Iran Deklarasi Perang Bila AS Menyerang, Demo Semakin Berdarah

Sumber foto: Apnews.com

Teheran, PBSN – Jelang tengah malam, ada baiknya kita menengok situasi Iran terkini. Saya kira pemerintah Iran berhasil meredam aksi demo rakyatnya. Ternyata, situasi semakin parah, membara, dan berdarah. Sudah 544 tewas. Kemarahan rakyatnya semakin sulit dibendung. Iran saat ini menangis.

Malam 12 Januari 2026 di Iran bukan sekadar penanda waktu, melainkan lonceng kematian yang berdentang panjang. Jam berdetak seperti menghitung napas terakhir sebuah bangsa. Angka resmi menyebut 544 orang tewas, namun di lorong-lorong sunyi laporan tambahan berjumlah 579 kasus menunggu verifikasi, siap mengerek korban menjadi 1.123 jiwa. Negara menyebutnya “data sementara”. Ibu-ibu menyebutnya “anak saya”. Sejarah kelak mungkin akan menulisnya sebagai statistik, tetapi malam ini Iran menuliskannya dengan darah yang masih hangat di aspal Teheran, Ardabil, Arak, dan kota-kota lain yang kini lebih mirip ladang pemakaman massal dari pusat peradaban Persia.

Semua bermula dari hal paling hina dalam politik modern, harga hidup. Inflasi melonjak liar, mata uang Iran jatuh seperti iman yang dilempar dari menara kekuasaan, harga roti, beras, dan obat-obatan berubah menjadi barang mewah yang hanya bisa dipeluk lewat mimpi. Sejak 28 Desember 2025, rakyat turun ke jalan bukan membawa ideologi besar, melainkan perut kosong dan harga diri yang diinjak-injak. Namun negara, seperti biasa, lebih fasih membaca grafik kekuasaan dari jerit manusia. Demonstrasi ekonomi itu berubah menjadi pembantaian politik, dan Iran kembali membuktikan satu hukum besi sejarahnya, setiap kali rakyat meminta hidup layak, negara menjawab dengan kematian.

Di layar televisi, Presiden Masoud Pezeshkian tampil dengan wajah tenang dan suara yang dilunakkan, berjanji melakukan perombakan ekonomi, menstabilkan mata uang, menurunkan inflasi, dan, kalimat paling sakral, “siap mendengarkan rakyat”. Kata-kata itu meluncur mulus, nyaris puitis. Tapi di luar layar, aparat keamanan menyalakan gas air mata, peluru karet, dan peluru sungguhan. Inilah opera paling tragis republik itu. Presiden berbicara damai. Sementara negara membunuh dengan efisien. Jika ini bukan teater absurd, maka dunia sudah kehilangan definisi tentang ironi.

Protes kini menjelma menjadi kritik politik terbuka. Rakyat tak lagi sekadar memaki harga, mereka mulai mempertanyakan sistem. Jumlah korban bahkan diperkirakan melampaui tragedi Mahsa Amini 2022, yang dulu dianggap puncak kemarahan nasional. Sejarah rupanya tidak belajar. Ia mengulang pelajaran dengan hukuman yang lebih berat. Aparat keamanan dan massa pro-rezim dikerahkan, menciptakan ilusi, negara masih dicintai. Darah di jalan hanyalah kesalahpahaman kecil dalam proyek besar bernama stabilitas.

Dari jauh, dunia ikut menyalakan korek api. Amerika Serikat, lewat Donald Trump, memilih retorika keras sebagai bahasa belas kasih. Ia menyatakan sedang mempertimbangkan “opsi-opsi kuat”, termasuk intervensi militer, jika pemerintah Iran terus membunuh warganya. Ia mengklaim mendukung rakyat Iran, memperingatkan akan menyerang “dengan sangat keras”, dan bahkan menyebut, pimpinan Iran telah menghubungi Washington untuk bernegosiasi. Kalimat-kalimat itu terdengar heroik bagi sebagian orang, tapi bagi kawasan Timur Tengah, itu seperti lonceng perang yang dipukul tanpa belas kasihan. Trump juga menyelipkan drama domestik dengan membantah intervensi terhadap penyelidikan The Fed dan mengkritik Jerome Powell, seolah dunia tidak cukup gaduh tanpa ego tambahan.

Iran menjawab ancaman itu dengan sumpah balasan yang lebih mengerikan. Pejabatnya menegaskan, serangan AS akan dianggap deklarasi perang penuh. Balasan tidak akan berhenti di Teheran, tetapi akan menghantam pangkalan militer AS di Teluk, seperti di Qatar, Bahrain, Kuwait, UEA, dan juga Israel. Rudal balistik, drone, dan jaringan milisi proksi seperti Hizbullah, Houthi, dan milisi Irak disebut siap bergerak. Peta Timur Tengah kembali diperlakukan seperti papan catur, sementara rakyat Iran tetap menjadi bidak yang paling mudah disingkirkan.

Di tengah lautan darah itu, negara menggelar parade. Jutaan warga dimobilisasi dalam aksi pro-pemerintah, membawa bendera Iran, poster Ayatollah Khamenei, dan slogan anti-AS serta anti-Israel. Tidak ada laporan korban, karena ini bukan protes, melainkan pawai legitimasi. Negara ingin berkata kepada dunia, kami tidak sendirian. Tapi parade itu tidak mampu menghapus fakta bahwa 544 orang sudah mati, dan lebih dari seribu nyawa mungkin akan segera menyusul. Mobilisasi ini lebih mirip mantra propaganda, diulang-ulang agar ketakutan rezim tak terdengar.

Sementara itu, Indonesia menghitung nasib warganya dengan cermat. Ada 386 WNI dinyatakan aman, KBRI Teheran siaga, rencana kontingensi disiapkan jika neraka ini melebar. Dunia internasional sepakat pada satu hal, krisis ini bukan sekadar politik, melainkan krisis ekonomi yang menyentuh dapur rakyat. Namun kesepakatan itu berhenti di meja konferensi; di jalanan Iran, yang berbicara tetap senjata.

Di sinilah konspirasi menemukan panggungnya. Apakah krisis ekonomi ini murni kegagalan domestik, atau hasil tekanan global yang dirancang rapi? Apakah dukungan Trump pada rakyat Iran adalah solidaritas tulus, atau pintu masuk perang baru yang menguntungkan industri senjata? Apakah janji Pezeshkian adalah awal reformasi, atau hanya jeda sebelum represi berikutnya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar seperti drone tak terlihat di langit Teheran, mengawasi, mengancam, tanpa pernah menjawab.

Iran malam ini adalah epos penderitaan. Ada 544 nyawa telah dibayar, 1.123 jiwa mungkin akan menjadi harga akhir, hanya untuk membuktikan bahwa stabilitas negara lebih penting daripada hidup manusia. Ini tragedi, tapi juga lelucon kejam sejarah. Rakyat diminta bersabar, dunia diminta percaya, sementara darah terus mengalir. Jika pembaca merasa sesak, itu wajar. Iran sedang sekarat, dan dunia, sekali lagi, menonton dengan mata terbuka, sambil berpura-pura tak mendengar jeritannya.

Rosadi Jamani (Jurnalis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *