Jakarta, PBSN – Selalu ada drama di menit akhir. Argentina tinggal beberapa menit unggul, eh disamakan 2-2. Akhirnya, Lione Messi bernapas lega, gol bunuh diri Cape Verde membuatnya lolos 16 besar.
Argentina, peringkat satu FIFA, juara dunia, negaranya Messi, datang ke Stadion Hard Rock, Miami, dengan gaya bos besar. Lawannya? Cape Verde, ranking 67 dunia. Penduduknya cuma sekitar 529.800 jiwa. Di Indonesia, jumlah itu bisa habis buat antre sembako di Monas.
Banyak yang mengira pertandingan ini bakal selesai sebelum tukang bakso lewat. Ternyata…yang hampir lewat justru harga diri Argentina.
Sejak menit pertama, Messi langsung beraksi. Menit 14 nyaris gol. Menit 18 tendangan bebasnya meluncur seperti surat cinta mantan, indah tapi ditolak mentah-mentah oleh kiper Vozinha.
Kiper Cape Verde bukan manusia. Dia menjelma kulkas empat pintu, gurita Pasifik, sekaligus tembok proyek yang belum kena audit.
Akhirnya menit ke-29…gooooool! Messi menjebol gawang Cape Verde. Indonesia langsung berubah menjadi Provinsi Buenos Aires Timur. Grup WA keluarga mendadak dipenuhi tulisan “GOAT!”
Yang semula jual gorengan mendadak jadi analis taktik. Yang biasanya debat politik sekarang debat siapa lebih hebat, Messi atau hukum gravitasi.
Babak pertama ditutup 1-0. Masuk ruang ganti, Lionel Scaloni memberi wejangan. “Anak-anak… jangan mentang-mentang ranking satu terus main seperti pegawai yang baru rajin lima menit sebelum atasan datang.”
Di ruang sebelah, pelatih Cape Verde, Pedro Leitao Brito, lebih absurd lagi. “Kalau politik bisa bikin yang kecil mengalahkan yang besar, kenapa sepak bola tidak?” Seluruh pemain langsung semangat. Bahkan handuk ikut berkibar patriotik.
Babak kedua dimulai. Menit 59…duaaarrr! Deroy Duarte mencetak gol. Skor 1-1. Stadion mendadak senyap seperti grup keluarga habis kirim hoaks lalu ditegur admin.
Sebaliknya, rakyat Cape Verde melonjak kegirangan. Kabarnya, kambing-kambing di pulau sana ikut mengembik dengan nada kebangsaan.
Messi menyerang lagi. Menit 63 diselamatkan. Menit 72 diselamatkan lagi. Vozinha malam itu seperti menginstal antivirus premium. Semua serangan Argentina dianggap virus lalu langsung dihapus.
Masuk perpanjangan waktu. Menit 92. Corner. Lisandro Martinez menyundul bola. Goooool! Argentina unggul 2-1. Pendukung Messi di Indonesia langsung histeris. Ada memeluk dispenser. Ada mencium televisi. Ada tiba-tiba mengaku punya buyut orang Argentina bernama “Pak Gonzales” padahal aslinya Mulyono.
Semua yakin pertandingan selesai. Ealah… Sepak bola memang suka bercanda lebih sadis Taufik Hidayat. Menit 103. Sidny Lopes Cabral melepas tembakan yang membuat Emiliano Martinez cuma bisa melihat bola lewat sambil merenung tentang kehidupan. Gooooool! 2-2!
Bumi Bergetar! Miami hampir mengajukan pindah provinsi. Gedung-gedung berasa goyang. Pendukung Cape Verde menjerit seperti baru menemukan sumur minyak.
Sementara pendukung Messi di Indonesia mengalami kesurupan nasional. Ada yang mematikan televisi sambil berkata, “Ini pasti mimpi.”
Lima detik kemudian televisinya dinyalakan lagi. Ada yang menyalahkan tetangga karena tadi sesumbar, “Argentina pasti pesta gol.”
Drama belum selesai. Menit 111. Corner Argentina. Bek Cape Verde, Diney Borges, berniat menyapu bola. Mungkin bola malam itu sedang punya dendam pribadi. Sundulannya malah masuk ke gawang sendiri. Autogol! 3-2!
Pendukung Argentina langsung hidup lagi seperti HP yang baru dicolok charger 120 watt. Cape Verde belum menyerah. Menit 116 tendangan bebas ditepis Emiliano Martinez. Menit 119 sundulan keras Steven Moreira kembali dimentahkan. Emiliano berubah menjadi pintu brankas Bank Indonesia. Mau pakai palu, linggis, atau doa tujuh malam, tetap tidak tembus.
Peluit panjang berbunyi. Argentina memang menang 3-2. Tetapi di laga itu seluruh dunia belajar satu hal. Ranking FIFA ternyata cuma angka. Sebab negara penduduknya belum sampai satu juta orang hampir saja membuat juara dunia pulang sambil membawa koper penuh rasa malu.
Kalau bukan karena satu gol Messi, sundulan Lisandro Martinez, dan autogol Diney Borges, mungkin pagi ini bukan warga Cape Verde yang bangun terlambat, melainkan seluruh pendukung Argentina yang masih pingsan berjamaah.
Di laga sebelumnya Australia satu-satunya wakil Asia, Asia rasa bule disingkirkan Mesir lewat drama adupenalti, 4-2. Sebentar lagi.
Rosadi Jamani
