Timnas ke Final Berkat Tandukan “Burung” Wak Mit

News, Olahraga46 Views

Jakarta, PBSN – Awalnya saya tak ngeh. Banyak netizen bilang, gol terakhir Wak Mit itu lewat tandukan “burung” atau kepala bawahnya. Begitu cek videonya, benar. Luar biasa black mambanya. Gol itu menjadi penentu Timnas lolos ke final.

Malam itu di Stadion Jalak Harupat, ada dua pertandingan. Satu resmi. Satu lagi kayak sinetron azab. Timnas vs Bangladesh? Biasa. Yang bikin netizen mendadak jadi Sherlock Holmes adalah Malaysia vs Singapura. Skornya 6-0. Bukan skor laga, itu mah skor transfer bank.

Netizen langsung ribut. “Singapura ini lagi jualan gawang apa gimana?” Ada bilang gawang Singapura dipasang papan “Welcome, silakan masuk, sepatu dilepas dulu.” Bek-bek Singapura katanya lari kaya lagi jogging santai, nggak mau berkeringat, takut baju messinya kusut. Kipernya? Katanya sibuk ngitung bonus, bukan ngitung bola.

Konspirasi pun meletus. Katanya ada grup WA rahasia isinya “kode-kodean”. Ada bilang sebelum laga, Malaysia janji traktir Singapura nasi padang seumur hidup. Ada bilang ada amplop, ada bilang ada bisikan halus, “Udah, kasih aja, nanti kita bagi dua finalnya.” Nggak ada bukti? Justru itu serunya. Di kolom komentar, teori makin gila di-upvote makin tinggi. Fakta kalah sama drama.

Tujuannya jelas. Malaysia mau lolos ke final. Tinggal Timnas kalah atau menang tipis, selisih gol aman. Malaysia udah senyum-senyum, udah ngitung kalkulator, udah mesen tiket final, udah nyiapin banner. Pokoknya udah feeling menang. Bahkan, sempat selebrasi.

Tapi Tuhan, atau VAR, atau mungkin hoki, berkata lain. Untungnya, ada satu nama bikin skenario Malaysia berantakan. Mitchell Lee Baker. Kita panggil saja Wak Mit agar mudah diingat Netizen bilang dia bukan main bola, dia lagi audisi jadi dewa. Lima gol! Lima! Bangladesh sampai bingung mau nangis atau minta tanda tangan. Tapi gol terakhirnya bikin jagat maya gempar.

Wak Mit lompat, semua orang ngira dia mau sundul pakai kepala. Eh, ternyata pakai “burungnya” atau kepala bawahnya. Istilah Maljum, black mamba.

Iya, yang itu. Netizen langsung histeris. “Gol paling maskulin sepanjang sejarah!” Ada bilang, “Itu bukan tandukan, itu deklarasi kemerdekaan.” Yang lain nambah, “VAR sampai malu ngeliat, langsung bilang sah, jangan diperiksa lagi.” Wasit? Katanya langsung kuning, bukan karena pelanggaran, tapi karena iri.

Gol itu bikin Timnas unggul selisih gol dari Malaysia. 9-2. Upin Ipin udah nyiapin selebrasi mendadak diam. Wajah mereka? Netizen bilang, “Kaya orang mesen gorengan, eh duitnya kurang seribu, dan gorengannya udah digigit gajah.”

Sarkasme pun tumpah. “Makasih Singapura, gawangnya nyaman, parkirnya luas, pelayanannya ramah.” Ada nyeletuk, “Kalau sepak bola gajah ada kelasnya, Singapura lulus cum laude, bahkan dikasih beasiswa.” Yang lain nambah, “Ini bukan laga, ini operasi gajah parkir. Malaysia parkir, Singapura jaga, Wak Mit yang bongkar.”

Timnas nggak peduli drama. Mereka fokus, hajar, dan bikin negeri jiran gigit jari. Netizen girang bukan main. “Konspirasi kalah sama kerja keras!” tulis seorang warganet, tiba-tiba bijak. Yang lain nyahut, “Kerja keras bikin gol, konspirasi bikin malu.”

Ya begitulah. Sepak bola Asia Tenggara kadang lebih seru di luar lapangan. Di dalam, bola berputar. Di luar, rumor berputar lebih kencang. Malaysia merancang skenario, Singapura jadi aktor pendukung, tapi Timna, dan tandukan anunya Wak Mit, datang sebagai plot twist nggak ada di naskah. 9-2. Selesai. Netizen pun tertawa, kesal, girang, dan ngakak. Karena itulah sepak bola. Kadang ente merencanakan segalanya, tapi bola, atau black mamba punya rencana lain. Malam itu, rencana Malaysia resmi hangus terbakar bersama gorengan kurang seribu tadi.

 

 

 

Rosadi Jamani