Jakarta, PBSN – Misalkan, ada seorang pria dicurigai membunuh, lalu masuk ke sebuah kampung. Tak ada ngaku sebagai pembunuh. Berbekal hasil DNA, polisi minta seluruh warga kampung yang pria dewasa, jumlahnya 22 ribu orang seluruhnya dites DNA. Pasti dari 22 ribu itu ada DNA yang identik. Kira-kira begitu cerita nyata ini. Simak narasinya sambil menikmati kopi liberika, wak!
Cerita ini menimpa seorang gadis 13 tahun bernama Yara Gambirasio. Ia ditemukan tewas tragis setelah menghilang dari latihan senamnya. Polisi Italia kalang kabut, Sherlock Holmes pensiun dini, Hercule Poirot cuma bisa tepuk jidat, lalu muncullah ide gila, tes DNA massal terhadap 22 ribu orang.
Ya, dua puluh dua ribu, wak! Itu lebih banyak dari jumlah warga di sebuah kecamatan kecil di Kalimantan. Petugas forensik berkeliling seperti sales MLM genetika, “Permisi, bisa kasih air liur sedikit? Hanya demi masa depan peradaban.” Ribuan sampel pun dikumpulkan, dianalisis, dipetakan. Seakan-akan seluruh Italia berubah jadi laboratorium raksasa.
Kenapa segila itu? Karena pada pakaian dalam Yara, ditemukan jejak DNA misterius. DNA ini ibarat tiket parkir yang tercecer di TKP, hanya bisa terbaca dengan mesin canggih. Dari jejak kecil itu, polisi percaya sang pelaku meninggalkan setengah dari dirinya. Masalahnya, siapa? Maka satu per satu warga diperiksa, dari sopir bus sampai tukang kebun, dari mahasiswa sampai kakek-kakek.
Akhirnya, jackpot! DNA tersebut cocok dengan seorang pekerja bangunan bernama Massimo Bossetti. Lelaki biasa, tidak punya wajah jahat ala film mafia, tapi genomnya bernyanyi keras. “Ini aku, tak bisa kau sembunyikan.” Publik pun terbelalak. Apakah ini akhir? Tentu tidak. Bossetti membantah, mengatakan DNA bisa salah, bisa tercemar, bisa direkayasa. Tapi mari kita jujur, memalsukan DNA itu lebih susah dari bikin sate padang tanpa daging.
Tes DNA massal ini masuk sejarah karena belum pernah ada polisi yang menyisir 22 ribu genom demi satu kebenaran. Di era di mana orang masih percaya horoskop, Italia justru percaya pada laboratorium. Inilah bedanya, bintang zodiak bisa bilang nuan bakal beruntung hari Selasa, tapi DNA bisa bilang siapa yang menusuk gadis remaja di malam dingin Lombardy.
Nah, sekarang kita tengok Nusantara. Tahun 2025, Indonesia pun sempat heboh dengan tes DNA, tapi beda skala. Bukan 22 ribu orang, hanya segelintir, Lisa Mariana, Ridwan Kamil, dan anak berinisial CA. Sama-sama dramatis, sama-sama disorot publik, tapi satu soal pembunuhan, satu soal gosip. Bedanya, di Italia, DNA menjebloskan orang ke penjara. Di Indonesia, DNA justru menyelamatkan nama besar dari fitnah. Dua sisi mata uang, satu kitab genetik yang sama.
Filsafatnya sederhana. DNA adalah hakim agung tanpa ruang sidang. Ia tak bisa disuap, tak bisa dibohongi. Ia menuliskan kebenaran di inti sel, lalu menunggu manusia cukup nekat untuk membacanya. Sejarah tes massal 22 ribu sampel itu bukan hanya catatan kriminal, tapi juga peringatan bahwa di dunia modern, kebenaran ada di pipet laboratorium, bukan di mulut politisi atau timeline Tiktok.
So, kalau sampeyan masih percaya gosip lebih dari sains, ingatlah, Italia pernah memaksa 22 ribu orang membuka rahasia air liurnya demi keadilan seorang anak. Rahasia itu, wak, lebih jujur dari sejuta klarifikasi konferensi pers.
Untuk lebih jelasnya, kalian bisa menonton filmnya berjudul “Yara” ada di youtube. Saya sudah nonton, dan keren.
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar






