Gadis 18 Tahun Dinikahi Pria 71 Tahun, Yang Jomblo Maaf Ya!

News, Sosial310 Views

Luwu, PBSN – Dunia sedang perang atau mau kiamat sekalipun tak bisa membendung cinta dua insan dimabuk asmara ini. Kalau dibilang “love is blind” ada benarnya. Puang bayangkan, gadis 18 tahun mau dinikahi oleh pria usia 71 tahun. Kok, bisa? Nikmati narasinya.

Di saat dunia lagi panas kayak kompor kosan lupa dimatikan, tiga negara yakni Iran, Israel, dan Amerika Serikat, sibuk kirim rudal, di Desa Batu Lappa, Kecamatan Larompong Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, muncul satu peristiwa yang bikin seluruh analis geopolitik mendadak copot kacamata. Seorang pria 71 tahun, H. Buhari, menikahi gadis 18 tahun berinisial TA yang masih duduk di bangku SMA. Dunia langsung loading… lama.

Tulisan ini tidak bermaksud menyindir kaum jomblo. Ini murni observasi ilmiah berbasis “lah kok bisa?” tingkat dewa. Tapi jujur saja, kalau tiga negara itu mau belajar dari pasangan ini, mungkin yang diluncurkan bukan rudal, tapi undangan nikah warna emas dengan font Times New Roman miring.

Pernikahan ini berlangsung pada Minggu (5/4), dan langsung viral. Bukan karena MC-nya artis ibu kota atau souvenirnya rice cooker, tapi karena selisih usia yang kalau dijadikan jembatan, bisa nyambung dari Batu Lappa ke parkiran warung sebelah. Yang satu sudah 71 tahun, usia di mana orang biasanya sibuk nanya “ini kacamata saya di mana?”yang satu 18 tahun, masih SMA, masih berjuang antara tugas matematika dan godaan scroll TikTok.

Kepala Desa Batu Lappa, Muhammad Arsad, tampil dengan aura “saya juga kaget, bos”, mengatakan, pernikahan tersebut tidak melibatkan pemerintah desa sama sekali. Ini bukan sekadar nikahan, ini operasi senyap level “stealth mode aktif”. Biasanya, kalau ada pernikahan di desa, pemerintah dilibatkan sejak lamaran. Tapi yang ini? Nihil. Kosong. Seperti chat “halo” yang tidak dibalas.

“Proses pernikahan tidak melibatkan pemerintah desa,” kata Arsad saat dikonfirmasi pada Rabu (8/4). Bahkan beliau tidak hadir karena sedang berada di Kabupaten Barru, mengantar pengantin lain, adik dari kepala dusun Batu Lappa. Plot twistnya berlapis-lapis, seperti sinetron 300 episode yang tidak tamat-tamat.

Arsad juga mengungkapkan, pihak desa hanya menerima pemberitahuan, tanpa dilibatkan sejak awal, termasuk saat lamaran. Biasanya ada prosesi, ada koordinasi, ada kopi, ada gorengan. Tapi kali ini? Seolah pasangan ini bilang, “Kami tidak butuh rapat, kami butuh sah!”

Lebih mencengangkan lagi, berdasarkan informasi yang diperoleh, hubungan keduanya terjadi atas dasar suka sama suka. Tidak ada indikasi paksaan. Bahkan dari video yang beredar, pengantin perempuan tampak bergembira, bernyanyi, dan terlihat sangat menikmati momen. Ini bukan lagi cinta buta, ini cinta yang sudah pakai kacamata anti radiasi.

Namun, di tengah euforia yang membuat netizen kehabisan kata selain “ini serius?”, ada satu fakta kecil yang diam-diam berdiri seperti tiang listrik, usia 18 tahun belum memenuhi syarat Undang-Undang Perkawinan yang menetapkan batas minimal 19 tahun. Jadi ini seperti sudah lari maraton 42 km, tapi lupa ambil medali di garis finish.

Dari sisi ekonomi, Arsad menyebut pihak laki-laki tergolong mampu karena memiliki kebun yang luas. Netizen langsung berubah jadi analis ekonomi cinta, “Oh, ini cinta plus aset tetap.” Sementara itu, orang tua mempelai perempuan bekerja di sektor tambak empang. Ini bukan sekadar pernikahan, ini kolaborasi lintas sektor, perkebunan ketemu perikanan, cinta ketemu logika yang lagi cuti.

Reaksi masyarakat? Jangan ditanya. Warga dihebohkan, penasaran, dan mungkin sebagian sambil garuk kepala sambil berkata, “Ini timeline atau multiverse?” Yang satu 71 tahun, yang satu 18 tahun. Ini bukan beda generasi, ini beda zaman, beda soundtrack hidup, beda jenis nostalgia.

Di sinilah absurditas mencapai klimaks yang bikin ketawa sambil mikir. Saat Iran, Israel, dan Amerika Serikat sibuk menyusun strategi perang, di Batu Lappa orang-orang malah menyusun pelaminan. Saat dunia mengencangkan otot, di sini orang mengencangkan janji.

Mungkin dunia terlalu rumit karena kurang nikah. Mungkin konflik global butuh akad, bukan debat. Nuan bayangkan kalau tiga negara itu duduk bersama bukan di meja perang, tapi di kursi pelaminan. Minimal mereka sibuk foto keluarga, jadi lupa konflik.

Akhirnya, kita hanya bisa menarik napas panjang, minum kopi, lalu berkata pelan, “Hidup ini bukan lagi plot twist… ini sudah plot jungkir balik.” Di tengah semua itu, pasangan ini dengan santainya bilang, “Sudahlah, ribet amat… kita nikah saja.

 

 

 

Rosadi Jamani