Oleh : Andrianto
Pengamat Kebangsaan
Jatuh talak 1 kepada Ganjar Pranowo yang pede menyatakan siap untuk Capres. Sudah bisa diduga dari hasil Rakernas II PDIP Juni 2022 yang dibacakan sendiri oleh Ganjar Pranowo yang menyatakan Capres, hak prerogatif Ketum PDIP tiada lain ya Megawati.
Publik menangkapnya sebagai pemborgolan terhadap Ganjar. Tidak mungkin sang pembaca tidak mengerti makna yang dibacanya.
Sebelumnya itu memang terlihat PDIP sudah gusar dengan manuver Ganjar yang ambisius dengan ditopang Cyber Army dan perangkat relawan yang dulu pendukung Jokowi.
PDIP seperti halnya PKS adalah Partai kader yang lebih mengutamakan kader yang loyal pada perintah partai, jabatan adalah Penugasan bukan Perebutan.
Situasi Ganjar yang ambisius ini yang buat kader senior seperti Bambang Pacul, Trimedya dan juga Masinton mempertanyakan kapabilitas Ganjar?.
Ganjar belum pernah mentas di level nasional kecuali pernah jadi anggota DPR biasa yang namanya justru keserimput skandal E-KTP.
KPK tercatat sudah 8 x memeriksa Ganjar dan juga menghadirkan ke persidangan.
Situasi Ganjar beda jauh dengan Jokowi dulu yang terkesan tidak ambisius dan menunggu dengan sabar titah dari Mega jelang dua bulan pemilu.
Ganjar Pranowo bisa jadi bertindak semborono karna ada dukungan dari Jokowi. Sering terlihat Jokowi bersama Ganjar. Bahkan dalam acara relawan utamanya Jokowi memberi angin kepada Ganjar. Jokowi tentu lebih nyaman sama Ganjar
Proteksi hukuman KPK dari kasus E-KTP jadi Collateral loyalitas selamanya.
Apalagi KPK sekarang anak cabang eksekutif langsung di bawah Presiden
Jokowi butuh orang yang loyal untuk amankan proyek-proyek mercusuar yang untungkan Oligarkhys tapi rugikan rakyat Indonesia.
Sikond politik sudah makin kebaca, Gerindra sudah resmi Capreskan Prabowo,
Nasdem Capreskan Anies Baswedan bahkan Golkar sejak munas 2 tahun lalu Capreskan Airlangga Hartarto.
Maka masuk akal bilamana PDIP Capreskan kader utamanya sekaligus kader ideologis dan biologis yakni
Puan Maharani.
Jalannya pemerintahan 8 tahun ini yang ugal-ugalan jauh dari gambaran ideal PDIP.
Hutang yang menumpuk, Ekonomi yang pro Oligarkhys,
hukum yang suram ditambah kohesi sosial yang dapat mengancam integrasi bangsa warisan Bung Karno sang inspirator PDIP.
Dapat dikatakan eksprimen menjadikan Presiden sebagai petugas partai telah gagal.
Sang petugas ternyata lebih jadi petugas Oligarkhys
Tentu keledaipun tidak mau jatuh pada lubang yang sama. Tinggal menunggu waktu saja Ganjar Pranowo di-kick out alias dipecat untuk melapangkan jalan Putri mahkota yakni Puan Maharani sang kader utama.
Lantas gimana peluangnya? Dalam kontestasi pemilu disamping figur tentu mesin partai dan momentun jadi aras kemenangan.
Elektabilitas Puan yang kecil akan berderek dengan ruang waktu.
Contohnya dulu Jokowi juga rendah ketika berduel lawan Foke atau Ganjar ketika berduel sama Bibit saat Pilkada.
Ya itu pilkada?
Ini khan pilpres?
SBY juga dulu modalnya tidak setinggi Mega, makanya Mega pede menggaet cawapres dari ormas.
Jelang dua bulan pemilulah ada accident
Jenderal taman kanak-kanak kepada SBY yang tidak lagi dilibatkan di kabinet. SBY lantas mundur dari kabinet dan menyatakan siap Capres dan sejarah sudah kita ketahui hasilnya.
Jadi waktu masih tersedia buat Puan Maharani.
Lagipula pemilu bukan soal menang kalah. Kehormatan sebagai Partai besar jadi pertaruhan PDIP. Toh PDIP sudah pernah jadi oposan dan pernah jadi pemenang.
Akan lebh baik segera deklrasikan Puan Maharani sehingga pemilih captive PDIP yang dikisaran 20 % jadi lebih tahu dan mensosialisasikannya.
Untuk Cawapresnya ada 5 figur yang layak dan bisa menutupi kekurangan Puan yakni Jend. Andhika Perkasa, Jend Budi Gunawan dan Jend Tito Karnavian. Dari kalangan sipil ada Muhamimin Iskandar dan Mahfud MD.
Meski lebih pas duet Puan dan Budi Gunawan.
Bagaimana menurut anda?






