Bone, PBSN – Bu Ketua, janganlah staf sendiri ente perlakukan kayak binatang. Wajahnya iye’ lempar dengan kue, lalu disiram dengan air mineral, dilempar dengan botol. Iko itu orang terhormat. Staf tak terima lalu lapor polisi, salah siapa sekarang?
Bone selama ini dikenal sebagai tanah para bangsawan Bugis. Negeri tempat badik lebih sering disimpan sebagai lambang kehormatan dari dihunus karena emosi. Tempat bosara menjadi simbol penghormatan kepada tamu. Tapi entah angin apa yang bertiup pada 22 Juli 2026. Bosara biasanya membawa kue untuk memuliakan tamu, menurut laporan korban, justru berubah menjadi “rudal demokrasi”. Kalau Arung Palakka bangkit dari makamnya, mungkin beliau akan mengira gedung DPRD sudah berganti fungsi menjadi arena pertandingan lempar sasaran.
Tokoh utama kisah ini adalah Andi Tenri Walinonong, perempuan kelahiran Ulaweng, 28 Desember 1993. Putri H. Andi Maddusila Takka alias Petta Haji Aras dan Hj. Andi Hermi Sanawawi, cucu Petta Timusu yang disegani. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin ini pernah maju lewat NasDem pada 2019 sebelum bergabung ke Gerindra. Hasilnya fantastis. Ia meraih 7.828 suara, menjadi peraih suara terbanyak di dapilnya. DPP Gerindra lalu menunjuknya menjadi Ketua DPRD Bone periode 2024-2029. Dilantik pada 31 Oktober 2024 di usia 31 tahun. Ia mencetak sejarah sebagai perempuan pertama sekaligus ketua DPRD termuda di Bone. Direktris CV Putri Timusu ini juga aktif dalam ritual adat Mattompang Arajang, mencuci keris pusaka kerajaan, serta dikenal sebagai pendukung kesetaraan gender. Kisahnya semula terdengar seperti dongeng putri kerajaan yang turun gunung membawa kesejukan.
Lalu datanglah bab yang membuat penulis sinetron ikut tepuk jidat.
Menurut laporan Yuli Novita Sari, 29 tahun, seorang PPPK paruh waktu di Bagian Umum Sekretariat DPRD Bone, ia hanya diminta menyiapkan kue untuk dua tamu Ketua DPRD. Tugas sederhana itu mendadak berubah menjadi adegan laga. Yuli mengaku dipanggil ke kantin. Di sana, menurut laporannya, wajahnya dilempar bosara berisi kue, disiram air mineral dari botol, lalu botol kosong ikut melayang. Sebuah botol sambal juga disebut dilempar, meski meleset. Kantin DPRD seketika terasa lebih gaduh dari arena pacuan kuda Bone saat garis finis.
Yuli menangis, membersihkan wajah dengan tisu, kemudian menjalani visum di RSUD Tenriawaru Bone. Malam harinya ia melapor ke SPKT Polres Bone dengan nomor STTLP/450/VII/2026/SPKT/RES BONE/POLDA SULSEL atas dugaan penganiayaan yang dilakukan secara sengaja melawan hukum. Ia juga berencana melapor ke Badan Kehormatan DPRD karena menilai tindakan tersebut melanggar etik pimpinan lembaga legislatif.
Sang Ketua DPRD membantah. Kepada Kompas.com melalui sambungan telepon sehari kemudian, ia mengakui sempat emosi, tetapi mengatakan kue dilempar ke tanah, bukan ke wajah siapa pun. Botol juga disebut tidak diarahkan kepada orang. Sementara itu, Polres Bone membenarkan laporan telah diterima dan kasusnya masih dalam tahap penyelidikan.
Drama ini bukan pertama. Pada Oktober 2025, 35 dari 45 anggota DPRD Bone, termasuk 7 anggota Gerindra dan 3 wakil ketua DPRD, mengajukan mosi tidak percaya. Tuduhannya beragam, mulai dari jarang memimpin rapat, menolak rekomendasi delapan fraksi soal Sekwan, walk out saat paripurna APBD Perubahan, mengedepankan ego pribadi, melanggar prinsip kolektif kolegial, mencederai marwah dewan, hingga menghambat pelayanan publik. Andi Tenri membalas dengan melaporkan anggota Badan Kehormatan yang ikut menandatangani mosi tersebut karena dianggap melanggar etik.
Bone dikenal sebagai tanah siri’, kehormatan, dan kebesaran Bugis. Sayangnya, kali ini yang paling ramai dibicarakan bukan keputusan dewan, melainkan kue, botol air, dan laporan polisi. Demokrasi yang seharusnya melaju gagah seperti kuda Bone justru terpeleset di atas remah bolu. Plot twist-nya benar-benar membuat rakyat bingung, ini gedung wakil rakyat atau latihan perang menggunakan hidangan tamu?
“Bang, saya pesimis dengan kasus model beginian. Nanti ujungnya pasti diselesaikan secara kekeluargaan.”
“Biasanya sih begitu. Drama aja, anggap saja jeda iklan,
Rosadi Jamani
