Bandung, PBSN – Kita lanjutkan kisah aksi penebangan 10 pohon mahoni. Sabtu-Minggu kita maklum. Libur. Dinas libur. Satpol PP mungkin sedang mengecas sepatu dinas. Wali kota juga manusia, bukan robot penyegel. Tapi hari ini Senin. Apakah ada aksi penyegelan? Simak narasinya.
Monday. Kantor Pemkot Bandung kembali hidup. Dinas mulai bekerja. Satpol PP kembali siaga. Maka satu pertanyaan kini berputar lebih cepat dari angkot ngetem di Braga, “Farhan wani henteu nyegel SixNine Coffee & Dining?”
Sebab beberapa hari lalu Muhammad Farhan sudah mengeluarkan jurus pamungkas di depan kamera. “Gua segel loe!” Amarahnya itu mengguncang nusantara. Kalimat itu langsung viral. Warga Bandung seperti mendapat vitamin. Akhirnya ada wali kota ngamuk gara-gara 10 pohon mahoni ditebang.
Sebanyak 10 pohon itu berada di Jalan LLRE Martadinata atau Jalan Riau. Pohonnya bukan bonsai. Bukan tanaman cabai. Mahoni puluhan tahun, tumbang dalam semalam seperti sejarah Bandung ditebas gergaji mesin.
Farhan datang. Marah. Satpol PP turun. Garis dipasang. Publik tepuk tangan. Tapi tunggu dulu. Yang disegel ternyata area tempat pohon berdiri.
Kafenya? Masih buka. Lapangan padel? Masih ramai. Pengunjung? Masih ngopi. Parkiran? Tetap penuh.
Muncul pertanyaan paling nyebelin sedunia, “Kang, ini yang disegel tanahnya atau kafenya?” Dalam bahasa Sunda, “Kang, ieu nu disegel téh tanahna atanapi kaféna?” Kalau tanah kosong sudah kehilangan 10 pohon disegel, rasanya seperti memasang gembok di kandang ayam setelah ayamnya dibawa kabur. Dramatis, tetapi ayam tetap hilang.
Kepala Satpol PP Bambang Sukardi menyebut pihaknya sudah mengetahui identitas para penebang. Namun mereka disebut hanya eksekutor. Mereka mengaku disuruh kontraktor.
Nah, ini baru menarik. Kalau pekerja cuma menjalankan perintah, siapa yang menyuruh kontraktor? Kalau kontraktor cuma menerima perintah, siapa yang memberi perintah pertama?
Inilah kepala naga yang ditunggu.
Sebab menebang 10 mahoni bukan pekerjaan seperti memotong daun bawang untuk bikin seblak. Ada gergaji mesin, pekerja, kendaraan, pengangkutan, dan waktu. Masa pohon sebesar itu tumbang, truk datang, batang dibawa, lalu semua orang mendadak mengalami amnesia berjamaah?
Kalau benar tidak ada yang tahu, pelakunya layak masuk Hogwarts. Jurusnya bukan “Wingardium Leviosa”, tetapi “Wingardium Pohon Hilang.”
Farhan sudah menyatakan penebangan melanggar Perda Kota Bandung dan Surat Edaran Moratorium Penebangan Pohon Gubernur Jabar. Ia juga menyatakan akan melapor kepada gubernur dan Kementerian Lingkungan Hidup.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga tidak bisa pura-pura tidak melihat. Moratorium penebangan itu justru berasal dari pemerintahannya. Bahkan aturan tersebut disebut akan diperkuat menjadi Pergub pada 2026.
Maka Senin ini menarik. Karena publik tidak lagi menunggu Farhan marah. Marahnya sudah viral. Sekarang publik menunggu aksinya. Tidak perlu Superman. Tidak perlu Batman. Tidak perlu adegan lari-lari di Braga sambil membawa borgol.
Cukup hukum bekerja. Kalau ada bukti, buka. Kalau ada pelaku, proses. Kalau ada kontraktor, periksa. Kalau ada dalang, kejar.
Kalau semuanya berhenti di pekerja lapangan, berarti yang ditemukan baru ekornya. Kepalanya masih ngumpet. Jangan sampai ending-nya tiba-tiba menjadi sinetron, semua tersenyum, berjabat tangan, lalu muncul kalimat sakti birokrasi, “Damai itu indah.”
Waduh. Publik bisa ngakak sampai batagor keluar dari hidung. Sebab Farhan sudah terlanjur mengatakan, “Gua segel loe!”
Hari ini Senin. Kantor sudah buka. Satpol PP sudah kerja. Mesin birokrasi sudah panas. Maka Bandung menunggu satu hal, apakah “Gua Segel Loe!” akan menjadi tindakan, atau cuma menjadi quote paling viral yang akhirnya menyegel kenangan?
Sepuluh mahoni sudah mati. Jangan sampai keberanian juga ikut mati. Kang Farhan, panggung sudah siap. Sekarang giliran eksekusi.
Rosadi Jamani
