Jakarta, PBSN – Mas Dar (Kepala BGN, Sudaryono) buka matamu! Dalam tiga hari hampir 2.000 orang tumbang setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka siswa, guru, santri, ibu menyusui, dan balita. Mereka bukan angka statistik. Mereka manusia yang pulang dari sekolah bukan membawa tenaga untuk belajar, tetapi mual, muntah, dan diare.
Dalam rentang 1–3 September 2026, sedikitnya 1.964 siswa, guru, dan penerima manfaat lain terdampak di enam klaster. Mas Dar, lihat mereka! Anak-anak itu cuma ingin makan. Mereka tidak meminta pesta. Tidak meminta steak. Cuma ingin makan dan pulang dalam keadaan sehat.
Di Sidoarjo, sekitar 664–668 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan pelajar sekitarnya keracunan. Makanan matang pukul 05.00, diberi label seolah aman sampai 10.00, dikirim sekitar pukul 11.00 lebih, lalu baru dimakan di atas pukul 12.00. Mas Dar, menyebutnya “kelalaian yang disengaja.”
Mas Dar, kalau benar disengaja, siapa yang bertanggung jawab? Jangan sampai yang disengaja cuma label waktunya. Sementara yang tidak disengaja adalah air mata orang tua. Kata kelalaian yang disengaja sampai sekarang menjadi misteri. Korban bertumbangan, tapi tidak ada tersangka.
Di SMAN 1 Lasem, Rembang, sekitar 750–777 orang, terdiri dari 725 siswa dan 25 guru, mengalami diare massal. Menu: ayam bakar, nasi, mendoan, semangka. Ada keterangan ayam diduga sudah berlendir. Makanan dimasak sekitar pukul 03.00 dini hari, dimakan siang.
Mas Dar, ini makanan bergizi atau sedang menguji apakah lambung anak-anak punya sertifikat ketahanan nasional? Mereka siswa, bukan kelinci percobaan. Itu anak orang, Mas Dar.
Di Tana Toraja, sekitar 136–152 siswa SMPN 1 dan 2 Makale keracunan setelah makan ayam kuning, tempe, tumis sayur, dan melon. Di Nganjuk, 49 siswa SMAN 3 dan seorang guru mual dan muntah setelah makan nasi goreng.
Sementara di Agam, Sumatera Barat, angka korban berubah dari 237, naik menjadi 334, lalu diperbarui sekitar 276 orang, termasuk ibu menyusui dan balita. Ditambah klaster Jombang sekitar 85 orang.
Mas Dar, angka boleh berubah karena pendataan. Tetapi air mata ibu tidak mengenal istilah “update data”.
Yang lebih menyakitkan, ini bukan kejadian pertama. JPPI mencatat 43.838 anak dan warga menjadi korban sejak program ini digulirkan. Empat puluh tiga ribu delapan ratus tiga puluh delapan!
Setiap kejadian, pola muncul hampir selalu sama. Pejabat meminta maaf, menjanjikan evaluasi, meneriakkan zero tolerance, dan mengancam mencopot kepala dapur. Lalu beberapa waktu kemudian muncul kasus baru.
Mas Dar, jangan sampai “evaluasi” berubah menjadi menu tetap MBG: disajikan setiap kali ada korban, lalu dilupakan ketika berita berganti. Makanan terlalu pagi. Didiamkan terlalu lama. Didistribusikan terlalu jauh. Dimakan terlalu siang. Bakteri pesta, anak-anak menderita, orang tua panik.
Sementara program ini menggunakan dana ratusan triliun rupiah. Nyolong dana pos pendidikan lagi. Mas Dar, uang sebesar itu seharusnya membeli keselamatan, bukan sekadar membeli target jumlah porsi.
Mas Dar, kamu mungkin melihat angka korban. Orang tua melihat anaknya terbaring sakit. Jangan pernah samakan keduanya. Sudah cukup.
Kalau ada kelalaian, benahi. Kalau ada pelanggaran, tindak. Kalau ada unsur pidana, proses. Jangan tunggu korban berikutnya untuk kembali berkata, “Kami akan evaluasi.”
Mas Dar, buka matamu! Mereka cuma ingin makan. Setelah makan, mereka cuma ingin pulang sehat. Jangan sampai program yang namanya Makan Bergizi Gratis justru membuat anak-anak belajar satu pelajaran paling pahit, untuk mendapatkan makanan dari negara, mereka harus terlebih dahulu mempertaruhkan kesehatan mereka.
“Bang, keracunan MBG sebentar lagi mirip korupsi, dianggap biasa dan normal. Soalnya gitu-gitu saja. Kadang bosan juga.”
Rosadi Jamani












