Eks Pejabat BUMN Serukan Perang Semesta Melawan Dinasti Jokowi

News, Politik, Sosial29 Views

Jakarta, PBSN – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu menyatakan siap melakukan “perang semesta” melawan “Dinasti Solo”.

Menanggapi hal ini, pengamat sosial-politik, Sutoyo Abadi menilai pernyataan Muhammad Said Didu merupakan bentuk perlawanan politik yang semakin terbuka terhadap pengaruh Jokowi dan keluarganya dalam percaturan politik nasional.

Dalam keterangan tertulis yang dikutip PBSN, Senin (22/6/2026), Sutoyo menyebut Indonesia saat ini membutuhkan sosok negarawan yang memiliki keberanian, kecerdasan, serta kemampuan strategi untuk menghadapi berbagai persoalan bangsa yang dinilainya semakin kompleks.

Menurutnya, kondisi saat ini menuntut adanya keberanian masyarakat untuk bersikap terhadap berbagai kebijakan dan dinamika politik yang dianggap menyimpang dari cita-cita reformasi.

Sutoyo mengutip pernyataan Said Didu yang menyebut “Dinasti Solo” sebagai musuh bersama yang harus dilawan melalui gerakan rakyat secara luas. Ia juga mengingatkan bahwa istilah “musuh bersama” terhadap Jokowi pernah disampaikan oleh Letjen TNI (Purn) Suharto dalam sebuah dialog televisi pada 2025 yang membahas dinamika politik terkait Gibran Rakabuming Raka.

Menurut Sutoyo, muncul sejumlah pertanyaan mendasar terkait efektivitas gerakan perlawanan terhadap apa yang disebut sebagai dinasti politik tersebut, mulai dari strategi perjuangan, langkah hukum yang dapat ditempuh, hingga posisi lembaga-lembaga negara yang dinilai masih memiliki kedekatan dengan kekuatan politik warisan pemerintahan sebelumnya.

Ia juga menyoroti hubungan politik antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Sutoyo mengingatkan bahwa Prabowo pernah secara terbuka menyatakan akan membela Jokowi apabila ada pihak yang dianggap mengganggunya. Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam acara Rapimnas Partai Gerindra pada Agustus 2024.

“Perang melawan dinasti Jokowi pada akhirnya harus memperhitungkan posisi Presiden Prabowo Subianto. Karena itu, harus jelas siapa kawan dan siapa lawan dalam peta politik yang sedang berkembang,” beber Sutoyo.

Sutoyo menilai berbagai bentuk kritik, pernyataan sikap, maupun surat terbuka yang selama ini muncul akan kehilangan daya tekan apabila tidak disertai langkah-langkah nyata yang sesuai dengan mekanisme demokrasi dan hukum yang berlaku.

Menurut Sutoyo, keberanian masyarakat untuk menyuarakan kritik merupakan faktor penting dalam kehidupan demokrasi. Ia berpendapat bahwa ketakutan untuk bersikap justru dapat memperkuat pihak yang dianggap menyalahgunakan kekuasaan.

Di akhir tulisannya, Sutoyo memberikan apresiasi terhadap sikap Said Didu yang dinilainya berani menyuarakan kritik terhadap kekuatan politik yang dianggapnya bermasalah. Ia berharap semakin banyak elemen masyarakat yang terlibat dalam pengawasan terhadap jalannya pemerintahan dan kehidupan demokrasi di Indonesia.

“Apapun keadaannya, semangat perlawanan terhadap ketidakadilan harus tetap hidup. Masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan kritik dan mengawal jalannya demokrasi,” ulasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *