Jakarta, PBSN – Peristiwa paling kelam dalam sejarah Amerika. Negara super power, diserang 19 pelaku pembajakan. Mereka menabrakkan pesawat ke gedung kembar WTC dan Petagon. Tercatat sekitar 2.997 orang tewas, termasuk 19 pelaku pembajakan.
Nah, saya ingin mengenang peristiwa itu. Tulisan ini terinspirasi dari akun DW Dokumenter. Saya nontonya tadi malam cukup lama dengan durasi hampir satu setengah jam. Kalau DW buat film dokumenter, luar biasa hebatnya. Saya coba meringkas isi dari dokumenter itu dalam tiga part.
Pagi itu New York sedang cantik-cantiknya. Langit biru. Udara cerah. Musim panas mulai meninggalkan kota. Tidak ada badai. Tidak ada tanda-tanda kiamat. Tidak ada sirene meraung memperingatkan, beberapa jam lagi Amerika akan menyaksikan salah satu tragedi paling mengerikan dalam sejarah modern.
Semuanya normal. Terlalu normal. Bahkan berita utama masih sibuk membicarakan kembalinya legenda basket era 1990-an, Michael Jordan.
Di Florida, Presiden George W. Bush, baru menjabat sejak Januari 2001. Ia sedang santai. Ia tidak berada di Washington. Pagi itu ia bersama wartawan untuk mempromosikan program literasi pemerintahannya.
Presiden joging didampingi sejumlah wartawan. Seorang jurnalis bernama Richard Keil ikut berlari. Wartawan diminta memakai pakaian olahraga. Kopi dan buku catatan dititipkan. Mereka berlari sekitar tiga kilometer.
Pagi yang biasa. Presiden Amerika joging. Wartawan mengejar sambil ngos-ngosan. Amerika belum tahu, beberapa ribu kilometer dari sana, sejarah sedang menyalakan sumbu.
Di Boston, pukul 06.45, lima orang check-in penerbangan American Airlines Flight 11 menuju Los Angeles: Mohamed Atta, Abdulaziz al-Omari, Waleed al-Sheri, Wail al-Sheri, dan Satam al-Suqami.
Tiga orang ditandai sistem keamanan. Bagasi mereka sempat ditahan karena dicurigai membawa bom. Tetapi mereka tetap lolos. Mereka menuju Gate 32, Terminal B.
Pukul 07.10, sekitar 400 meter dari sana, lima orang lain check-in untuk United Airlines Flight 175, juga menuju Los Angeles. Mereka terlihat gelisah dan tidak mampu menjawab pertanyaan keamanan dengan jelas.
Bagasi diperiksa sederhana. Tidak ditemukan apa-apa. Mereka tetap naik.
Pukul 07.15, di Bandara Washington, Khalid al-Mihdhar dan Nawaf al-Hazmi check-in untuk American Airlines Flight 77. Menurut CIA, keduanya memiliki hubungan dengan al-Qaeda.
Masalahnya? Informasi itu belum diberikan kepada keamanan penerbangan. Mereka pun naik bersama tiga orang lainnya.
Sementara itu, antara pukul 07.00–07.40, empat orang lainnya check-in untuk United Airlines Flight 93 menuju San Francisco. Dua di antaranya menjalani pemeriksaan tambahan dan barang bawaan digeledah.
Tetap saja mereka lolos. Total: 19 pembajak. Empat pesawat. Tidak seorang pun berhasil menghentikan mereka.
Sebagian besar duduk di kelas bisnis atau kelas satu, dekat dengan kokpit. Seolah-olah seluruh sistem sedang berdiri di depan pintu neraka sambil berkata, silakan masuk.
Pukul 07.59, Flight 11 lepas landas dari Boston. Lima belas menit kemudian, Flight 175 masuk landasan. Pukul 07.42, Flight 77 terbang menuju Los Angeles. Pukul 08.42, Flight 93 akhirnya lepas landas dari Newark, terlambat sekitar 40 menit.
Empat pesawat kini berada di udara. Para penumpang mengira mereka sedang melakukan perjalanan biasa. Ada mungkin membaca koran, memandang awan, menelepon keluarga. Ada mungkin sedang berpikir tentang pekerjaan setibanya di tujuan. Tidak ada yang tahu, sebagian dari mereka sedang menjalani penerbangan terakhir dalam hidupnya.
Pukul 08.18, pramugari berusia 45 tahun, Betty Ong, di Flight 11 menelepon pusat reservasi American Airlines dari bagian belakang pesawat. Beberapa menit kemudian, sesuatu sebelumnya hanya terdengar seperti gangguan mulai berubah menjadi mimpi buruk.
Para pembajak telah mengambil kendali. Di kokpit, Mohamed Atta hendak membuat pengumuman kepada penumpang. Namun ia menekan tombol yang salah. Pesannya justru terdengar oleh menara kontrol Boston.
Kesalahan kecil. Tetapi dari kesalahan itulah petugas mulai memahami sesuatu mengerikan, Flight 11 dibajak. Kemudian transponder dimatikan. Pesawat masih terlihat di radar. Tetapi identitas dan ketinggiannya tidak lagi diketahui.
Lalu pesawat itu berubah arah. Petugas lalu lintas udara mulai panik. Mereka awalnya mengira ini penyanderaan. Namun pertanyaan lebih mengerikan segera muncul, kalau ini bukan sekadar pembajakan, sebenarnya pesawat itu mau dibawa ke mana?
Di bawah sana, petugas pemadam kebakaran sedang menangani kebocoran gas di Lower Manhattan. Joe Pfeifer sedang direkam oleh Naudet bersaudara yang membuat dokumenter tentang pemadam kebakaran New York.
Tak seorang pun tahu kamera itu sebentar lagi bukan lagi merekam kebocoran gas. Kamera itu akan merekam sejarah.
Ketika sebuah pesawat komersial terdengar melintas di atas mereka, Joe Pfeifer mengirim sekitar 100 petugas menuju World Trade Center. Mereka tiba dan melihat asap serta api. Pesawat yang terbang rendah itu baru saja menabrak gedung WTC. Di atas sana ada ribuan orang.
Lift rusak akibat hantaman pesawat. Para petugas harus menaiki tangga sempit menuju lantai atas. Mereka membawa peralatan sekitar 30 kilogram. Naik. Terus naik. Hingga sekitar 90 lantai.
Sementara dari arah berlawanan, manusia-manusia yang ketakutan sedang turun. Petugas berkata, “Terus jalan. Jangan berhenti. Keluar dari sini.” Mereka belum tahu, mereka sedang menaiki tangga menuju kematian.
Lalu, Amerika? Masih belum sepenuhnya mengerti apa sedang terjadi. Televisi mulai memotong siaran reguler. CNN menjadi media pertama beralih ke Breaking News, sekitar tiga menit setelah tabrakan pertama. CBS menyusul tiga menit kemudian.
Di ruang redaksi, telepon berdering. Satu telepon. Dua telepon. Orang-orang berlari. Ada memegang dua telepon sekaligus, berteriak, tercengang. Mereka semua mengajukan pertanyaan yang sama, “Apa sebenarnya yang sedang terjadi?”
Di Prancis pun televisi mulai menghentikan program reguler. Ketika rekaman pesawat menghantam WTC ditayangkan ke seluruh dunia, banyak orang masih mengira itu kecelakaan.
Sampai kemudian pesawat kedua datang. Duarrr! Saat pesawat kedua menghantam menara lainnya, semua teori tentang kecelakaan mendadak mati. Ini bukan kecelakaan. Ini serangan. Amerika sedang diserang. Dunia sedang menonton secara langsung.
Belum ada yang tahu berapa banyak korban. Belum ada yang tahu apakah akan ada pesawat berikutnya. Belum ada yang tahu target selanjutnya.
Tetapi satu pertanyaan mulai menghantui semua orang, “Apakah masih ada serangan lain?” Jawabannya belum diketahui. Yang diketahui hanya satu, empat pesawat sudah dibajak. Pagi yang tadinya begitu indah telah berubah menjadi pintu masuk menuju neraka.
Hari itu, 11 September 2001, akhirnya menelan 2.977 korban jiwa dalam serangan terhadap WTC, Pentagon, dan Flight 93, termasuk 19 pembajak.
Amerika belum tahu jumlah itu ketika semuanya dimulai. Mereka hanya melihat api. Mereka mendengar jeritan. Mereka melihat gedung. Lalu mereka melihat gedung itu runtuh. Sejak saat itu, dunia tidak pernah benar-benar sama lagi. (bersambung).
Rosadi Jamani





