Oleh : Moh. Naufal Dunggio
Aktivis dan Ketua LDK PWM DKI
Muktamar Muhammadiyah di Solo tidak akan lama lagi di gelar. Pesan-pesan dari kader Muhammadiyah atau yang lainnya demi kelangsungan hidup INDEPENDENSI, MANDIRI dan TAK BISA DIBELI pihak luar terus menggema. Salah satu itu yakni dari Ayahanda Prof. Dr. H Amin Rais MA. Mantan KETUA UMUM Muhammadiyah. Video beberapa menit untuk mengingatkan peserta Muktamar yang diawali sehari sebelum Muktamar dengan Tanwir memilih para calon yang disodorkan dari tiap-tiap wilayah dari seluruh Muhammadiyah kemudian dibawa ke Muktamar untuk dipilih 13 orang yg akan jadi nakhoda secara kolektif kolegial. Tapi tetap dari 13 orang akan dipilih siapa yang jadi AMIR untuk membawa belayar kapal besar bernama Muhammadiyah. Nah disini masuk wanti² dari pesan Ayahanda MOH. AMIN RAIS (MAR).
Jangan memilih pengurus apalagi jadi ketum Muhammadiyah orang yang suka BOLAK BALIK di istana.
Kita tidak tahu siapa orang yang dimaksud Ayahanda MAR. Tapi orang juga lagi mengira-ngira siapa orang tersebut. Sudah pasti tidak lain dan tidak bukan mereka yg secara de fakto dan de yure yang menjadi orang nomor satu dan nomor dua di Muhammadiyah itulah yang dimaksud Ayahanda MAR. Ini bukan apa-apa. Ayahanda MAR mengingatkan aja demi kelangsungan hidup Muhammadiyah agar tetap kelihatan dakwah AMAR MAKRUF dan NAHI MUNGKARNYA.
Memang menjadi Ketum dan Sekum di Muhammadiyah benar-benar cukup seksi. Karena nama besar Muhammadiyah jadi Ketum dan Sekum juga terangkat jadi besar. Sehingga siapa aja yang dekat dengan kedua orang ini bakal dijamin aman tentram hidupnya. Jabatan akan datang bertubi-tubi bila dekat dengan kedua orang sakti mandraguna ini di Muhammadiyah. Contoh kasus seperti SAMBO di rumah sakit Islam Campaka Putih. Karena bagian dari klan ketum dia dapat kemudahan menjadi Ketua Majelis PKU dan memegang tujuh jabatan yang lain. Yang harusnya salah satu jabatan itu harus dipegang seorang dokter karena itu wilayah kedokteran tapi dokter itu LEWAT kalah sama dokter pakai S alias dokterandus (Drs).
Pernyataan Ayahanda MAR itu gak main-main. Seorang IMAM mujtahid dulu yg kalau dipanggil penguasa ke istana beliau gak mau akhirnya beliau di cambuk. Sampai kulit belakangnya sama tebalnya dengan kulit tumit yang kalau jalan gak pakai alas kaki. Bukan apa-apa, menurut sang Imam kalau Ulama udah ke istana rezim apalagi makan uang rezim gak bakalan independen dan tajam lagi dalam berfatwa. Padahal fatwa ulama itu salah satu kekuatan jema’ahnya. Kalau Ulama udah sering duduk ngopi dengan penguasa maka sang ulama tersebut akan terhalang penglihata alias buram melihat persoalan-persoalan umat.
Ini yang menyebabkan Muhammadiyah jadi mandul melihat penderitaan umat melalui politik dan kekuasaan. Bahkan ada larangan kalau ada kasus yang mau dibela jangan bawa-bawa nama Muhammadiyah. Udah kayak Muhammadiyah punya keturunan nenek moyangnya. Kalau pakai nama yg lain pihak aparat gak mau memproses tapi kalau nama Muhammadiyah karena Muhammadiyah besar maka aparat mau tidak mau memprosesnya. Hal ini pernah terjadi ada seorang kader yang melapor kepada kepolisian atas pencemaran dan penghinaan Islam oleh si murtadin yang saat itu jadi pendeta. Wah kader tersebut diomelin habis-habisan oleh pimpinan pusat melalui pimpinan wilayahnya tapi saat si pendeta ingkrah dihukum para pengurus memuji-muji bahwa kader tersebut hebat.
Jadi kepada para Muktamirin jelilah dan harus terang matanya dan pakai hati yang dalam memilih pengurus yang 13 itu. Pilihlah yg gak disukai rezim laknat seperti Ayahanda ANWAR ABBAS dan Ayahanda BUSRO MUQODDAS. Dua orang ini mau disingkirkan oleh penguasa dari istana. Dan yg 13 harus jeli memilih siapa jadi KETUM dan SEKUMnya. Jangan ada titipan-titipan dari istana laknat harus si fulan yang jadi Ketum.
Muhammadiyah udah ratusan tahun hidup dan berpengalaman jangan dirusakin dengan orang-orang yang pro istana. Umat masih sangat membutuhkan Muhammadiyah. Jangan jauh dari umat dan berharap dari penguasa. Apalagi penguasa yang penuh dengan kepalsuan.
Ijazah palsu bahkan orang tuanyapun palsu.
Selamat bermuktamar
Nasrun Minallah wa Fathun Qoriib wa Basysyiril Mukminin.
Wallahu A’lam …






