Jakarta, PBSN – Sesekali memberikan pencerahan soal nilai rupiah. Rupiah hampir menyentuh 18 ribu per dolar Amerika. Pertanyaannya, bila rupiah terus jatuh, apakah negeri kita runtuh?
Setiap kali rupiah melemah terhadap dolar AS, rakyat Indonesia selalu berubah menjadi profesor ekonomi dadakan. Tukang gorengan mendadak bicara “yield US Treasury”. Sopir travel tiba-tiba membahas “capital outflow”. Bahkan grup WA keluarga yang biasanya cuma kirim video kucing joget mendadak berubah seperti seminar IMF. Semua panik. Semua sok paham. Semua merasa negara mau tamat seperti sinetron azab yang pemeran utamanya disambar petir habis korupsi bansos.
Ketika rupiah menyentuh Rp 17.529 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, pertanyaan besar mulai berkeliaran di kepala rakyat, “Waduh… kalau rupiah terus jatuh, Indonesia bakal runtuh nggak?”
Jawabannya, belum. Tapi kalau dibiarkan, kita bisa masuk fase “negara ngos-ngosan sambil pura-pura kuat.” Mirip orang habis lari 10 kilometer tapi masih bilang, “Santai kok,” padahal paru-parunya sudah bunyi seperti knalpot bajaj.
Masalahnya, pelemahan rupiah kali ini bukan sekadar gara-gara perang global atau drama Timur Tengah. Itu cuma bumbu. Cabe rawitnya ada di dalam negeri sendiri. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, bahkan bilang sekitar 80% tekanan rupiah berasal dari faktor domestik. Artinya rumah kita sendiri bocor, tapi kita sibuk nyalahin cuaca luar negeri.
Memang kelihatan. Dalam enam bulan terakhir, rupiah melemah terhadap sekitar 85% mata uang dunia. Bukan cuma kalah lawan dolar AS, tapi juga ngos-ngosan melawan dolar Singapura, ringgit Malaysia, baht Thailand, dong Vietnam, sampai peso Filipina. Ini bukan lagi pertandingan ekonomi. Ini seperti lomba balap motor, tapi Indonesia datang naik sepeda ontel sambil bonceng Rismon.
Penyebab utamanya? Defisit anggaran melebar mendekati 3% pada 2025 dan diperkirakan lanjut pada 2026. Investor asing melihat kondisi itu seperti lihat kos-kosan dengan tulisan “bebas banjir”, tapi di dalamnya ikan lele sudah berenang di ruang tamu. Mereka takut. Mereka tarik duit. Terjadilah capital outflow sebesar 1,7 miliar dolar AS pada triwulan I 2026.
Begitu modal asing keluar, dolar diburu. Rupiah pun jatuh seperti harga janji politik setelah pemilu selesai.
Belum lagi neraca perdagangan mulai kehilangan tenaga karena ekspor melemah. Selama ini kita terlalu nyaman ekspor bahan mentah seperti batu bara, nikel, CPO. Kita ini seperti petani pisang yang bangga jual batangnya, sementara negara lain mengolah buahnya jadi duit triliunan. Ketika harga komoditas turun, ekonomi langsung limbung seperti prasmanan diserbu ormas rasa tentara.
Lalu datang faktor global memperparah keadaan. Konflik Timur Tengah bikin harga minyak naik. Suku bunga AS tetap tinggi. Yield US Treasury makin menarik. Investor global pun balik ke Amerika seperti mantan yang sadar pacarnya sekarang kerja di Silicon Valley.
Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda menegaskan, perang bukan akar masalah fundamental rupiah. Pelemahan sudah terjadi sebelum konflik. Jangan semua disalahkan ke geopolitik. Itu seperti mahasiswa tidak belajar lalu menyalahkan cuaca karena gagal ujian.
Nah, dampaknya ke rakyat mulai terasa pelan-pelan seperti santet ekonomi. Imported inflation datang tanpa permisi. Indonesia masih impor banyak barang penting seperti BBM, LPG, gandum, kedelai, obat-obatan, bahan baku industri, plastik, elektronik. Ketika rupiah melemah, semuanya naik harga.
Sidak bayangkan saja. Indonesia masih impor sekitar 1 juta barel minyak per hari. Rupiah melemah sedikit, subsidi energi langsung megap-megap. Harga gandum naik, mie ikut naik. Kedelai naik, tahu-tempe ikut menjerit. Plastik mahal, minyak goreng kemasan ikut mahal. Bahkan nanti jangan kaget kalau beli kerupuk rasanya lebih mewah dari beli saham.
Nailul Huda bilang dampaknya mulai terasa dua sampai tiga bulan ke depan. Sekarang plastik saja sudah mahal karena distribusi dan nilai tukar. Ini efek domino. Kalau plastik naik, kemasan naik. Kalau kemasan naik, harga produk naik. Kalau semua naik, yang turun tinggal harapan rakyat.
Kelas menengah dan bawah paling kena pukul. Mereka ini penyumbang utama konsumsi nasional yang mencapai lebih dari 53% PDB. Tapi pengeluaran mereka sebagian besar buat kebutuhan pokok. Ketika harga pangan, transportasi, cicilan, dan utilitas naik, daya beli langsung remuk. Gaji tetap segitu-segitu saja. Naiknya cuma motivasi HRD dan caption LinkedIn.
Peneliti INDEF Abdul Manap Pulungan mencatat depresiasi rupiah Indonesia lebih besar dibanding negara ASEAN lain. Ini menunjukkan ada kerentanan struktural. Bahasa gampangnya, ekonomi kita gampang goyang. Sedikit angin global datang, kita sudah muter-muter seperti antena TV kena badai.
Dunia usaha juga mulai panas dingin. Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Sarman Simanjorang, sudah memperingatkan pelemahan rupiah memukul cash flow dan biaya operasional perusahaan. Kalau tekanan terus berlanjut, perusahaan akan melakukan efisiensi. Di Indonesia, kata “efisiensi” sering kali artinya, “Selamat ya, nuan sekarang punya lebih banyak waktu di rumah.”
Ancaman PHK pun mulai mengintai. UMKM paling rentan karena biaya produksi naik, tapi harga jual tidak bisa seenaknya dinaikkan. Takut pembeli kabur. Jadilah pelaku usaha hidup seperti akrobat sirkus. Jatuh salah, bertahan pun salah.
Lalu muncul pertanyaan besar, apakah Indonesia akan runtuh?
Kalau yang dibayangkan adalah negara langsung kolaps seperti film zombie, jawabannya tidak. Indonesia masih punya cadangan devisa USD 146,2 miliar per April 2026. Bank Indonesia juga masih aktif intervensi pasar valas. Inflasi Maret 2026 masih 3,48% year on year. BI Rate tetap 4,75%. Jadi fondasi kita belum runtuh total.
Tapi jangan salah paham. Tidak runtuh bukan berarti aman sentosa sambil rebahan. Ada bom waktu yang pelan-pelan berdetak. Kontribusi manufaktur terhadap PDB sekarang tinggal sekitar 18-19%, padahal era 1990-an pernah lebih dari 28%. Ini tanda deindustrialisasi dini. Negara makin kehilangan kekuatan produksi.
Kita terlalu lama bergantung pada ekspor komoditas mentah. Begitu harga batu bara atau nikel turun, ekonomi langsung panik seperti influencer kehilangan engagement.
Utang luar negeri dalam dolar juga membuat situasi rawan. Rupiah melemah berarti beban utang membengkak. Rasanya seperti pinjam payung, tapi pas dikembalikan ternyata harus sekalian bayar helikopter.
Karena itu solusi tidak cukup cuma intervensi jangka pendek. BI boleh beli SBN sampai Rp 111,54 triliun pada April 2026. Boleh jaga likuiditas. Boleh intervensi pasar valas. Tapi kalau ekonomi masih tergantung impor dan bahan mentah, rupiah akan tetap rapuh.
Solusi sejatinya adalah reformasi struktural. Kurangi impor, perkuat industri dalam negeri, dorong ekspor bernilai tambah, perbaiki iklim investasi, dan jaga disiplin fiskal. Jangan terus bangga jadi negara kaya sumber daya kalau ujung-ujungnya cuma jadi tukang jual bahan mentah murah lalu beli barang jadi mahal.
So, bila rupiah terus jatuh, apakah Indonesia runtuh?
Belum. Tapi kalau penyakit lama terus dipelihara, kita bisa masuk era “negara bertahan hidup sambil senyum palsu.” Ekonominya belum mati, tapi rakyatnya mulai hidup dalam mode hemat permanen. Itu jauh lebih menyeramkan dari sekadar angka kurs di layar Bloomberg.
Rosadi Jamani












