Cibinong, PBSN – Ya, mau gimana lagi, inilah bola. Menguasai ball position di atas 60%, main di kandang sendiri lagi, Timnas dipermalukan Vietnam 0-3. Tenang, peluang masih ada, lawan Singapura.
Sejak sore, fans Indonesia sudah menyiapkan senjata nasional, kopi, pisang goreng, doa, dan keyakinan, Garuda akan menggeprek Vietnam. Dari kakek, nenek, emak-emak sampai bocah, semua siap menyaksikan perang sepak bola di Stadion Pakansari, Cibinong.
Indonesia datang dengan peringkat FIFA 118. Vietnam 99. Ternyata peringkat FIFA bukan sekadar angka. Malam ini angka berubah menjadi firasat buruk.
Peluit wasit Danaskos asal Australia berbunyi. Pakansari langsung meledak. Indonesia menyerang sejak menit pertama. Menit ketiga, Thom Haye dikasari pemain Vietnam sampai tergeletak. “Woi! Main kasar! Gua segel loe!” teriak Farhan.
Menit keenam, Vietnam menjawab dengan cara paling menyakitkan. Hoang Duc Nguyen mengirim umpan manis kepada Van Vi Nguyen. Satu sepakan ke kiri gawang, Nadeo Argawinata tak mampu mengantisipasi. Gol! 0-1.
Fans Indonesia mendadak berubah menjadi patung. “Kok bisa gol?”
Fans Vietnam justru mengamuk histeris. Suaranya mungkin sampai membuat tahanan korupsi di penjara terbangun dan bertanya, “Vietnam menang, ya?”
Indonesia menguasai permainan sekitar 65 persen. Garuda menyerang tiada henti. Namun Vietnam seperti harimau pura-pura tidur.
Menit berikutnya, Hai Long Nguyen berlari dari sayap kiri, kemudian melepaskan tembakan ke kiri Nadeo. Gol! 0-2.
“Nadeo kok begitu mainnya?”
“Ganti saja Nadeo!”
Fans Vietnam semakin menggila. Negeri yang pernah mengusir Amerika dari halaman rumahnya itu kini sedang mengusir Garuda dari papan skor.
Pertahanan Vietnam yang dikawal Thanh Chung Nguyen, Xuan Manh Pham, Viet Anh Bui Hoang, Tien Anh Truong, dan Van Vi Nguyen menjadi tembok beton. Garuda menyerang kanan-kiri-tengah, tetapi tembok itu belum runtuh.
Menit ke-31, Thom Haye malah menekel pemain Vietnam sampai terkapar. Kartu kuning diberikan Danaskos.
Menit ke-41, Vietnam nyaris mencetak gol ketiga lewat tandukan yang meluncur tipis. Fans Indonesia masih mencoba waras. “Masih panjang!” Babak pertama berakhir 0-2.
Di ruang ganti, John Herdman mencoba membangkitkan pasukan. “Kalian kebanyakan ngopi pakai gula! Gini akibatnya, loyo! Ayo semangat seperti Prabowo mengejar koruptor sampai Antarktika!”
Kim San-sik memberi instruksi lebih sederhana. “Dua gol sudah. Pertahankan. Kalau bisa tambah.”
Babak kedua dimulai. Vietnam malah bermain terbuka. Indonesia tetap percaya diri meski papan skor sudah seperti surat tagihan. Menit ke-61, Thom Haye menembak dari kotak penalti. Patrik Le Giang menangkapnya. Penonton sudah siap berteriak. Ternyata batal.
Vietnam kemudian menciptakan dua peluang berbahaya. Herdman panik dan memasukkan Jens Raven, Beckam Putra, serta Tim Geypens. Harapan mulai tumbuh.
Lalu menit ke-71, harapan itu diinjak. Nguyen Kuan Son alias Rafaelson, pemain naturalisasi dari Brasil, menjebol gawang Nadeo. 0-3. Vietnam pecah. Fans mereka histeris seperti baru mendapat warisan satu negara.
Fans Indonesia mulai ada mematikan televisi. Kopi mendadak pahit. Pisang goreng kehilangan kehormatan.
Menit ke-80, Mitchell Lee Baker masuk kotak penalti, tetapi dua bek Vietnam menggagalkan peluang. Menit ke-82, Rizky Pratama masuk menggantikan Baker. Menit ke-87, Rizky nyaris mencetak gol lewat tandukan. Namun Patrik Le Giang malam itu punya tangan seribu.
Peluit panjang berbunyi. Indonesia 0, Vietnam 3. Garuda datang hendak menggeprek Naga Biru, tetapi justru digoreng sampai gosong.
Indonesia kini turun ke peringkat ketiga Grup A. Vietnam memimpin. Namun peluang belum mati. Masih ada Singapura. Satu laga tersisa. Indonesia wajib menang jika ingin lolos.
So, Garuda, jangan menangis dulu. Kopi boleh pahit. Pisang goreng boleh dingin. Harga diri boleh remuk. Tetapi pertandingan terakhir belum dimainkan. Kalau kalah lagi, barulah kita bikin tahlilan sepak bola.
Rosadi Jamani
