Hari Ketiga Perang Kartel Meksiko sudah Tewaskan 74 Orang

Meksiko, PBSN – Meksiko sudah seperti neraka. Para anggota kartel dendam membara. Melancarkan serangan brutal di mana-mana. Perang dua hari sudah melenyapkan 74 nyawa.

Meksiko hari ini bukan lagi negeri sombrero yang menari di bawah matahari, melainkan piñata raksasa yang dipukul pakai tongkat roket. Begitu Nemesio Oseguera Cervantes alias El Mencho roboh ditembak dalam operasi militer di Tapalpa, Jalisco, isinya bukan permen yang berhamburan, melainkan 70–74 nyawa dalam tiga hari. Termasuk 25 anggota National Guard, beberapa tentara, satu sipil tak berdosa, dan puluhan anggota CJNG yang mendadak naik status jadi “martir diskon akhir musim”.

Kota-kota berubah seperti mural tengkorak hidup. Lebih dari 250 narcobloqueos meledak di 20+ negara bagian. Mobil, bus, truk dibakar seperti taco yang kelamaan di atas kompor. Oxxo, Costco, bank, pom bensin, sampai gedung pemerintah kecil jadi korban arson therapy berjamaah. Dari Guadalajara, Puerto Vallarta, Zapopan, Tapalpa, Sayula, El Grullo, Ciudad Guzmán, lalu merembet ke Michoacán, Guanajuato (70+ aksi bakar di 23 kota, angka yang bikin tequila terasa hambar), Colima, Tamaulipas, Sinaloa, hingga Nayarit. Ini bukan festival mariachi. Ini simfoni sirene ambulans.

Presiden Claudia Sheinbaum tampil dengan ketenangan level patung di tengah badai. “Peace, security, and normalcy are being maintained.” Kalimat yang terdengar seperti mantra Aztec untuk menenangkan gunung berapi. Sementara di jalan, poster dan pesan WhatsApp beredar, siapa keluar rumah, ditembak. Romantis sekali.

Sebanyak 10.000 tentara dan National Guard dikerahkan ke 20 negara bagian, plus 2.500 ekstra khusus Jalisco. Total hampir 10.000 personel hanya di satu negara bagian. Katanya 83% blokade sudah dibersihkan. Sekolah masih tutup, karena anak-anak bukan figuran film aksi. Ketenangan mulai “kembali”. Tentu saja. Jika tiap sudut kota dijaga senapan dan tank, bahkan burung merpati pun berpikir dua kali untuk terbang.

Bandara Puerto Vallarta lumpuh. Penerbangan internasional dan domestik dibatalkan karena akses diblokir. Turis Amerika mendadak ikut program shelter-in-place edisi gratis. Liburan pantai berubah jadi retret survival. Guadalajara airport relatif aman, hanya macet dan tegang. Kedutaan AS bilang bandara lain normal. Normal versi dunia paralel mungkin.

Lalu bayangan Piala Dunia 2026 menggantung seperti piñata berisi dinamit. Guadalajara dijadwalkan menjadi tuan rumah empat pertandingan. FIFA menyatakan “closely monitoring”. Presiden FIFA, Gianni Infantino, penuh percaya diri. Meksiko menangani ini sebagai isu keamanan nasional dan kebanggaan. Tentu saja. Nanti penonton masuk stadion lewat metal detector rasa bandara internasional, disambut tentara berseragam lengkap. Tiket mahal, bonus pengalaman nonton bola sambil menghitung helikopter.

Di balik layar, teori konspirasi mulai tumbuh seperti kaktus di gurun. Ada yang berbisik, apakah kematian El Mencho benar-benar akhir, atau babak awal restrukturisasi? CJNG kini mengalami power vacuum. El Menchito dipenjara seumur hidup di AS. La Negra juga di bui. La Jefa fokus bisnis. Kandidat pewaris? Juan Carlos Valencia González alias El 03 atau R3, si darah dinasti. Gonzalo Mendoza Gaitán alias El Sapo, penguasa logistik dan prekursor kimia dari China untuk methamphetamine dan fentanyl. Ada rumor El Jardinero. Jika kartel pecah, mereka bisa bermetamorfosis jadi serpihan lebih liar. Seperti ular yang dipotong, tiap bagian tumbuh kepala baru.

Meksiko hari ini seperti taco yang digigit terlalu keras. Sausnya muncrat ke mana-mana. Pemerintah bilang semuanya terkendali. Jalanan bilang sebaliknya. Dunia menonton sambil seruput Koptagul yang terasa pahit. Ini bukan sekadar perang kartel. Ini opera sabun berdarah dengan latar mariachi dan bau bensin. Ngeri bukan karena ledakannya saja, tetapi karena semua orang tahu, bab berikutnya mungkin sudah ditulis, tinggal menunggu korek api berikutnya dinyalakan.

“Bang, kita bersyukur tidak seperti Meksiko, polisi/tentara vs kartel, aparat hukum melawan penjahat. Kalau di kita gimana, Bang?”

“Benar, wak. Cuma, kalau di kita, susah membedakan mana aparat hukum dan penjahat.” Ups

 

 

 

 

Rosadi Jamani