Aceh, PBSN Indonesia – Ada kepala sekolah yang prestasinya bikin bangga, ada pula prestasinya bikin pohon gemetar, guru naik darah, murid mogok belajar, dan netizen mendadak ingin kuliah kehutanan. Inilah Laina Fariyani, SE MM, Kepala SMAN 1 Simpang Ulim, Aceh Timur, yang baru delapan bulan menjabat setelah sebelumnya memimpin SMAN 1 Ranto Peureulak.
Belum genap setahun, ia sudah bikin gebrakan luar biasa. Pohon-pohon berumur 10–15 tahun ditebang habis menggunakan alat berat. Taman rindang berubah menjadi lapangan terbuka yang panasnya bisa dipakai memanggang ikan, mengeringkan kerupuk, sekaligus menguji iman siswa yang belajar pukul 12 siang.
Alasannya? Katanya atas perintah Cabdin, akar pohon dikhawatirkan merusak fondasi, menyumbat parit, dan menghalangi rencana pembangunan lapangan futsal.
Waduh, pohon mendadak jadi musuh negara! Belasan tahun memberikan keteduhan, menyaring udara, dan menurunkan suhu sekolah, akhirnya dihukum mati tanpa pengadilan. Beko datang, pohon tumbang, masalah dianggap selesai. Kalau ada pohon menghalangi jalan, mengapa bukan tata letaknya dievaluasi? Ini sekolah, bukan arena perang melawan bangsa pepohonan!
Tenang, katanya pohon akan diganti dengan mangga, rambutan, dan kelapa. Mungkin bibit-bibit itu bisa langsung tumbuh setinggi gedung dalam semalam. Besok pagi siswa tinggal memetik rambutan sambil berteduh. Kalau perlu, tanam pohon ajaib yang bisa tumbuh sebelum bel masuk berbunyi!
Padahal pohon berumur 10–15 tahun tidak bisa diganti begitu saja dengan bibit baru. Menanam pohon bukan seperti mengganti kursi plastik yang patah. Ada fungsi ekologis yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terbentuk.
Belum selesai urusan pepohonan, muncul pula persoalan yang lebih panas dari halaman sekolah. Seorang guru senior sudah mengabdi selama 23 tahun disebut “idiot” di hadapan siswa.
Dua puluh tiga tahun mengajar! Mungkin guru itu sudah mendidik murid sejak sebagian muridnya belum lahir. Namun, pengabdian panjang seolah bisa diringkas menjadi satu kata sangat tidak pantas keluar dari mulut seorang pemimpin pendidikan.
Ketika para guru datang meminta penjelasan, sang kepala sekolah justru dikabarkan asyik bermain HP. Ini luar biasa! Guru datang membawa persoalan, yang diajak bicara malah layar ponsel. Barangkali sinyal internet dianggap lebih penting dari sinyal bahaya dari ruang guru.
Kalau begini, rapat sekolah tidak perlu meja dan kursi. Cukup buat grup WA, kirim keluhan, lalu tunggu centang biru sampai pensiun!
Siswa kemudian berdemo dan mogok belajar karena mempersoalkan keputusan dianggap sepihak. Namun, aksi mereka disebut akibat provokasi. Lho, kalau murid mengeluh disebut terprovokasi, guru menasihati disebut apa? Pohon-pohon yang tumbang itu jangan-jangan juga dituduh bersekongkol menggagalkan proyek futsal!
Foto sang kepala sekolah berpose di atas beko ketika penebangan berlangsung ikut menjadi bahan olok-olok netizen. Pose mungkin dimaksudkan sebagai dokumentasi pekerjaan malah terlihat seperti kemenangan manusia atas keteduhan.
Akhirnya, Cabdin menunjuk pelaksana harian (Plh) dan menghentikan tugas hariannya. Namun, belum ada mutasi permanen. Sang diktator sekolah itu akhirnya dicopot. Seluruh guru dan siswa tepuk tangan dan lega.
Semoga persoalan ini menjadi pelajaran. Kepala sekolah bukan raja hutan, guru bukan pesuruh, dan murid bukan robot hanya boleh duduk diam.
Pohon tumbang masih bisa ditanam kembali, tetapi kepercayaan guru dan murid yang telanjur tumbang belum tentu bisa tumbuh lagi. Kalau dinasihati guru malah sibuk main HP, mungkin perlu di-reset bukan ponselnya, melainkan cara berpikirnya!
“Itu baru Kepsek, gimana kalau jadi presiden, habis semua hutan dibabatnya, Bang.”
“Kepsek koplak. Katanya punya backing kuat, ternyata cupu di mata siswa.
Rosadi Jamani
