Jakarta, PBSN – Ada satu spesies selalu diremehkan penguasa Indonesia dari zaman ke zaman. Bukan oposisi. Bukan partai politik. Bukan influencer TikTok yang jualan affiliate sambil ngomong demokrasi. Spesies itu bernama mahasiswa.
Makhluk ini unik. Dompetnya tipis, tugasnya tebal. Makan kadang mi instan, minum kopi sachet, tidur tiga jam sehari, tapi punya hobi membuat penguasa berkeringat dingin, bertanya terlalu banyak.
Hari ini, Sabtu 20 Juni 2026, mahasiswa kembali turun ke jalan. Di Jakarta, mahasiswa dari Trisakti, Esa Unggul, Mercu Buana, HMI, hingga UGM memadati kawasan DPR/MPR dan Patung Kuda. Mereka menuntut pemulihan ekonomi, turunkan Pertamax, evaluasi total Program MBG, penolakan UU Polri, penolakan militerisme di ranah sipil, hingga kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah.
Di Surabaya dan Banjarmasin, mahasiswa menyuarakan keresahan ekonomi. Di Banyuwangi, sekitar 200 mahasiswa sampai mengirim surat tuntutan ke rumah Ketua DPRD karena kecewa pejabat yang ditunggu tak kunjung muncul. Ini sudah seperti pelanggan galak yang mencari pemilik warung karena pesanan tak kunjung datang. Di Kendari, demonya ricuh.
Lalu muncullah babak lebih menarik.
Ketika mahasiswa bergerak, tiba-tiba lahir aksi tandingan. Di Malang dan Pontianak, ribuan pendukung MBG dari kalangan pengusaha, UMKM, petani, dan relawan menggelar apel akbar. Mereka mengenakan pakaian putih, membawa poster bertuliskan “Prabowo Baik”, mendukung penuh MBG, dan menolak penghentian program tersebut.
Di sinilah naluri politik liar mulai bekerja.
Kalau tujuannya menyampaikan dukungan kepada pemerintah, silakan. Demokrasi memang memberi ruang bagi semua pihak. Tetapi kalau tujuannya untuk menandingi gerakan mahasiswa, ini seperti menantang ikan hiu berenang di laut sambil membawa pelampung bebek.
Salah pilih lawan
Mahasiswa itu tidak bergerak karena kontrak. Mereka tidak turun ke jalan karena ada surat tugas. Mereka tidak bangun pagi karena honor kegiatan cair. Mereka bergerak karena marah. Orang marah jauh lebih sulit dihentikan dibanding orang yang sedang bekerja atau dibayar nasbung karet dua.
Inilah yang sering gagal dipahami para ahli strategi politik yang mungkin terlalu lama melihat survei dan terlalu jarang melihat kantin kampus. Mereka mengira mahasiswa bisa dihadapi dengan metode mobilisasi massa.
Padahal sejarah Indonesia sudah berkali-kali memberi tutorial gratis. Orde Lama tumbang, mahasiswa ada di depan. Orde Baru tumbang, mahasiswa juga ada di depan. Setiap kali kekuasaan mulai merasa dirinya abadi, mahasiswa selalu muncul seperti notifikasi sistem tidak bisa di-skip.
Yang lucu, mahasiswa selalu dituduh sama. Katanya ditunggangi oligarki. Katanya ada sponsor besar. Katanya ada Soros. Katanya ada kekuatan asing, antek asing.
Padahal sebagian besar mahasiswa yang turun ke jalan masih bingung membagi uang antara fotokopi materi kuliah atau membeli ayam geprek level lima. Kalau benar mereka dibiayai kekuatan global, minimal demonstran sudah datang naik Alphard, makan di restoran mewah, atau bagi-bagi amplop usai demo.
Masalah terbesar bagi penguasa bukanlah mahasiswa yang turun hari ini. Masalah sebenarnya adalah efek domino. Karena setiap upaya melawan gerakan mahasiswa sering menghasilkan satu hal yang tidak diinginkan, solidaritas.
Mahasiswa yang tadinya diam jadi ikut bergerak. Kampus yang tadinya netral mulai bersuara. Organisasi yang biasanya sibuk rapat internal tiba-tiba menemukan musuh bersama. Semakin ditekan, semakin rapat barisan mereka.
Nuan byangkan bila seluruh mahasiswa Indonesia benar-benar kompak. Dari Aceh sampai Papua. Dari kampus negeri sampai kampus swasta. Dari organisasi ekstra sampai BEM kampus.
Itu bukan demonstrasi lagi. Itu sudah seperti patch update nasional yang memaksa seluruh sistem politik melakukan restart.
Karena itu, kalau ada yang berpikir gerakan mahasiswa bisa dikalahkan dengan demo tandingan, mungkin perlu membuka kembali buku sejarah yang sudah berdebu di rak perpustakaan.
Mahasiswa cuma takut dua hal, nilai E dan dosen pembimbing yang berkata, “Besok revisi lagi.”
Selain itu? Mereka relatif sulit ditakut-takuti. Tak bisa dihadang dengan warter canon, kawat berduri, gas air mata. Ketika mereka sudah parah, jangan sampai ada yang kabur ke luar negeri lagi.
Itulah sebabnya, sejak republik ini berdiri, tidak pernah ada penguasa yang benar-benar menang melawan mahasiswa. Yang ada hanya penguasa yang terlambat menyadari, suara paling keras di negeri ini sering kali berasal dari anak-anak muda yang datang membawa spanduk kusut, toa rusak, dan sebotol air mineral. Namun anehnya, selalu berhasil membuat istana mendengar.
“Bang, di Bundaran Untan tadi ada juga emak-emak demo dukung MBG.”
“Biarkan saja. Kita tetap gelar tikar sambil ngopi.
Rosadi Jamani
