Oleh : Moh. Naufal Dunggio
Aktivis dan Ustadz Kampung
Memang tidak gampang menjaga CITRA itu menjadi baik terus. Apalagi menjaga citra sebuah lembaga negara yang beranggotakan banyak personilnya. Pimpinannya mati-matian menjaga tapi kalau anak buahnya tidak maka akan tetap tercoreng juga. Apalagi yang mencoreng itu di level pimpinan dua bintang di bawahnya. Ini terjadi pada kepolisian republik Indonesia. Cobaan bertubi-tubi datang di tubuh kepolisian negara. Sudah pasti yang merasa sekali beban ini pasti adalah Pak Listyo Sigit Prabowo, Msi sebagai pucuk pimpinan tertinggi di kepolisian negara dengan pangkat Jenderal bintang 16. Yakni 4 bintang di pundak sebelah kanan dan kiri serta 4 bintang di plat mobil depan dan belakang mobilnya.
Dimasa beliau jadi KAPOLRI sekarang banyak Jenderal yang masuk penjara bahkan ada yang dihukum dengan hukuman mati. Bukan gampang hukuman ini karena kita kalau melihat Jenderal di hukum mati hanya di film-film action. Kalaupun di dunia nyata hanya di negara komunis seperti di KORUT. Tapi ini riil terjadi di negara NKRI kita. Mantuulkan KAPOLRInya. Tidak mungkin hakim berani melakukan itu kalau tidak di beri sinyal oleh Pak Sigit dengan istilah SAYA POTONG KEPALANYA kalau gak mau menjaga CITRA POLISI. Dari pada di potong kepalanya sama Pak Sigit maka lebih baik Hakim putuskan hukuman mati. Wanti-wanti siapa tahu hakim bisa di sogog karena duitnya banyak. Tapi nyatanya hakim sama dengan Pak Sigit gak mata ijo lihat duit dalam menjalankan tugas.
Seorang anggota polisi dari seorang CUCU petinggi Muhammadiyah di Jawa Tengah aja berpesan kepada Mbahnya bahwa di belum mau pulang ketanah air sehabis bertugas diluar negeri sebagai pasukan perdamaian PBB kalau kasus SAMBO belum selesai. Karena dia merasa menjadi polisi itu beban beraat sekali dengan kasus itu. Kalau dia aja level perwira pertama merasakan begitu apalagi di level perwira tinggi semacam pak KAPOLRI. Kira-kira pak Sigit masih bisa tidur nyenyak gak dan makan dengan nikmat…?
Belum selesai kasus pembunuhan anggotanya yakni Brigadir Josua kemudian terbit kasus narkoba melibatkan KAPOLDA dan anak buahnya sampai ke bawah yang sekarang masih bergulir di pengadilan Jakarta Barat. (Hebat polisi-polisi POLDA METRO JAYA di bawah pimpinan Dr. Fadil Imran yang mengeksekusi kasus ini. Mereka tidak gentar biar berpangkat Jenderal. Namanya melanggar hukum terlibat NARKOBA di sikat habis). Wah kalau semua polisi seperti ini maka amanlah anak cucu kita dengan barang haram ini. Namun sampai tulisan ini di buat, hakim telah menolak eksepsi terdakwa sang Irjen Teddy Minahasa Putra karena dianggap membuat keterangan palsu.
Kalau mau lihat kasus TM ini melalui persidangan di TV KOMPAS, dia mencoba mau buang badan dan menyalahkan anak buahnya KAPOLRES dan pelaku lain. Tapi ternyata hakim sangat jeli karena udah pengalaman mengadili kasus yang sama hanya membawa 1/2 kg SABU dihukum sama dia seumur hidup. Nah kalau TM ini sampai 5 kg BB yang diumpetin dan mau serta telah dijual. Gak tahu hukuman apa yang dia akan dapatkan. Apakah sama dengan Sambo …? Wallahu A’lam.
Menjadi kaya rupanya gak ada jaminan.
Maka judul tulisan ini KAPOLRI NASRANI SERASA KAPOLRI MUSLIM diambil karena melihat sepak terjang pak Sigit yang tenang, tidak meledak-ledak dan tegas. Sebenarnya semua beliau bisa bahkan bisa lebih kaya dari TM. Beliau bisa seperti cartel Mekxico tapi itu tidak mungkin beliau lakukan, biar beliau seorang NASRANI. Tapi ada yang jadi KAPOLRI yang MUSLIM meninggalkan kesatuannya menjadi ribut seantero negeri dan membikin kesatuannya antar personilnya saling curiga dan saling menaruh permusuhan. Ini nyata yang terjadi saat ini.
Hebat nyong Ambon yang satu ini. Beliau bisa menjaga marwah kesatuannya. Semoga ini akan terus terjaga sampai akhir masa tugasnya. InsyaAllah Amin.
Wallahu A’lam …
