Luar Biasa Pendirian Roy Suryo, Tak Mau Minta Maaf ke Jokowi

Uncategorized289 Views

Jakarta, PBSN – Roy Suryo, patut dipuji, bila perlu diteladani. Terutama untuk keteguhan hati dan konsistensi. Tetap bersikukuh, tak mau minta maaf sama Jokowi.

Bisa dikatakan, Roy Suryo sedang mencoba naik level, konsistensi keras kepala yang hampir legendaris. Cerita ini bermula ketika polemik ijazah yang menyeret nama Joko Widodo mulai menunjukkan tanda-tanda menuju babak damai. Seorang peneliti yang sebelumnya ikut berada di pusaran kontroversi, Rismon Sianipar, datang langsung ke Surakarta.

Ia bertemu Jokowi.
Ia meminta maaf.
Ia menyebut ada kekeliruan dalam analisisnya.

Plot cerita yang biasanya menjadi klimaks film keluarga, semua berdamai, musik lembut dimainkan, kamera zoom out, lalu selesai. Namun politik Indonesia tidak pernah semudah itu.

Di saat sebagian orang mulai melihat tanda-tanda damai, Roy Suryo justru muncul dengan sikap yang bisa membuat para jenderal Paman Sam mengangguk hormat. Ia menolak ikut dalam skenario damai tersebut.

Dengan nada yang terdengar seperti komandan perang yang baru selesai memeriksa pasukan, Roy menyatakan dengan tegas, dirinya tidak membutuhkan permintaan maaf dari siapa pun.

“Nggak perlu ditawar-tawar dan saya nggak butuh maafnya. Saya nggak usah lah Restorative Justice ala Solo ini, ngaco, nggak usah,” tegas Roy. Luar biasa, wak!

Kalimat itu meluncur seperti petir di langit diskusi publik. Nuan bayangkan situasinya! Seorang kawan polemik sudah datang meminta maaf, suasana mulai adem, pintu perdamaian terbuka, bahkan pesan terbuka disampaikan dari pihak Jokowi.

Namun Roy berdiri di tengah panggung sambil berkata, kurang lebih gini, “Terima kasih, tapi saya tidak ikut paket damai ini.”

Tidak banyak orang yang punya keberanian model begini. Dalam dunia politik modern, ketika badai datang, sebagian orang biasanya segera mencari payung, jas hujan, atau minimal berteduh di bawah pohon.

Roy Suryo tampaknya memilih berdiri di tengah hujan sambil berkata, “Silakan hujannya lanjut.”

Ia juga menegaskan, pendiriannya tidak akan bergeser sedikit pun. Dukungan dari kalangan akademisi, profesor, dan doktor yang berada di belakangnya membuat ia merasa semakin mantap.

“Saya tidak akan bergeser, apalagi sudah didukung dengan banyaknya ahli-ahli, tidak hanya ahli biasa, ada profesor, doktor, dan juga lain-lain yang ada di belakang kami,” tegas eks Menpora ini.

Kalimat itu membuat polemik ini berubah seperti pertandingan tinju yang sudah masuk ronde tambahan. Menurut Roy, permintaan maaf dari Rismon tidak akan mempengaruhi apa pun dalam polemik tersebut.

Dengan gaya yang hampir filosofis, ia menutup pernyataannya dengan doa. “Saya berdoa saja, ini bulan suci Ramadan, dia dapat hidayah lah dan tercerahkan nanti kemudian sadar.”

Sementara itu, dari sisi lain cerita, Rismon mengatakan, Jokowi menyampaikan pesan terbuka kepada pihak lain yang masih terlibat dalam polemik tersebut, termasuk Roy Suryo dan Dokter Tifa.

Pintu katanya masih terbuka. Namun dalam drama politik kelas premium ini, Roy tampaknya memilih tidak berjalan menuju pintu itu. Ia berdiri di tempatnya. Tegak. Tidak bergeser.

Di saat kawan seperjuangan sudah memilih jalur damai, Roy justru tampil seperti karakter film epik yang berkata, pertempuran belum selesai. Apakah ini keras kepala? Apakah ini konsistensi tingkat dewa? Apakah ini episode baru dari serial politik paling absurd di republik ini?

Yang jelas, satu hal sulit dibantah. Di zaman ketika banyak orang mudah berubah arah seperti kompas dekat magnet, Roy Suryo memilih tetap menghadap ke arah yang sama. Bagi sebagian penonton politik Indonesia, pemandangan itu terasa… luar biasa.

“Hebat juga si Roy ya, imannya kuat. Cuma, kalau ia sempat berdamai, habislah cerita ijazah palsu, Bang.”

“Kalau ia memilih damai, pasti habis ceritanya. Tapi, tak mungkin juga Roy melakukan pengkhiatan, Ups

 

 

 

 

Rosadi Jamani