Begini Cara Para Akademisi Korupsi, Orang Tua Calon Mahasiswa Diperas

Hukrim, News42 Views

Jakarta, PBSN – Saat menulis ini, emosi saya lagi naik. Harap maklum kalau bahasanya kasar. Sebagai akademisi, terus terang saya malu. Para gerombolan TG3 dari Unsoed telah mencoreng dunia kampus. Mahasiswa teriak antikorupsi, eh rektornya malah jadi pemeras orangtua mahassiwa.

Di balik tembok kampus yang katanya suci, di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto (Unsoed), segerombolan akademisi berjubah profesor berubah jadi penjahat kelas kakap mengisap darah orang tua sampai kering. Rektor Akhmad Sodiq, Wakil Rektor III Norman Arie Prayogo, Kepala Bagian Akademik Eko Sumanto, ditambah tiga calo busuk Dian Mulia Wardhana, Adhi Wiharto yang juga Wakil Ketua DPC Gerindra Banyumas, dan Mulyono keponakan rektor sendiri, telah ditetapkan tersangka KPK setelah Operasi Tangkap Tangan 20 Agustus 2026. Uang tunai Rp 665 juta dan saldo rekening Rp 99 juta disita. Total yang mereka kais dari keringat orang tua sepanjang 2025-2026 mencapai Rp 1,12 miliar. Itu baru yang ketahuan. Sisanya mungkin sudah dibelanjakan untuk tanah, mobil, atau pesta.

Nuan bayangkan seorang ayah sudah menjual sawah warisan. Ibu menggadaikan perhiasan terakhir. Bahkan berhutang ke rentenir hanya supaya anaknya bisa duduk di bangku Fakultas Kedokteran Unsoed jalur mandiri. Mereka datang membawa harapan. Yang menyambut justru tarif Rp 650 juta per kepala.

Norman Arie Prayogo dengan tenang memerintahkan dua perantaranya, Dian Mulia Wardhana dan Adhi Wiharto, untuk mematok harga itu. Rektor Akhmad Sodiq tahu semuanya. Ia membiarkan. Uang diserahkan. Anak tidak diluluskan. Orang tua datang menagih dengan wajah pucat. Uang sudah habis dipakai para perantara untuk keperluan flexing para gerombolan.

Norman lalu meminjam ke Mulyono, keponakan rektor, supaya bisa mengembalikan. Sebagai gantinya, dijanjikan pencairan tiga paket proyek kampus; pengadaan kanopi, renovasi kantin, dan pengecatan gedung yang dikerjakan CV milik Mulyono sendiri. Sungguh rapi. Sungguh menjijikkan. Sungguh pantas diludahi di muka umum.

Bukan hanya itu. Ada klaster lain yang lebih licin tapi sama menjijikkan. Rektor Akhmad Sodiq memberi kode langsung kepada keponakannya Mulyono. “Jangan diminta di awal”, “Kalau dikasih bilang terima kasih”. Minimal Rp 680 juta mengalir lewat jalur ini. Uangnya dibelikan tiga bidang tanah atas nama Mulyono. Duh, Mulyono lagi, ups.

Sementara Eko Sumanto, Kepala Bagian Akademik, sibuk tawar-menawar “mahar” dengan pengepul calon mahasiswa. Setelah uang Rp 1,12 miliar terkumpul, ia lapor ke rektor. Rektor pun dengan murah hati menyerahkan user ID dan password pribadinya supaya Eko bisa “klik” sistem dan meloloskan mereka yang sudah bayar. Dari kuota sekitar 245 mahasiswa jalur mandiri, 73 orang sudah disetting jadi ladang panen. Mereka tidak lagi mengajar ilmu. Mereka mengajar cara mengisap darah orang tua yang sudah putus asa.

Ini bukan sekadar korupsi. Ini pengkhianatan berlapis-lapis terhadap orang tua sudah kehilangan segalanya, terhadap anak-anak masih polos, terhadap institusi pendidikan seharusnya menjadi benteng terakhir integritas. Mereka memakai toga, memakai gelar profesor, memakai ruang rektorat yang dibiayai pajak rakyat, lalu mengubah seleksi mahasiswa menjadi pasar gelap yang lebih kejam dari judi.

Tarif Rp 650 juta untuk satu kursi kedokteran. Uang diambil, anak digagalkan. Proyek kampus dijadikan mesin cuci uang. Keponakan dijadikan tempat parkir aset. Politisi lokal dijadikan calo. Semuanya berjalan di bawah atap kampus negeri yang katanya mencetak generasi bangsa.

Kini mereka sudah mengenakan rompi oranye di Rutan Gedung Merah Putih KPK, ditahan 20 hari pertama sejak 21 Agustus hingga 9 September 2026. Pasal 12 huruf e atau 12B UU Tipikor siap menanti. Tapi hukuman penjara sekalipun terasa terlalu ringan dibanding air mata orang tua sudah kehilangan segalanya hanya karena percaya pada “akademisi” ini. Mereka bukan pendidik. Mereka penjahat berkemeja rapi pantas diludahi di muka umum, diludahi berkali-kali, sampai ludah itu mengering di wajah mereka sudah kehilangan malu. Biarkan ludah itu menempel selamanya.

 

 

 

Rosadi Jamani