Bandung, PBSN – Dari siang tadi kita mengupas satu angka yang bikin dahi berkerut. Seruput Koptagul yang udah pahit, semakin nyelekit. Rata-rata IQ orang Indonesia 78,5. Angka versi World Population Review tahun 2022 itu menempatkan Indonesia di posisi ke-130 dari 199 negara. Tak heran kalau kemudian muncul kesimpulan pedas tapi susah dibantah, rakyat Indonesia jadi nomor dua dunia yang paling mudah ditipu. Dari investasi bodong, robot trading, sampai janji politik rasa sinetron, semuanya laku keras. Otak kolektif seperti sedang libur panjang.
Tapi tunggu dulu. Jangan keburu menyimpulkan negeri ini isinya cuma angka 78,5 berjalan. Karena di tengah hiruk-pikuk statistik yang menyedihkan itu, ternyata ada juga anak Indonesia dengan IQ 137. Namanya Felcia Kinsey Alzena Gari Setiawan, siswi kelas VII Bilingual Taruna Bakti Bandung. Di usia ketika banyak anak masih bingung membedakan belajar dan skrol TikTok, Felcia justru sibuk berdamai dengan potensi luar biasa di kepalanya.
IQ 137 menempatkannya dalam kategori anak cerdas istimewa berbakat istimewa. Ini bukan sekadar pintar cepat menghitung, tapi juga matang secara psikologis. Anak-anak dalam kategori ini umumnya mampu mengatur diri, tahu kapan berbicara, kapan diam, kapan serius, dan kapan santai. Dengan kata lain, mereka tidak hanya cerdas di kepala, tapi juga waras dalam hidup. Sebuah kombinasi yang langka, apalagi di era bising. Pastinya tak mudah ditipu dengan janji kampanye.
Felcia bukan tipe jenius yang mengasingkan diri dari dunia. Ia justru aktif sebagai sekretaris OSIS. Artinya, di tengah jadwal belajar yang padat, ia masih mau mengurus rapat, agenda, dan administrasi. Ini bukti, kecerdasan tidak harus anti-sosial. Otak encer tetap bisa bersanding dengan kemampuan organisasi dan empati.
Soal pelajaran, Felcia punya selera yang jujur dan agak “tidak normal” bagi kebanyakan remaja, matematika dan sejarah. Matematika baginya seperti berburu jawaban, ada logika, ada tantangan, dan ada kepuasan saat angka-angka akhirnya menyerah. Sejarah ia nikmati karena penuh pola dan cerita. Ketika bosan datang, ia tidak drama. Ia berhenti sebentar, istirahat, lalu lanjut. Ia mencatat, bahkan ketika tidak disuruh. Ia punya diary khusus pelajaran. Di negeri yang budaya belajarnya sering “asal dengar”, kebiasaan ini terasa seperti perlawanan sunyi.
Dalam pergaulan, Felcia tetap remaja normal. Ia ngobrol, tertawa, dan bersosialisasi tanpa beban. Tidak ada kisah dijauhi karena kepintaran. Baginya, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, tinggal saling melengkapi. Kalimat sederhana ini terdengar remeh, tapi justru langka di masyarakat yang hobi membandingkan.
Felcia juga tidak hidup dengan ambisi bombastis. Tidak ada target menyelamatkan bangsa sendirian. Harapannya sederhana, membanggakan orang tua. Ironisnya, justru kesederhanaan inilah yang membuat kisahnya penting. Di tengah data nasional yang menunjukkan skor IQ rendah akibat faktor pendidikan, gizi, kesehatan, dan lingkungan sosial-ekonomi, Felcia hadir sebagai pengingat, potensi itu ada. Nyata. Hidup.
So, sebelum kita terlalu jauh menertawakan angka 78,5 dan menyimpulkan bangsa ini gampang dibodohi, ada baiknya kita berhenti sejenak. Di balik statistik yang muram, ada anak-anak seperti Felcia. Tidak viral, tidak berisik, tapi pelan-pelan membuktikan, Indonesia tidak kekurangan kecerdasan. Kita hanya sering gagal menemukannya, merawatnya, dan belajar darinya.
“Nampaknya IQ abang cukup tinggi. Karena, tak mudah ditipu.”
Rosadi Jamani
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
