat ngos-ngosan karena terlalu banyak status bertuliskan, “Merokok, eh salah, Maroko harga mati!”

Kanada seperti sedang mengejar angin pakai sepeda roda tiga. Menit ke-85 Rahimi nyaris menambah gol lewat sundulan yang menghantam mistar. Mistar gawang bergetar hebat, mungkin sedang mempertimbangkan pensiun dini.

Lalu tibalah penghujung drama. Menit 90+8. Gooooooollllll!!!

Brahim Diaz kembali menjadi pelayan yang murah hati. Umpannya menemui Soufiane Rahimi. Sang penyerang menendang tenang ke sudut kanan bawah. Tiga nol! Houston berguncang.

Pendukung Maroko di Indonesia mencapai level euforia yang sulit dijelaskan ilmu pengetahuan. Ada mengibarkan sajadah seperti bendera kemenangan. Ada menggendong galon air sambil berlari keliling kampung karena mengira itu trofi. Burung-burung beterbangan meninggalkan pohon.

Peluit panjang akhirnya berbunyi. Maroko menang telak 3-0.

Atlas Lions kembali menunjukkan, kejutan Piala Dunia edisi lalu bukan kebetulan. Mereka kini seperti dosen killer yang masuk kelas sambil berkata, “Hari ini kuis mendadak.” Semua lawan langsung pucat.

Kanada pulang membawa banyak pekerjaan rumah. Sementara Maroko melaju dengan dada membusung, membawa mimpi satu bangsa, dan membuat jutaan pendukungnya di seluruh dunia, termasuk Indonesia, tertawa, bernyanyi, dan histeris sampai tetangga bertanya, “Ini nonton bola atau baru menang undian?”

Saat tulisan ini dibuat, Prancis unggul 1-0 atas Paraguay, gol dicetak Kylian Mbappe menit 70. Sepertinya terulang Maroko vs Prancis ni.

 

 

 

 

Rosadi Jamani