Paris, PBSN – Kita ke Prancis lagi. Di negeri ini sedang mengalami kiamat rasa diskon akhir zaman. Sabtu, 17 Oktober 2026, sekitar 500 ribu orang menurut pemerintah atau 800 ribu versi penyelenggara turun ke jalan. Selisih angka 300 ribu itu mungkin akibat kalkulator demonstrasi ikut terbakar. Mereka marah soal harga bensin, biaya hidup, dan sekolah bobrok. Revolusi 1789 rupanya belum tamat. Cuma ganti kostum, dari wig kerajaan menjadi masker hitam.
Lalu Limoges meledak dalam kekacauan. Balai kota berusia 143 tahun, bangunan neo-Renaissance yang selamat dari dua perang dunia, malah dilahap api. Atapnya ambruk, menara jamnya runtuh. Bangunan bersejarah itu mungkin sedang berpikir, bertahan dari perang dunia saja bisa, menghadapi manusia zaman sekarang ternyata lebih susah.
Di Paris, kaca toko pecah, mobil terbakar, sepeda jadi arang. Ratusan hingga 1.500 toko dijarah. Marseille, Lyon, dan Lille ikut berpesta tanpa undangan. Kantor pariwisata dibakar, McDonald’s dilalap api, balai kota dicorat-coret. Para demonstran bertopeng berlarian seperti ninja kehilangan honorarium.
Hampir 2.400 orang ditangkap. Sekitar 70 persen merupakan orang dewasa, sisanya anak-anak. Hampir 1.000 polisi, gendarme, dan petugas pemadam kebakaran terluka. Batu bata beterbangan, kaca berhamburan, tubuh memar. Seorang demonstran meninggal akibat serangan jantung di Paris. Di tengah kekacauan, jantung manusia rupanya punya batas toleransi terhadap kegilaan massal. “Bang, memenjarakan 2.400 orang gimana?” Udah ikuti aja ceritanya, wak.
Minggu malam, Presiden Emmanuel Macron muncul di Istana Élysée dengan wajah barangkali sudah kehilangan garansi ketenangan. Ia mengaku bangsa Prancis marah sekaligus malu. “Bagaimana orang Prancis bisa melakukan ini terhadap Prancis?” tanyanya. Pertanyaan bagus, wak. Tinggal tanyakan pula kepada balai kota Limoges mengapa harus menjadi korban pembakaran massal.
Macron membedakan demonstran damai dari kelompok ultra-kiri dan kriminal penyebar kekacauan. Ia menolak mundurnya Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez, meminta metode baru, dan memberi kewenangan untuk melarang pertemuan. Masalahnya, kalau amarah rakyat sudah mendidih, larangan berkumpul bisa terasa seperti melarang air menjadi basah.
Macron juga menghubungkan lonjakan harga bahan bakar dengan konflik di Teluk Persia. Prancis tidak ikut perang, tetapi ikut menanggung akibatnya. Besoknya, ia terbang ke Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Qatar mencari minyak. Logikanya, kalau bensin bikin rakyat ngamuk, cari minyaknya. Semoga sekalian menemukan tombol pemadam amarah nasional.
Dari Amerika, Donald Trump muncul di Truth Social sambil berteriak, “France is burning!” Ia menyalahkan imigrasi dari dunia berbeda, menuding kebencian telah menghancurkan Prancis, lalu menyerukan penutupan perbatasan. Iran melalui menteri luar negerinya membalas dengan sindiran, Macron sedang menuai hasil kebijakannya sendiri. Politik internasional pun berubah menjadi grup WA ormas, semua merasa paling benar, semuanya saling menyalahkan.
Di warkop markasnya Partai Koptagul, konspirasi tentu ikut diseduh. Jangan-jangan ada tangan gelap sedang memainkan catur geopolitik. Sementara Limoges menjadi papan permainannya. Namun, dugaan tetap dugaan, bukan bukti. Yang nyata, bangunan bersejarah terbakar, ribuan orang ditangkap, petugas terluka, dan seorang manusia meninggal.
Prancis kini seperti warkop yang kompor minyaknya meleduk, pelanggan berkelahi, pemilik sibuk mencari gas, sementara tetangga merekam sambil berteriak, “Konten! Konten!”
“Bang, padahal saya ingin ke Paris. Kalau sudah seperti itu situasinya, lebih baik ke Palangkaraya mau nengok mahasiswa mendemo gubernurnya.”
“Tapi, gubernurnya keren. Saat didemo, dihadapi dengan duduk bersila, ia dengarkan teriakan mahasiswa di depan wajahnya. Sayangnya, ketika ia ogah mendesak pusat menjadikan karhutla bencana nasional. Duh jadi kangen nak makan di Kampung Lauk!”
Rosadi Jamani






