Jakarta, PBSN – Orang Babel hebat-hebat ya! Kemarin, Shabrina Leanor juara Indonesia Idol 2025. Sekarang, Herry IP menciptakan All Malaysian Final. Mari kita kenalan dengan sang maestro ganda putra yang dikenal dengan Naga Api ini. Siapkan lagi kopi tanpa gulanya, wak!
Di sebuah negeri yang katanya cinta olahraga tapi kadang bingung membedakan evaluasi dan evakuasi, hiduplah seorang pelatih bernama Herry Iman Pierngadi. Nama yang panjang, prestasinya lebih panjang, tapi nasibnya… ya Allah, lebih tragis dari ending film Titanic. Dialah pria kelahiran Pangkal Pinang, Bangka Belitung, 21 Agustus 1962, dengan zodiak Leo yang katanya penuh semangat dan dominasi. Dua hal yang ternyata hanya dihargai tetangga sebelah.
Bayangkan, pria ini bukan sembarang pelatih. Ia bukan pelatih hasil short course tiga minggu lalu upload sertifikat di LinkedIn. Bukan juga pelatih hasil COD Shopee. Herry IP memulai kiprah melatih sejak 1989 di PB Tangkas. Kemudian, direkrut PBSI tahun 1993. Sejak 1999, ia menjadi imam besar sektor ganda putra, menggantikan Christian Hadinata. Apa hasilnya? Oh, jangan tanya. Seandainya prestasi bisa dibeli di Tokopedia, semua pasangan binaan Herry IP itu sudah masuk keranjang emas semua.
Mulai dari Candra Wijaya dan Tony Gunawan yang menyabet emas Olimpiade 2000. Kemudian, Markis Kido dan Hendra Setiawan di Olimpiade 2008. Belum selesai kagum? Ahsan dan Hendra, si Daddies paling disegani itu, juara dunia tiga kali: 2013, 2015, dan 2019. Jangan lupa juga pasangan kekinian yang gayanya kayak anak TikTok tapi smash-nya kayak dilempar petir: Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya. Mereka menguasai BWF World Tour 2017 dan 2018 seperti anak sultan yang punya cheat code badminton.
Tapi apa balasannya? Setelah membangun dinasti prestasi, PBSI malah memberi mandat baru di tahun 2024: melatih ganda campuran. Ya, ganda campuran yang prestasinya masih… yah, campur aduk. Ini seperti menyuruh chef Michelin masak mie instan, lalu protes kenapa rasanya standar.
Herry IP, dengan sabar dan loyalitas setinggi menara ganda Petronas, menjalani tugas itu. Tapi tetap saja, hasilnya tak bisa ajaib seperti sulap TikTok. Akhirnya, pada 2025, pria ini memutuskan undur diri. Mungkin karena lelah, mungkin karena nuraninya bilang, “Nak, kalau kamu tak dihargai, pergilah ke tempat yang memuliakan kerja kerasmu.”
Tepat 1 Februari 2025, Herry IP resmi bergabung dengan BAM (Badminton Association of Malaysia). Negeri tetangga menyambutnya bak jenderal perang, bukan seperti mantan pacar yang ditinggalin di bandara. Di sana, ia kembali ke habitatnya, ganda putra. Aaron Chia dan Soh Wooi Yik, pasangan andalan Malaysia, langsung jadi juara Asia 2025 di bawah bimbingannya. Ini bukan kebetulan. Ini adalah sains dicampur cinta, ditambah pengalaman 30 tahun yang tidak bisa ditandingi Google Search.
Lucunya, di Malaysia, ia bekerja sama lagi dengan Rexy Mainaky, legenda yang juga pernah “dipulangkan” oleh PBSI. Sekarang, dua mantan pelatih emas Indonesia bersatu di negeri jiran dan menciptakan sejarah. Sementara kita di sini masih debat siapa yang salah, siapa yang kurang latihan, dan siapa yang harus jadi manajer medsos baru.
Herry IP, pria yang dikenal sebagai Naga Api karena pendekatannya yang keras, disiplin, dan membakar semangat atlet, kini justru menyulut nyala kemenangan untuk negara lain. Kita, hanya bisa tepuk tangan… sambil menangis dalam diam.
Oh Indonesia, engkau pandai mencetak legenda, tapi sering lupa memelihara.
Rosadi Jamani
