Bersemangat Menulis Drama BGN, Terilhami Kemarahan Prabowo

Hukrim, Politik199 Views

Jakarta. PBSN – Baru kali ini saya menulis satu kasus sampai seperti orang kesurupan Koptagul satu galon. Dari malam ketemu malam lagi, yang dibahas tetap itu-itu doang, Drama BGN dan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sudah sembilan episode. Sembilan! Bisa-bisa nyaingi sinetron ijazah.

Episode dimulai dari pencopotan Kepala BGN dan dua wakilnya oleh Prabowo. Lalu mengulas penggantinya. Kemudian profil para pemain utama. Disusul adegan penggeledahan Kejagung pukul dua dini hari yang suasananya lebih menegangkan dari film perampokan bank. Lalu penangkapan. Penetapan tersangka. Sampai akhirnya masuk penjara.

Yang membuat saya ternganga bukan kasusnya. Negeri ini sudah terlalu sering disuguhi tontonan seperti itu. Yang membuat saya melongo adalah kecepatannya.

Biasanya di republik ini, pejabat yang dicopot masih sempat menikmati kopi, menghadiri seminar, memberi motivasi tentang integritas, kadang masih sempat liburan. Ini tidak. Baru dicopot, besoknya sudah melihat dunia dari balik jeruji. Mungkin map kantor belum sempat dipindahkan dari meja, eh alamat domisilinya sudah berubah menjadi rumah tahanan.

Saya sendiri heran kenapa begitu bersemangat mengikuti drama ini. Mungkin karena ada sesuatu yang membuat darah mendidih. Nuan bayangkan, program yang dirancang untuk memberi makan anak-anak Indonesia justru diduga dijadikan prasmanan korupsi.

Ini bukan proyek membangun patung dinosaurus di tengah sawah. Ini bukan proyek mengecat awan supaya lebih biru. Ini program memberi gizi kepada siswa.

Anak-anak butuh protein. Anak-anak butuh vitamin, makanan layak.

Tapi di tengah jalan, muncul dugaan ada manusia-manusia kreatif yang melihat kotak makan siang anak sekolah seperti melihat tambang emas.

Di sinilah saya membayangkan kemarahan Prabowo mencapai level yang membuat termometer menyerah mengukur suhu.

Ia ingin membangun program untuk anak-anak, lalu mendapat laporan, program itu diduga dijadikan bancakan. Itu seperti menitipkan sapi untuk dipelihara, lalu pulang-pulang tinggal tali pengikatnya saja.

Konon Prabowo tidak peduli siapa orangnya. Mau jenderal, profesor, pejabat. Mau punya beking tujuh lapis seperti benteng Bizantium. Kalau ketahuan merusak program yang menyangkut anak-anak, sikat.

Kalau ada yang mengira nama besar bisa menjadi rompi anti-peluru hukum, ternyata rompi itu bocor.

Kalau ada yang mengira jabatan adalah helm keselamatan, ternyata helmnya copot duluan.

Yang lebih ironis, MBG adalah singkatan Makan Bergizi Gratis. Namun oleh para garong tertentu, program itu diduga hampir berubah menjadi “Maling Berkedok Gizi”. Anak-anak mendapat nasi, sementara sebagian orang bermimpi mendapat bonus.

Inilah tragedi paling lucu sekaligus paling menyedihkan. Ketika uang yang seharusnya berubah menjadi telur, ayam, ikan, susu, dan sayuran malah diduga tersesat ke jalur yang lebih mengenal rekening dari ruang kelas.

Tapi jangan kira ceritanya selesai

Menurut saya, ini baru trailer. Yang tersentuh baru pucuk gunung es. Di bawahnya masih ada bongkahan besar yang belum terlihat. Sebab dalam banyak kasus, pemain lapangan sering lebih kreatif dari pemain utama. Kalau pucuknya saja sudah membuat geger se-Indonesia, kita belum tahu apa yang tersimpan di lantai-lantai bawah.

Maka jangan heran bila nanti episode kesepuluh, kesebelas, atau kedua belas muncul lagi.

Karena ketika program makan anak-anak dijadikan ladang permainan, kemarahan publik biasanya tidak mengenal kata selesai.

Kali ini, tampaknya kemarahan itu bukan hanya milik rakyat. Orang nomor satu di republik ini pun terlihat sedang memegang sapu besar, bersiap membersihkan kandang yang terlalu lama dipenuhi tikus-tikus bertubuh manusia.

 

 

 

Rosadi Jamani