Jakarta, PBSN – Saya hampir tersedak kopi saat menonton videonya.
Di layar, berdiri gagah sebuah perusahaan mengangkut manusia melintasi benua, menembus awan, menggendong mimpi para penumpang dari Jakarta ke Amsterdam. Namanya Garuda Indonesia.
Lalu datang lawannya. Bukan Emirates, Singapore Airlines, Qatar Airways. Melainkan… penggilingan padi di kampung.
Lebih tragis lagi, menurut meme yang beredar, penggilingan padi itu menang telak.
Skor akhir, Penggilingan Padi 2 Triliun. Garuda 0.
Saya tertawa. Tetangga ikut tertawa. Kucing di gang sebelah ikut tertawa. Bahkan padi yang belum dipanen pun sepertinya ikut bergoyang sambil cekikikan.
Nuan bayangkan rapat direksi Garuda.
“Pak, kita rugi.”
“Sudah berapa?”
“Triliunan.”
“Kalau begitu jual Boeing. Beli mesin penggilingan.”
Ruangan langsung hening. Lalu terdengar tepuk tangan. Seseorang menangis haru. Seorang komisaris memeluk karung beras.
Karena menurut logika meme, selama ini Indonesia salah jalan. Terlalu lama sibuk mengurus pesawat, tambang, perbankan, nikel, batubara, satelit, dan industri strategis. Padahal jalan menuju kemakmuran ternyata ada di belakang rumah Pak RT.
Cukup beli penggilingan padi. Selesai.
NASA harus belajar. Elon Musk harus belajar. Jeff Bezos harus belajar.
Mereka sibuk mengirim roket ke luar angkasa. Padahal kalau mau cepat kaya, tinggal buka penggilingan padi di Kecamatan Sungai Ambawang.
Bahkan Wall Street konon mulai panik. Investor global berhamburan menjual saham teknologi.
Apple turun. Microsoft turun. Nvidia turun. Karena mereka baru sadar selama ini salah sektor.
Chip AI ternyata kalah oleh dedak. Silicon Valley berubah menjadi Rice Valley. Logo perusahaan teknologi diganti gambar gabah.
Sementara itu, para ekonom mulai kehilangan arah hidup. Mereka bertahun-tahun belajar teori pertumbuhan ekonomi, produktivitas, efisiensi pasar, dan investasi. Lalu datang satu angka membuat seluruh buku ekonomi mendadak terasa seperti novel fiksi.
Dua triliun. Dua. Triliun. Angka yang membuat Warren Buffett mendadak ingin belajar menjemur gabah.
Angka yang membuat bank-bank internasional bertanya, “Maaf, lokasi penggilingan ini di mana? Kami mau buka cabang.”
Tentu kemudian dijelaskan bahwa angka fantastis itu bukan keuntungan bisnis normal, melainkan dikaitkan dengan dugaan praktik permainan mutu beras premium yang merugikan konsumen hingga puluhan triliun rupiah per tahun.
Penjelasan itu masuk akal. Masalahnya, internet tidak hidup dari akal sehat. Internet hidup dari meme. Begitu meme lahir, ia tidak bisa ditangkap lagi.
Ia berlari lebih cepat dari cheetah. Lebih cepat dari internet 5G. Lebih cepat dari klarifikasi.
Sekarang bayangkan jika seluruh BUMN mengikuti logika netizen. Pertamina berhenti jual BBM. Pegawainya sibuk menimbang gabah. ANTAM berhenti menggali nikel. Ekskavator dipakai mengangkut padi. PLN berhenti membangun pembangkit. Listrik nasional diganti tenaga semangat petani.
Garuda mengubah slogan. Bukan lagi “The Airline of Indonesia.” Melainkan “The Rice Milling of Indonesia.”
Pramugari membagikan beras lima kilogram sebelum pesawat lepas landas.
Pilot mengumumkan, “Selamat datang di penerbangan GA-001 tujuan Karawang. Hari ini kami membawa 300 penumpang dan 2.000 ton gabah.”
Penumpang berdiri. Menangis. Bangga. Nasionalisme mencapai level tertinggi.
Begitulah internet bekerja. Satu angka muncul. Satu meme lahir. Lalu logika dibawa jalan-jalan ke sawah dan ditinggalkan di sana.
Jujur saja, meski kita tahu kenyataannya tidak sesederhana itu, meme penggilingan padi versus Garuda ini sudah terlanjur masuk museum komedi nasional.
Karena tidak setiap hari kita melihat perusahaan penerbangan raksasa ditantang duel ekonomi oleh mesin pengupas gabah.
Lebih tidak setiap hari lagi ketika mesin pengupas gabah itu, dalam dunia meme, berhasil menang KO pada ronde pertama.
Salam untuk para petani. Kalian mungkin tidak sadar. Di internet minggu ini, kalian berhasil mengalahkan maskapai penerbangan.
Rosadi Jamani





