AKHIRNYA MUHAMMADIYAH MERASAKAN JUGA BAGAIMANA DIA DI ACAK-ACAK REZIM LAKNAT

Opini192 Views

Oleh : Moh. Naufal Dunggio
Aktivis dan Ustadz Kampung

Di negeri ini gak bisa kalau dia dalam bentuk perorangan atau organisasi tidak mendukung penuh rezim laknat yang berkuasa. Rezim akan menyebarkan racun mematikan kalau gak mau mendukung rezim sepenuhnya. Kalau yang senior gak bisa di pegang maka yang junior aja gak apa-apa.
Ini yang terjadi di dua organisasi terbesar di Indonesia yakni Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU).
Jika di Muhammadiyah para Pimpinan Pusatnya semuanya gak bisa diajak bareng satu kata dengan rezim, maka di carilah yang anak-anak mudanya untuk sekolam dengan rezim laknat.

Mereka tahu mentalitas anak mudanya bagaikan singa lapar bila diberikan sedikit atau seupil kue kekuasaan. Maka di berikanlah sedikit nikmat berupa racun jadi komisaris BUMN dan kenikmatan lainnya dalam bentuk pembuatan proposal untuk mengumpulkan massa dalam bentuk apel siaga atau sejenisnya yang cuan disitu tidak berseri. Untung Muhammadiyah tidak mengenal PROYEK ISTIGOSAH. Karena itu bukan tradisi Muhammadiyah. Proyek ini sudah dimiliki orang lain.

Proyek apel siaga sudah cukup memporak-porandakan Muhammadiyah khususnya pemudanya kalau tidak mau terlibat dengan proyek mendukung rezim laknat. Ini yang terjadi pada KOKAM DIY. Karena tidak mengirim anggotanya dalam apel KOKAM bersama Jokowie maka KOKAM DIY DIBEKUKAN oleh Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah yang membidani KOKAM. Maka muncullah resistensi dan dukung mendukung antar sesama anak muda ini yang tergabung dalam KOKAM dan simpatisannya.

Ini juga karena dibiarkan oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyahnya malah disuport anak mudanya di pusat dengan tindakannya. Anak-anak muda ini gak akan berani melakukan itu kalau gak di dukung ayahandanya di PP. Disaat tetangga sebelahnya lagi diperebutkan para pimpinannya untuk dicalonkan jadi capres atau cawapresnya supaya bisa mendulang suara saat PEMILU nanti, Muhammadiyah gak dilirik malah anak mudanya diadu hanya karena proyek proposal apel siaga. Sebab gak mungkin acara apel siaga yang bertempat di Solo itu yang walikotanya anak Jokowi yakni Gibran cuannya hanya 5 atau 10 jutaan biayanya.

Jadi melihat fenomena ini apa masih layak Muhammadiyah disebut organisasi yang anggotanya terbanyak di Indonesia? Kalau terbanyak gedung dan amal usahanya mungkin iya jawabnya tapi kalau anggotanya atau pencintanya gaklah. Buktinya Muhammadiyah GAK PERNAH DILIRIK selama PEMILU bebas langsung.
Sekolah Muhammadiyah banyak tapi tidak melahirkan KADER yang handal berakhlakul karimah. Yang pada muncul kader muda yang jadi penghamba rezim laknat. Dan gabung dengan partai-partai yang tidak pernah peduli pada Islam malah sebaliknya benci pada Islam.

Jadi kalau kaum mudanya seperti saat ini jadi penghamba penguasa sekedar memperebutkan segenggam komisaris atau menteri dan wakil menteri maka tidak mustahil Muhammadiyah di kemudian hari hanya menjadi FOSIL dongeng pengantar tidur. Apalagi kalau memilih pengurus Muhammadiyah di beberapa daerah yang amal usahanya banyak tak ubahnya memilih pengurus partai politik. Dimana saling menjegal, menghambat orang yang berpotensi dan berdedikasi karena dianggap bisa mengganggu mereka dalam menguasai amal usaha Muhammadiyah (AUM) dengan menyogog dan bermain duit supaya bisa terpilih jadi pengurus inti Muhammadiyah yang 13 orang. Maka bisa kita katakan ADIOS AMIGO dan SAYONARA Muhammadiyah. Ini jangan dianggap remeh situasi ini.

Nuun Walqolami Wamaa Yasturuun.
Wallahu A’lam …..