Harap Tenang, Dirut PT Pos Menyatakan Mundur

News, Politik44 Views

Jakarta, PBSN – Di negeri ini, jabatan itu persis Piala Dunia. Jangan pernah percaya peluit akhir. Karena begitu wasit meniup peluit panjang, tiba-tiba muncul VAR. Gol yang tadi dibatalkan, eh… disahkan lagi. Harap tenang, pejabat kita kali ini menyatakan mundur. Apakah mundur benaran atau sekadar sandiwara.

Kalau ada pejabat tinggi bilang mengundurkan diri, jangan buru-buru mengadakan tahlilan karier. Santai saja. Simpan dulu air mata di freezer. Tunggu beberapa bulan. Bisa jadi itu bukan pengunduran diri, melainkan babak tambahan waktu alias extra time. Bahkan kalau perlu, lanjut adu penalti jabatan.

Polanya sudah seperti taktik tim nasional. Sebelumnya, ada Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, yang mengundurkan diri. Publik sempat mengira kartu merah sudah keluar. Eh… beberapa bulan kemudian malah muncul sebagai tukang impor mobil pikap dari India. Tukang bangun KDMP. Luar biasa! Ini bukan transfer pemain. Ini transfer dimensi. FIFA saja mungkin perlu membuat regulasi baru, “Dilarang pindah klub melalui lubang cacing.”

Kini giliran Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero), Daud Joseph. Ia sudah menyerahkan surat pengunduran diri. Nah, rakyat sudah hafal pola permainannya. Begitu mendengar kata “mengundurkan diri”, mereka tidak lagi bertanya, “Kenapa mundur?” Yang keluar justru pertanyaan ilmiah tingkat profesor, “Kira-kira nanti dilantik jadi apa?”

Karena pengalaman mengajari satu hal. Di negeri ini, kursi jabatan lebih elastis dari karet gelang. Ditarik ke mana pun, ujungnya bisa kembali lagi.

Padahal CV Daud Joseph itu seperti skuad berisi sebelas Lionel Messi yang semuanya sedang berada di usia emas. Pengalamannya lebih dari 22 tahun dalam transformasi strategis sektor transportasi, agrobisnis, dan otomotif. Lulusan Teknik Metalurgi Universitas Indonesia, lalu meraih gelar Master of Global Management dari Thunderbird School of Global Management melalui beasiswa penuh. CV seperti ini kalau dilempar ke langit, satelit bisa ikut membaca.

Kariernya juga tidak main-main. Pernah menjadi Direktur Operasional dan Keselamatan PT Transportasi Jakarta. Memimpin 6.500 karyawan dengan sekitar 1,4 juta pelanggan setiap hari pada sistem BRT terpanjang di dunia. Itu bukan mengelola transportasi. Itu sudah seperti menjadi pelatih tim nasional yang harus mengatur sebelas juta strategi setiap menit.

Belum cukup. Ia menjadi Komisaris Utama PT Steady Safe Tbk dan berhasil membalikkan kinerja operasional dari negatif menjadi positif hanya dalam satu tahun. Ini seperti membawa tim yang kalah 0-7 di babak pertama, lalu menang 8-7 sebelum peluit panjang berbunyi.

Di sektor agrobisnis dan logistik, ia pernah berkarier di PT Triputra Agro Persada Tbk dan PT SMART Tbk milik Sinar Mas. Ia mengelola 6.000 armada dan 14.000 tenaga kerja, sekaligus meningkatkan pendapatan hingga 127 persen melalui rekayasa proses bisnis dan mekanisasi panen. Angka 127 persen ini membuat kalkulator meminta cuti tahunan karena merasa tidak lagi dihargai.

Awal kariernya dimulai sebagai Management Trainee PT Astra International Tbk-Isuzu dengan meningkatkan efisiensi di 27 cabang bengkel. Bahkan pernah berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Los Angeles dalam merumuskan metodologi investasi infrastruktur berbasis SDG. Bahasa yang dikuasainya pun lima: Indonesia, Inggris, Jepang, Mandarin, dan Spanyol. Di luar itu ia aktif menjadi pembicara publik, motivator, penggubah lagu, sekaligus pemimpin paduan suara. Tinggal belajar bahasa alien, dan bahasa Koptagul saja yang belum. Lengkaplah paketnya.

Namun yang paling menarik justru bukan CV itu. Yang menarik adalah reaksi rakyat. Mereka kini menonton kabar pengunduran diri seperti menonton final Piala Dunia. Tidak ada yang benar-benar berdiri meninggalkan stadion sebelum VAR selesai bekerja. Sebab pengalaman mengajarkan, di republik penuh plot twist ini, kata “mundur” sering kali hanyalah operan pendek. Bola sebentar disentuh ke belakang… lalu tiba-tiba disodorkan ke depan menjadi gol jabatan baru. Rakyat? Mereka cuma bisa tepuk jidat sambil berkata, “Wah, ini bukan rotasi kabinet. Ini tiki-taka semesta.”

“Bang, kalau saya analisis, ia penuh tekanan. Biasanya pintu masuk cokelat atau hijau mau duduk di situ.”

“Ah, ente suuzon aja, wak. Tapi, biasanya begitu sih.”

 

 

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *