Oleh: Moh Naufal Dunggio
Aktivis dan Ustadz Kampung
Memang paling gak enak kalau di boongin oleh siapapun apalagi orang yang punya jabatan di atasnya. Perkara bohong membohongin bukan hanya dialami GP tapi juga dialami 270 juta rakyat Indonesia. Mungkin rakyat udah mau muntah kalau mendengar orang istana berpidato apalagi menjanjikan sesuatu. Contoh-contoh kebohongan bertaburan di dunia digital karena hal tersebut gak bisa dihapus atau didelete. Seperti contoh yang gampang aja, Ketik masalah esemka di geogle langsung keluar siapa-siapa yang berbicara tentang mobil esemka lengkap dengan wawancara yang sudah 6000 mobil diproduksi dan dipesan tapi nyatanya sampai kepala timbul .
tanduk kita tidak akan ketemukan mobil esemka di jalan-jalan Jakarta.
Ini salah satu kebohongan yang susah dilupakan warga Indonesia.
Masih banyak yang lain. Tapi kolom ini terbatas memuat tulisan ini yakni daftar kebohongan warga istana. Nah kita lompat aja ke masalah pencapresan. Dari awal GP begitu bersemangat dicalonkan presiden mengganti Jokowi. Macam-macam udah dilakukan GP untuk menarik simpatik massa agar supaya memilihnya mulai jadi barongsai, memakai kostum kayak superman yang celana sempak di luar, pura-pura jadi pengemis duduk-duduk di emperan toko, belajar tari-tarian ala kadrun dengan irama gambusnya yang selalu dituduh dengan politik identitasnya dan terakhir lari-lari pagi sambil bagi-bagi ampao ke tukang becak dan tukang bersih jalanan tapi tetap juga tidak bisa mengangkat dan mendokrak namanya mengungguli Capres yang ditakutkan istana.
Ini yang membikin pihak istana frustasi. Dan mulai sedikit cuek kepada GP sehingga GP mania organisasi yang mendukung Ganjar menarik diri dan menyatakan membubarkan diri karena mereka melihat tidak ada ASA mau mendukung GP. Hari Kamis mereka mau konfrensi pers umumkan itu oleh ketua umumnya.
Disinilah ASA GP diujung tanduk. Partainya sendiri yakni PDIP tidak merekomnya karena mau calonkan Puan putri mahkota di PDIP. Jadi Jokowi biar jadi presiden mau membangun TRAHNYA di PDIP tidak bisa kalau GP gak jadi maka saat ini mereka lagi berusaha dengan meminta fatwa hukum dari ahli-ahli tata negara agar mencari celah bisa ada penambahan masa jabatan presiden menjadi 3 periode dan bisa ditambah lagi 3 periode lagi sampai 2030 saat Gibran udah bisa kelihatan jadi presiden setelah jadi Gubernur Jawa Tengah atau DKI Jakarta kayak bapaknya.
Kelihatan sekali mereka udah berteman dekat dengan Tuhan sehingga bisa tahu akan hidup sampai 2030, 2024 aja belum tentu nyampe apalagi 2030 …?
Kita serahkan aja kepada Yang Punya Langit dan Bumi bisa nyampe apa gak.
Wallahu A’lam …











