Jakarta, PBSN – Akhirnya Timnas Indonesia lolos ke final FIFA ASEAN Cup. Bangladesh dibantai 9-2. SUGBK berubah menjadi kawah Garuda. Mau tidak mau di final pendekar Garuda harus menghadapi tim kuat, Thailand. Pastinya lega, tidur bisa nyenyak.
Dari sore penonton datang membawa rasi rantang, kopi, tahu Sumedang, dan bakwan mendadak merasa bekalnya kurang. Mereka ingin menyaksikan para pendekar Nusantara bisa membuat negeri ini terasa indah.
Babak pertama baru berjalan 11 menit, umpan Ole Romeny diselesaikan Mitchell Lee Baker alias Wak Mit. Gol! Jakarta pecah. Konon Monas sempat miring sedikit. Bukan gempa. Rupanya ikut ngintip ke Senayan.
Menit 20, Wak Mit mencetak gol lagi. Dari tribun terdengar teriakan, “Wak Mit, nanti mampir rumah ya. Ngopi kita!”
Bangladesh mulai bingung. Pasukan Thomas Dooley asal Amerika lebih banyak bertahan. Kiper Mehedi Hasan kerja lembur. Barisan pertahanan Yousuf Zidane, Tariq Kazi, Saad Uddin, dan Zayyan Ahmed bahkan tidak sempat ngopi.
Menit 32, Rizky Ridho menambah gol. Satelit NATO yang sedang memantau Rusia di perbatasan Polandia konon ikut mengalihkan kamera ke Jakarta. “Wah, seru juga nih Timnas.”
Masalahnya, Garuda terlalu asyik menyerang sampai lupa rumah sendiri. Menit 36, serangan Bangladesh dari kiri membuat pertahanan yang dijaga Elkan Baggot lengah. Emil Audero salah mengantisipasi bola. Shahriar Emon menyundulnya.
Gol! Audero cuma bisa bengong. Sejak itu ia mungkin kapok selfie dengan penonton. Skor 3-1.
Garuda bukannya mengendur, malah seperti kesurupan. Menit 37, umpan Romeny kembali disambar Wak Mit. Gol! Lima menit kemudian, Wak Mit mencetak gol lagi.
Mehedi Hasan mungkin mulai bertanya, “Saya ini kiper atau korban simulasi?” Menit 45+1, Justin Hubner ikut mencetak gol. Babak pertama berakhir 6-1.
Di ruang ganti Bangladesh, Thomas Dooley memberikan tausiyah. “Kalian jauh-jauh ke Jakarta hanya untuk kalah? Malu! Buktikan kalian asli Bangla tanpa naturalisasi bisa mengimbangi Indonesia!”
Di ruang ganti Garuda, John Herdman lebih singkat. “Presiden baru saja reshuffle menteri. Masa kalian tak mampu mencetak selusin gol?”
“Yes, sir!”
Babak kedua, Bangladesh bertahan total. Mehedi Hasan berubah seperti mendapat kanuragan dari Gunung Everest. Bola ditembak dari segala penjuru, semuanya ditangkis. Penonton sampai pegang kepala.
Konon Harun Masiku, Silfester, Firly, gerombolan H Dadan, sampai napi Lapas Kelas II Cibinong ikut nobar dari tempat masing-masing. Semua berharap gol. Bedanya, sebagian nobar sambil menghitung hari.
Menit 69, Elkan Baggot nyaris kartu merah. Setelah cek VAR, hanya kuning. Penonton lega. Trauma Thom Haye saat lawan Malaysia belum sembuh.
Menit 84, Romeny sempat mencetak gol. Selebrasi sudah dimulai. Ternyata offside. Gol batal. Menit 88, Bangladesh nyaris mencetak gol. Untung melenceng. Audero yang kebanyakan ngopi langsung kaget.
Menit 90, tembok Bangladesh akhirnya runtuh. Romeny melewati dua pemain, mengirim umpan kepada Luke Vickery. Sepakan keras! Gol! 7-1. Jakarta pecah lagi.
Menit 90+1, Bangladesh membalas lewat Farhaan Ali Wahid. Nusantara terdiam. “Kok bisa gol?”
Menit 90+6, Kevin Diks menambah gol. Satu menit kemudian, Wak Mit mengamuk lagi. 9-2! Peluit panjang berbunyi. Indonesia lolos ke final dan harus bertemu Thailand. Garuda memimpin Grup A dengan nilai 7, sama dengan Malaysia yang menghancurkan Singapura 6-0. Indonesia unggul selisih gol.
Kini tinggal satu pertanyaan, apakah Thailand siap menghadapi Garuda, atau perlu membawa dua kiper, tiga satpam, dan satu dukun sepak bola? Bravo Timnas!
Rosadi Jamani
