Lagi Mbappe Cetak Gol, Mengantarkan Prancis Lolos P

News, Olahraga33 Views

Philadelphia, PBSN – Setelah menikmati kemenangan Maroko atas Kanada 3-0, kita lanjutkan kandidat juara, Prancis. Finalis Pildun edisi sebelumnya ini baru saja menghancurkan mimpi Paraguay 1-0. Dengan hasil ini, Prancis akan kembali reuni dengan Maroko, duh ini yang paling dinanti.

Paraguay baru saja takluk. Berhadapan dengan Prancis, peringkat 3 FIFA, di Lincoln Financial Field, Philadelphia, mereka bertahan seperti rumah kontrakan yang dikepung debt collector. Sementara Prancis datang membawa Kylian Mbappe, makhluk yang belakangan membuat para bek lebih sering berdoa dari menekel.

Peluit dibunyikan wasit Ilgiz Tantashev asal Uzbekistan. Didier Deschamps, pelatih asli Prancis, langsung mengomando pasukannya menyerbu. Di kubu lain, Gustavo Alfaro asal Argentina sibuk menyusun benteng pertahanan setebal tembok China versi sepak bola.

Menit pertama hingga babak pertama selesai, Paraguay bertahan mati-matian. Barcola bahkan menerima kartu kuning pada menit ke-19 setelah tekel keras. Wasit mengeluarkan kartu lebih cepat dari emak-emak mengeluarkan sandal saat anak pulang tengah malam.

Skor tetap 0-0. Masuk ruang ganti, suasana berubah seperti rapat kabinet.

Didier Deschamps memberi tausiyah, “Anak-anak, jangan jadi politisi. Jangan banyak janji menyerang. Rakyat… eh penonton… butuh gol, bukan konferensi pers.”

Di ruang sebelah, Gustavo Alfaro ikut berkhotbah, “Kalau nanti kalah, jangan salahkan rumput, angin, cuaca, apalagi konspirasi galaksi. Yang penting pulang masih bawa harga diri.”

Babak kedua dimulai. Menit ke-54, Manu Kone melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti. Orlando Gill melakukan penyelamatan luar biasa. Konon setelah menepis bola itu, kedua telapak tangannya mengajukan pensiun dini.

Cedera mulai menghantam Paraguay. Omar Alderete keluar pada menit ke-58. Julio Enciso menyusul menit ke-61. Prancis memasukkan Desire Doue untuk menambah tekanan. Stadion mulai terasa seperti panci presto yang tinggal menunggu peluit meledak.

Lalu datang menit ke-65. Doue dijatuhkan di kotak penalti. Pemain Prancis mengerubungi wasit seperti warga menemukan truk durian terguling. Namun Ilgiz Tantashev bergeming. Permainan diteruskan.

Eh… tunggu! VAR memanggil. Seluruh stadion mendadak sunyi. Bahkan burung camar yang melintas di langit Philadelphia dikabarkan parkir dulu di awan. Sinyal internet sedunia seperti ikut menunggu keputusan.

Menit ke-68. VAR menunjuk titik putih. Penalti!

Pendukung Prancis menjerit. Pendukung Paraguay menatap layar VAR seperti mahasiswa melihat nilai skripsi yang tinggal satu huruf lagi lulus.

Menit ke-70. Mbappe maju. Satu langkah…Dua langkah…Dorrr! Bola meluncur ke sudut kanan bawah gawang. Goooooooollll!!

Paris langsung pesta pora. Menara Eiffel nyaris mengajukan cuti karena terus-menerus dijadikan tempat selebrasi. Sungai Seine dikabarkan bergelombang bukan karena angin, tetapi karena jutaan warga melompat bersamaan.

Yang paling dramatis justru terjadi di Indonesia. Pendukung Mbappe mendadak kesurupan kolektif. Warung kopi berubah menjadi Kedutaan Besar Prancis cabang Nusantara.

Ada yang memeluk televisi sambil menangis, “Mbappe… bawalah aku ke Paris!” Ada yang mencium remote TV seperti benda keramat. Ada yang mengganti foto profil keluarga menjadi wajah Mbappe. Bahkan ayam yang sedang berkokok mendadak terdengar seperti meneriakkan, “Allez Les Bleus!”

Gol itu menjadi koleksi ketujuh Mbappe di turnamen. Bek-bek lawan mulai diyakini menyimpan fotonya bukan untuk diidolakan, melainkan agar tahu wajah orang yang membuat mereka mimpi buruk setiap malam.

Paraguay mencoba bangkit. Gabriel Avalos dan Mauricio masuk pada menit ke-71. Prancis membalas dengan memasukkan Rayan Cherki pada menit ke-84. Manu Kone dan Michael Olise sama-sama mendapat kartu kuning. Pertandingan makin panas, tetapi benteng Prancis tetap berdiri seperti tiang listrik yang lupa cara tumbang.

Sampai akhirnya menit 90+11. Peluit panjang berbunyi. Prancis menang 1-0. Kandidat juara itu terus melaju dan kini harus bentrok dengan Maroko di perempat final.

Kalau Mbappe kembali mencetak gol nanti, jangan heran kalau pendukung Prancis di Indonesia mendadak belajar bahasa Prancis dalam lima menit, memesan croissant tengah malam, lalu mengaku leluhurnya berasal dari pinggiran Paris.

 

 

 

 

Rosadi Jamani