Duduk yang Rapi, Dengarkan Pidato Prabowo Tak Gentar Digertak MSCI

 

Warga warkop, merapat! Malam tadi kita menyaksikan sebuah adegan pantas diputar di bioskop IMAX, dengan suara Dolby Atmos, layar sebesar lapangan bola, dan tiket dibayar pakai utang negara. Lalu, pesan Koptagul, dan dengarkan seruan heroik dari presiden kita.

Presiden Prabowo Subianto menunjukkan sikap tidak gentar menghadapi tekanan asing. Semangatnya berapi-api, dadanya membusung, mentalnya seperti komandan pasukan baru mendengar genderang perang. Kalau keberanian bisa dijadikan senjata, mungkin kapal induk Amerika sudah putar balik, tentara NATO minta cuti, dan para ekonom Wall Street ramai-ramai belajar pencak silat.

Musuhnya kali ini bukan penjajah berseragam, bukan pasukan yang mendarat di pantai, melainkan MSCI, lembaga penyedia indeks pasar modal global yang pengaruhnya terhadap keputusan investor bukan kaleng-kaleng.

Nah, di sinilah film ekonomi kita memasuki adegan paling epik. Nuan bayangkan, seorang jenderal berdiri di atas bukit, teropong di tangan, bendera berkibar, lalu berteriak, “Kita tidak takut digertak!”

Pasukannya bersorak. Meriam ditembakkan ke udara. Genderang perang bertalu-talu. Burung-burung beterbangan sambil membawa berita kemenangan.

Tetapi ketika kamera menyorot medan pertempuran, musuhnya ternyata tidak membawa senapan. Ia membawa laporan, data transaksi, metodologi indeks, dan pertanyaan tentang transparansi pasar.

Lebih celaka lagi, medan perangnya bernama pasar modal. Di sana, musuh tidak perlu merebut istana. Cukup mengubah penilaian risiko, menggeser alokasi investasi, lalu membiarkan para pemilik uang mengambil keputusan sendiri.

Ini perang model baru, Jenderal! Tidak ada peluru bersiul, tetapi angka-angka bisa membuat nilai portofolio berkurang sebelum kopi di meja menjadi dingin.

MSCI memang bukan pemerintah asing dan bukan otomatis antek siapa pun hanya karena mengkritik pasar Indonesia. Namun, pengaruh lembaga global terhadap arus investasi pantas diperhitungkan. Kritik mereka menyangkut persoalan transparansi dan aksesibilitas pasar perlu dijawab dengan pembenahan nyata.

Lantas, bagaimana cara melawannya? Tentu bukan dengan mengirim pasukan Kopassus mengepung kantor MSCI. Bukan pula dengan mengancam indeks saham menggunakan bambu runcing. Apalagi mengirim Mama Ghufron ke Bangkok, ups.

Caranya adalah membenahi tata kelola, memperjelas kepemilikan saham, memperkuat pengawasan, dan memulihkan kepercayaan investor. Sayangnya, pekerjaan seperti ini tidak menghasilkan adegan heroik cocok dijadikan trailer film.

Pidato berapi-api jauh lebih mudah. Tinggal berdiri, kepalkan tangan, pasang wajah siap perang, lalu ucapkan kalimat membuat mikrofon merinding.

Sementara itu, IHSG tidak bisa disuruh berdiri tegap hanya karena presidennya berani. Pasar tidak punya telinga untuk mendengar komando. Ia punya mekanisme sendiri, dan uang punya kaki untuk pindah ke tempat dianggap lebih aman.

Di sinilah ironi itu berdiri gagah seperti monumen nasional. Kepercayaan diri bisa setinggi langit, tetapi kepercayaan pasar tetap harus diperjuangkan. Bagi pasar, trust is number one.

Kita tentu berharap Indonesia tidak tunduk pada tekanan yang tidak adil. Namun, jangan sampai keberanian berubah menjadi cara paling mahal untuk menghindari evaluasi diri.

Sebab negara kuat bukan negara paling keras berteriak tidak takut asing, aseng. Negara kuat adalah negara mampu membuktikan, pasarnya transparan, hukumnya dipercaya, dan ekonominya tidak gampang sempoyongan ketika angin global bertiup.

Hari ini, 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri Nasional. Santri punya tradisi keberanian, tetapi juga tradisi mengaji, menguji dalil, dan memeriksa kebenaran. Tidak semua suara keras otomatis benar, dan tidak semua kritik otomatis merupakan permusuhan.

Maka, selamat Hari Santri Nasional! Semoga keberanian para pemimpin disertai kejernihan berpikir dan kesediaan memperbaiki keadaan.

Kalau warga warkop bertanya, “Wak, Indonesia sedang menang perang atau sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia belum kalah?”

Lihat layar saham. Tarik napas. Lalu geleng-geleng kepala. Sebab dalam film ini, sang jenderal sudah mengangkat pedang ke langit, tetapi ekonomi masih sibuk mencari pegangan agar tidak tersungkur di tanah.

 

 

Rosadi Jamani