Kendari – Tim Operasi Gabungan Pengamanan Kawasan Hutan yang terdiri dari Balai Gakkum Wilayah Sulawesi, Polda Sultra, Kejati Sultra serta KPH Laiwoi Utara menghentikan aktivitas tambang nikel ilegal di Desa Mandiodo Kecamatan Molawe, Konawe Utara, Kamis (11/8/22).
Pada kesempatan itu Tim juga menahan 11 orang pelaku dan mengamankan 4 unit ekskavator serta 2 kendaraan double cabine yang diduga digunakan untuk melakukan aktivitas penambangan nikel secara ilegal.
Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Sulawesi, Doddy Kurniawan mengatakan bahwa saat ini pihaknya masih memeriksa dan mengambil keterangan dari 11 orang tersebut.
“KLHK berkomitmen dan serius untuk menegakkan hukum lingkungan hidup dan kehutanan. Kami akan menindak tegas pelaku kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan, biar ada efek jera,” kata Dodi Kurniawan dalam siaran persnya, Jum’at (12/8/22).
Lebih lanjut Dodi Kurniawan mengatakan bahwa penanganan pelaku menunjukkan bukti keseriusan dan komitmen pemerintah untuk menegakkan hukum dan menindak pelaku pertambangan ilegal.
Sementara itu, Plt Direktur Pencegahan dan Pengamanan LHK – Polhut Ahli Utama, Sustyo Iriyono, menegaskan kejahatan pertambangan ilegal, termasuk nikel merupakan kejahatan luar biasa dan terorganisir.
“Pasti banyak pihak lainnya yang terlibat, termasuk pihak-pihak yang mendanai dan membeli hasil tambang ilegal. Kami akan terus memburu aktor intelektual di balik kasus ini. Kami ingatkan kembali para pelaku kejahatan lingkungan dan kehutanan, khususnya pelaku tambang illegal, kami tidak akan berhenti untuk menindak pelaku kejahatan yang mendapatkan keuntungan pribadi di atas kerusakan lingkungan, penderitaan masyarakat serta kerugian negara. Pelaku kejahatan seperti ini telah mengorbankan banyak pihak untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan melanggar hukum”, tegas Sustyo.
Sebelumnya, kegiatan operasi ini berawal dari informasi masyarakat terkait aktivitas penambang nikel dalam kawasan Hutan Produksi Terbatas di Desa Mandiodo, Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Berdasarkan informasi tersebut, Tim bergerak ke lapangan dan menemukan adanya 4 ekskavator yang diduga digunakan untuk menambang nikel secara illegal dan 2 kendaraan double cabine.
(Red)






