Jakarta, PBSN – Sebenarnya saya mau tutup soal Riau. Nanti ada yang marah lagi, “Lo orang Kalbar ngapain ngurus Riau.” Karena udah ditangkap, ya sudah, cukup. Cuma, belakangan, isu ini malah makin panas, soal integritas KPK. Keterangan berubah-ubah macam bunglon kena sorot lampu disko. Siapkan Koptagul, nikmati narasinya.
Di Riau, kebenaran kini sedang dicukur. Pelan-pelan, habis pinggirnya, botak tengahnya, dan licin bagian belakangnya. Di kursi barbershop itu, bukan cuma Gubernur Abdul Wahid yang duduk, tapi juga seluruh absurditas bangsa. Kata KPK, OTT terjadi di rumah dinas. Esoknya bukan di rumah dinas, tapi di kafe. Lusa, KPK meluruskan lagi, bukan rumah, bukan kafe, tapi di barbershop. Semesta pun mungkin garuk kepala, sebab kebenaran di negeri ini rupanya punya GPS yang tersesat.
Juru bicara KPK, Budi Prasetyo, berdiri di podium, menggenggam kata-kata yang tampak bergetar. Ia bilang, OTT dilakukan di kediaman Gubernur Riau. Wartawan menulis cepat, headline meledak, publik ternganga. Tapi sehari kemudian, rilis diperbarui, bukan rumah, tapi kafe. Mungkin di sebelah rumah, mungkin di bawah pohon, entahlah. Hingga hari ketiga, KPK akhirnya bicara lagi, yang benar adalah barbershop. Di situlah, katanya, Gubernur ditangkap, bersama staf dan ajudannya, saat sedang bercukur. Sebuah momen yang hampir religius, pemurnian diri lewat gunting dosa.
KPK menuduh ada pemerasan sebesar lima persen dari anggaran proyek Dinas PUPR PKPP, yang awalnya Rp71,6 miliar lalu melonjak menjadi Rp177,4 miliar. Ada juga uang tunai diamankan, dokumen, dan CCTV dari rumah dinas. Kata KPK, sebagian uang itu digunakan untuk perjalanan luar negeri, melalui tenaga ahli sang Gubernur. Semua terdengar meyakinkan, angka, nama, lembaga, prosedur. Tapi ketika narasi sudah berubah tiga kali hanya untuk satu lokasi, publik mulai bertanya, kalau tempatnya saja bingung, bagaimana dengan isinya?
Di tengah kekacauan itu, muncul sosok Tara Maulana. Ia disebut ikut ditangkap lalu dilepaskan. Setelah bebas, ia bicara. Suaranya seperti nyanyian disonan di tengah konser orkestra. “Tidak ada pemerasan lima persen,” katanya. “Tidak ada OTT di situ.” Kalimat itu segera jadi bensin bagi para simpatisan. Mereka menyalakan unggun di dunia maya, lihat, KPK keliru! Tangkapan itu penuh kejanggalan! Arus komentar pun mengalir seperti banjir bandang informasi, menenggelamkan siapa pun yang masih percaya pada logika.
Tapi mungkin, inilah seni tertinggi bangsa ini, mengubah fakta jadi fragmen puisi. Rumah dinas menjadi kafe, kafe menjadi barbershop, dan barbershop menjadi simbol teater kebenaran. Di ruang bercukur itu, gunting berayun seperti pedang malaikat, dan kita semua duduk menunggu giliran, berharap dosa kita bisa disisir ke lantai sejarah.
Ada yang percaya pada KPK, ada yang membela Abdul Wahid, ada pula yang hanya ingin menonton. Tapi siapa pun yang menatap layar berita malam itu, akan mengerti bahwa kebenaran tak pernah sederhana. Ia bukan satu kalimat, melainkan pertarungan antara kata dan tafsir, antara laporan resmi dan bisikan simpatisan, antara uang miliaran dan kebingungan publik.
Maka biarlah, di kursi barbershop itu, kebenaran dicukur hingga licin. Karena di negeri ini, kejujuran memang baru dianggap rapi kalau sudah habis rambutnya.
Dari kejauhan ada seseorang yang tersenyum sambil minum kopi khas Pekanbaru. Siapakah dia?
Kebenaran kadang tak punya alamat tetap. Ia bisa muncul di rumah megah, menghilang di kafe, lalu nongol di barbershop, berganti tempat secepat bisikan politikus di malam rapat rahasia. Tapi di balik kekacauan versi dan pernyataan, kita belajar bahwa yang paling perlu dicurigai bukan cuma pelaku korupsi, melainkan juga cara “kebenaran” dikemas dan disajikan kepada publik. Setiap institusi membawa narasinya sendiri, sementara rakyat hanya menonton dari pinggir jalan, menebak-nebak mana yang fakta dan mana yang sedang disulap menjadi opini.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
