IMAM BESAR ISTIQLAL: PENTINGNYA MURID BIOLOGIS DAN SPIRITUAL

Uncategorized443 Views

Jakarta – Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr KH. Nasaruddin Umar mengatakan bahwa dalam ajaran agama Islam, hidup ini bagaikan proses tahapan dari satu kamar ke kamar lain.

“Kita mulai berada di alam ruh, kemudian berpindah ke alam Rahim ibu kita, terus ke alam dunia fana ini, dan ketika kita mati, kita berpindah ke alam kubur, dan terakhir di alam akhirat yang abadi, kata Nasaruddin Umar, ketika mengawali tausiyahnya di hadapan keluarga besar Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yang mengadakan malam tausiyah dan berdoa atas wafatnya H. Muhammad Amrah, mertua Profesor Hafid Abbas melalui Zoom dan YouTube KKSS, Jum’at malam (15/4/22).

Kata dia, jiwa atau ruh bagi orang yang sudah wafat itu selalu memungkinkan berkomunikasi dengan keluarga atau ahli warisnya.

“Terutama anak-cucunya yang memiliki ketajaman spiritual, yakni anak-anak yang saleh, yang selalu mendoakan kedua orang tuanya,” ujarnya lagi.

Lanjut Ketua Harian Badan Pengelola Masjid Istiqlal ini, penjelasan tentang hubungan spiritual bagi orang mati dengan kitta yang masih hidup, dapat dipahami dalam tradisi kita yang setiap saat mendoakan Nabi Muhammad SAW, sebagai penganut mazhab “Ahlussunnah wal-Jamaah.

”Di mana kita telah ketahui dan percaya beberapa ulama yang telah mencapai maqam wali itu dapat berkomunikasi dengan Nabi kita, Muhammad Saw,” terang Imam Besar.

Adapun makna dari kata “tausiyah” itu jelas dia, adalah hiburan. Kita berkumpul secara online untuk saling menasihati dan berdoa untuk Almarhum sebagai bentuk hiburan untuk Almarhum dan keluarganya. Kita dapat mengenal sosok Almarhum sebagai seorang guru yang telah memiliki banyak murid atau anak-anak intelektual dan spiritual. Itu adalah warisan amal jariyah yang tidak akan putus bagi Almarhum.

“Ada pesan orang bijak, janganlah engkau mati sebelum memiliki anak spiritual. Anak-anak yang akan selalu mendoakan kita, baik anak biologis maupun anak spiritual, karena itu, rajinlah mendoakan orang tua kita,” pesan Profesor Nasaruddin.

Terakhir kata dia, kita semua berharap dan yakin bahwa Almarhum itu wafat secara khusnul khotimah.

“Wafat di bulan suci Ramadhan yang didambakan oleh semua orang Muslim, dan kita disunatkan membicarakan kebaikan orang-orang yang telah wafat, dan kita selalu percaya bahwa Allah itu maha pemaaf dan penyayang. Insha Allah Almarhum dijemput oleh para Malaikat di pintu Surga. Aamiin,” pungkas Profesor Nasaruddin Umar.

(M. Saleh Mude)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *