Senjata Terbaru Prabowo, 200 Juta Warga Dibuatkan Rekening Bank

News, Politik23 Views

Jakarta, PBSN – Lawan politik Prabowo perlu menyiapkan strategi baru. Senjata terbaru dan teranyar Prabowo lebih dahsyat dari MBG dan KDMP. Akan membuatkan rekening bank untuk 200 juta warga.

Untuk saat ini, tak tahu nanti, berat melawan Prabowo. Bukan karena beliau punya ilmu kebal politik, bukan juga karena lawan politik kehabisan amunisi. Ia punya senjata pamungkas. Rakyat dikasih makan gratis, desa dikasih koperasi tinggal pakai. Nah, sekarang sekitar 200 juta warga mau dibuatkan rekening bank dan dikasih duit Rp 50.000 sampai Rp 80.000.

Ini kalau diteruskan, lama-lama rakyat tinggal menunggu pemerintah membagikan rumah lengkap dengan kulkas. Kulkasnya kosong, tentu saja. Yang penting rumahnya ada.

Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan kebijakan pembukaan rekening bank massal bagi sekitar 200 juta penduduk melalui Bank Rakyat Indonesia dan Bank Syariah Indonesia. Anggarannya sekitar Rp 11 triliun dari APBN. Saldo awalnya Rp 50.000 hingga Rp 80.000 per rekening dan uang tersebut bisa langsung ditarik.

Syaratnya juga keren. Warga negara berusia 17 tahun ke atas atau yang baru mendapatkan KTP akan otomatis memiliki rekening setelah data NIK dari Dukcapil dipadankan dengan sistem Bank Indonesia, OJK, dan Lembaga Penjamin Simpanan. Bagi yang sudah punya rekening di bank lain, datanya akan dikonsolidasikan agar semuanya terintegrasi secara nasional.

Ente bayangkan 200 juta rakyat Indonesia masuk ke satu ekosistem perbankan. Negara tinggal bilang, “Selamat datang di dunia inklusi keuangan.” Rakyat menjawab, “Terima kasih.” Lima menit kemudian Rp 50.000 ditarik. Saldo menjadi nol.

Tetapi status tetap inklusi. Ini luar biasa. Rekeningnya hidup, saldonya sudah meninggal.

Tujuan resminya tentu sangat mulia. Ini memperluas inklusi keuangan, mempermudah penyaluran bansos, dan membuat masyarakat semakin terhubung dengan sistem keuangan formal. BRI dan BSI dipilih karena jaringan ritelnya menjangkau pelosok dan kesiapan infrastruktur digitalnya sudah matang.

Namun namanya juga Indonesia. Kalau ada program pemerintah, selalu ada teori konspirasi tumbuh lebih cepat dari kapal induk KRI Gajah Mada.

Jangan-jangan Rp 50.000 ini bukan sekadar uang. Jangan-jangan ini operasi rahasia tingkat tinggi untuk membuat rakyat merasa dicintai negara. Transfer masuk, hati senang, kepuasan naik. Semacam hipnosis ekonomi. “Nuan mungkin tidak punya pekerjaan, tetapi Tuan punya rekening.”

Masalahnya, kondisi masyarakat memang sedang tidak sederhana. Harga kebutuhan pokok mahal, lapangan kerja susah, dan ekonomi belum kunjung terasa membaik. Kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto juga anjlok. Poltracking mencatat 78,1 persen pada Oktober 2025, lalu menjadi 55,1 persen pada Agustus 2026. ASI pada Juli 2026 mencatat 57,6 persen, Tempo Data Science 37 persen, dan SMRC 51,1 persen.

Maka jurus pemerintah kelihatannya sederhana.

Rakyat: “Harga kebutuhan pokok mahal!”

Pemerintah: “Ini rekening.”

Rakyat: “Kerjaan susah!”

“Ini rekening.”

“Ekonomi kapan membaik?”

“Saldo awal Rp50.000 sudah masuk.”

Waduh. Berat melawan Prabowo. Makan gratis ada. Desa dikasih koperasi tinggal pakai. Sekarang 200 juta warga dikasih rekening plus duit. Lawan politik baru mau menyusun strategi, rakyat sudah sibuk mengecek notifikasi mobile banking.

Tapi justru di sinilah pertanyaan seriusnya. Setelah Rp 50.000 ditarik, apa yang tersisa? Jangan sampai Rp11 triliun menghasilkan 200 juta rekening aktif sebentar, kemudian berubah menjadi rekening mati karena saldo kembali nol.

Sebab rakyat sebenarnya tidak hanya membutuhkan rekening. Rakyat membutuhkan pekerjaan, penghasilan, harga kebutuhan masuk akal, dan ekonomi benar-benar terasa membaik.

Kalau tidak, kita akan mencatat sebuah prestasi paling absurd dalam sejarah ekonomi modern. Ada 200 juta orang berhasil dibuat punya rekening, tetapi belum tentu berhasil dibuat merasa punya uang.

Kalau itu berhasil, mungkin inilah strategi politik paling jenius abad ini. Bukan membeli suara. Cuma membeli notifikasi saldo.

 

 

 

Rosadi Jamani