Orang BRIN Bertanya, Apa Kepakaran Saya?

News, Opini313 Views

Pontianak, PBSN – Malam minggu kita ngerumpi yang ringan-ringan ya. Jangan soal perang melulu. Saya nak cerita habis diwawancarai orang BRIN. Simak ceritanya sambil seruput kopi latte di Nordu 2 Jl. Ujung Pandang Pontianak.

Jumat siang kemarin, jam dua kurang delapan menit. Matahari Pontianak sedang marah-marah tanpa alasan, mungkin karena pagi tadi tak ada yang mengucapkan selamat. Saya meluncur ke sebuah kafe di Jalan Nusa Indah 1, tempat semua teori pertemuan absurd bisa terjadi. Kenapa saya ke sana? Karena seorang dosen IAIN bernama Faizal Amin, yang juga anggota Satupena (komunitas penulis, bukan sekte spiritual), mengirimkan pesan singkat namun mengguncang fondasi epistemologi saya, “Ada orang BRIN mau ketemu abang.”

BRIN. Ya, BRIN! Badan Riset dan Inovasi Nasional. Lembaga yang katanya bisa menciptakan drone, vaksin, dan mungkin juga bisa bikin mantan kembali, kalau diberi dana cukup. Saya langsung berpikir, apakah saya sudah terlalu viral hingga layak diteliti? Atau, apakah tulisan saya selama ini telah menyentuh ranah eksperimen sosial nasional? Apa pun itu, saya tak punya pilihan selain datang dengan dada membusung seperti mahasiswa yang baru dapat acc Bab 1.

Sesampainya di kafe, saya pesan kopi tanpa gula. Gula hanya mempermanis rasa, bukan nasib. Saya duduk, memandangi setiap orang yang masuk seperti detektif yang kehilangan lisensi. Tak lama, seorang ibu berhijab masuk. Duduk tak jauh. Saya pikir, “Bukan. Orang BRIN pasti cowok. Harus cowok. Bertampang teoritis dan bawa tas ransel isinya laptop”

Tiba-tiba WA saya berbunyi. “Saya sudah di kafe.” Nama pengirim tak tersimpan. Ini dia. Ini pasti dia. Jangan-jangan… ibu tadi?

Dengan degup jantung 89 bpm, angka yang biasa muncul saat disuruh presentasi tanpa persiapan, saya menyapa. Benar. Ibu itu orang BRIN. Namanya Ana Windarsih. Jabatan? Saya tak tanya. Takut jawabannya bikin saya insecure, semacam “Peneliti Utama Perilaku Manusia Lintas Dimensi dengan Kode QR Terintegrasi”.

Dia mau wawancarai saya. Topiknya absurd juga, perilaku orang Pontianak. Saya langsung ingat, belum ada teori yang cukup mampu menjelaskan kenapa orang Pontianak suka ngopi. Jam tiga subuh pun ada warkop yang sudah buka.

Tak lama, Faizal datang. Dia menjelaskan, Bu Ana ingin mewawancarai orang yang menulis realitas Kalbar dan Indonesia secara rutin. Saya katanya cocok. Padahal saya menulis sesuka hati. Politik, ekonomi, kriminal, olahraga, bahkan kasus nyeleneh pun tak luput dari ulasan saya.

Bu Ana lalu bertanya, “Apa kepakaran Bapak?”

Saya diam. Dunia diam. Kucing di seberang jalan juga ikutan freeze. Kepakaran? Saya merasa ditampar dengan kata yang paling tidak saya persiapkan sejak lulus kuliah. Saya menjawab sekenanya, “Saya pakar menulis.”

Tapi beliau ingin tahu kepakaran akademik saya. Ya Allah. Kalau saya jawab sosiologi, nanti ditanya soal Talcott Parsons. Kalau jawab ekonomi, nanti dikira ngerti BI Rate. Kalau jawab politik, nanti dikira buzzer. Kalau jawab filsafat, takutnya saya dikira menentang Tuhan. Maka saya hanya bisa menjawab, “Saya ini…pakar apa sih sebenarnya.”

Saya jelaskan, saat di kelas, sering menantang mahasiswa, “Silakan tanya apa saja. Politik global, sejarah Yahudi, geopolitik Asia Timur, ekonomi Islam, budaya, filsafat eksistensialis, sain dan teknologi, bahkan soal cinta beda agama. Saya akan jawab semua. Kalau tak tahu, saya buat seolah-olah saya tahu. Tanya apa saja, silakan.”

Bu Ana tertawa. Bukan karena lucu, tapi karena tak tahu harus menangis atau lapor ke BRIN pusat.

Selanjutnya, “Saya ini bukan ilmuwan. Saya ini seperti keranjang pasar. Semua dimasukin. Tapi bisa berguna. Saya bisa menulis soal BBM naik, korupsi merajalela, kemunafikan politisi, dan juga soal kenapa ibu-ibu pakai daster ke warung jam 6 pagi. Saya bisa menulis tragedi nasional dan juga meme TikTok. Bahkan, kalau disuruh menulis soal cinta sejati, siapa takut.”

Di titik ini saya sadar, kepakaran itu mitos yang diciptakan oleh dunia akademik agar manusia merasa superior dalam satu hal dan bego dalam hal lain.

Padahal hidup ini luas. Satu orang bisa tahu banyak, meski tak mendalam. Itu bukan kelemahan. Itu kelebihan.

Jadi ketika Bu Ana bertanya, “Apa kepakaran Anda?” Saya harusnya jawab dengan lantang, “Saya adalah pakar dalam menjadikan hal-hal tak penting terasa penting. Saya adalah pakar menulis dengan rasa. Pakar merangkai realitas jadi cerita. Pakar menjadikan absurditas sebagai ilmu terapan. Yang paling penting, saya adalah pakar membuat orang berpikir bahwa saya pakar, padahal saya hanya sedang ngopi.”

Begitulah, wak. Kepakaran bukan soal gelar. Tapi soal bagaimana kita menjadikan hidup sebagai laboratorium yang tak pernah tutup.

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *